SulawesiPos.com – Amerika Serikat melancarkan gelombang baru serangan terhadap sistem pertahanan udara, fasilitas rudal, infrastruktur militer, dan armada laut Korps Garda Revolusi Islam Iran di sejumlah wilayah Iran sejak Minggu malam hingga Senin, 12–13 Juli 2026, atas perintah Presiden Donald Trump dengan alasan mengurangi kemampuan Teheran menyerang kapal dagang di Selat Hormuz, sementara Iran membalas dengan serangan ke fasilitas militer AS di kawasan dan menuduh Washington melanggar kesepakatan penghentian konflik, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Republik Islam Iran (IRNA) pada Senin (13/7/2026).
Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan operasi tersebut ditujukan untuk melindungi pelaut sipil dan kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz setelah pasukan Iran dituduh menembaki serta mengganggu sejumlah kapal di jalur perdagangan energi strategis itu.
Seorang pejabat Amerika kepada ABC News mengatakan serangan terbaru menyasar sistem pertahanan udara dan kapal-kapal Garda Revolusi di sekitar Selat Hormuz serta tidak menyebabkan korban luka di pihak pasukan AS.
Associated Press melaporkan sasaran Amerika meliputi sistem rudal, pertahanan udara, fasilitas pesawat nirawak, dan kemampuan angkatan laut Iran yang dinilai dapat digunakan untuk mengancam pelayaran komersial.
CENTCOM sebelumnya mengumumkan telah menyerang lebih dari 80 sasaran di Iran pada 7 Juli dan sekitar 90 sasaran tambahan sehari kemudian, termasuk sistem pengawasan pantai, lokasi penyimpanan rudal dan pesawat nirawak, fasilitas logistik, serta kemampuan angkatan laut.
Laporan terbaru Reuters menyebut jumlah keseluruhan sasaran Iran yang dihantam Amerika dalam rangkaian operasi tersebut telah melampaui 300 titik, meskipun rincian kerusakan dan jumlah korban dari kedua pihak belum dapat diverifikasi secara menyeluruh.
Khuzestan hingga Pesisir Teluk Persia Diguncang Serangan
Pejabat Provinsi Khuzestan melaporkan proyektil menghantam sejumlah lokasi di Ahvaz, Omidiyeh, Mahshahr, Behbahan, Dezful, Andimeshk, Abadan, dan kawasan sekitar Shadegan, tetapi menolak laporan bahwa Bandar Udara Ahvaz terkena serangan.
Wakil Gubernur Khuzestan bidang keamanan Valiollah Hayati mengatakan tim pemerintah masih memeriksa kawasan terdampak untuk mengetahui skala kerusakan dan kemungkinan korban.
Media pemerintah dan kantor berita Iran juga melaporkan suara ledakan di Bandar Abbas, Sirik, Qeshm, Jask, Bushehr, Kangan, Khorramshahr, serta Chabahar, tetapi banyak laporan awal hanya didasarkan pada suara ledakan dan belum disertai bukti mengenai sasaran maupun kerusakannya.
Seorang pejabat Provinsi Hormozgan mengatakan belum ada laporan korban jiwa atau kerusakan pada permukiman warga saat informasi awal serangan dihimpun.
Media Iran melaporkan sebuah menara telekomunikasi di sekitar Desa Tahroui, Kabupaten Sirik, terkena serangan, sedangkan kabar mengenai pangkalan udara Dezful, terminal perbatasan Chazabeh, dan beberapa fasilitas lain belum memperoleh konfirmasi independen.
Dua ledakan juga dilaporkan terjadi di luar wilayah perkotaan Khondab, Provinsi Markazi, yang dikenal sebagai lokasi reaktor air berat Arak, tetapi tidak terdapat laporan terverifikasi bahwa instalasi nuklir tersebut menjadi sasaran.
Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan dugaan pengaktifan pertahanan udara di Kermanshah dan suara pesawat tempur di Isfahan, namun pemerintah Iran belum mengeluarkan penjelasan resmi mengenai sasaran di kedua wilayah tersebut.
Iran dan Amerika Berebut Klaim atas Selat Hormuz
Di tengah serangan udara, Garda Revolusi Iran menyatakan seluruh kapal asing di Selat Hormuz berada dalam pengawasannya dan akan diperingatkan apabila memasuki perairan teritorial Iran tanpa izin.
CENTCOM sebaliknya menuduh pasukan Iran menembaki kapal komersial serta mengatakan pesawat Amerika berhasil mencegat sebuah rudal jelajah dan satu pesawat nirawak serang yang diarahkan ke pelayaran sipil.
Presiden Trump menegaskan Selat Hormuz tetap terbuka bagi lalu lintas komersial, sedangkan Iran menyatakan jalur tersebut ditutup bagi kapal yang tidak memperoleh persetujuannya.
Data pelacakan kapal Kpler yang dikutip Reuters menunjukkan hanya enam kapal melintasi Selat Hormuz pada Minggu, jumlah terendah dalam lima pekan, sementara tidak ada kapal pengangkut gas alam cair yang terdeteksi melewati kawasan itu sepanjang akhir pekan.
Sebagian kapal yang tetap berlayar dilaporkan mematikan sistem identifikasi otomatisnya ketika memasuki kawasan berisiko tinggi, sebuah tindakan yang dapat mengurangi keterbukaan posisi kapal tetapi sekaligus meningkatkan risiko tabrakan dan kesalahan identifikasi.
Amerika menyatakan sekitar 20 kapal dagang telah melintasi selat tersebut dengan koordinasi militer AS dalam 24 jam sebelumnya, sedangkan beberapa kapal lain berlayar tanpa koordinasi langsung.
Perselisihan itu memperlihatkan bahwa pusat konflik Washington–Teheran telah bergeser dari sekadar program nuklir menuju perebutan kewenangan dan kebebasan navigasi di salah satu jalur energi terpenting dunia.
Teheran Menuduh Washington Melanggar Kesepakatan
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam serangan tersebut sebagai tindakan agresi dan pelanggaran Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dianggap menghancurkan upaya penurunan ketegangan selama beberapa bulan terakhir.
Teheran menyatakan Amerika telah melanggar hampir seluruh unsur kesepakatan sementara yang ditandatangani pada 17 Juni 2026, termasuk dengan menyerang infrastruktur transportasi dan fasilitas sipil, meskipun tuduhan itu belum diverifikasi secara independen.
Pemerintah Iran juga memperingatkan negara-negara kawasan bahwa setiap pangkalan atau wilayah yang digunakan untuk menyerang Iran dapat dianggap sebagai sasaran sah bagi tindakan pertahanan Teheran.
Amerika menyatakan serangannya merupakan respons langsung terhadap tindakan Garda Revolusi terhadap kapal dagang, sedangkan pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran tidak menyinggung secara khusus tuduhan serangan terhadap pelayaran sipil tersebut.
Iran kemudian melancarkan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah lokasi yang dikaitkan dengan pasukan Amerika di Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman, dan Yordania, sehingga memperbesar kekhawatiran bahwa konfrontasi bilateral dapat menyeret negara-negara Arab di sekitarnya.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres memperingatkan bahwa kembalinya perang berskala penuh akan membawa akibat yang sangat merusak bagi kawasan dan dunia, sementara Pakistan dan Qatar terus mendorong perundingan untuk menahan eskalasi.
Harga Minyak Melonjak, Pelayaran Global Terancam
Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari empat persen menjadi sekitar 79,31 dolar AS per barel pada perdagangan Senin, sedangkan minyak West Texas Intermediate naik menjadi sekitar 74,62 dolar AS per barel akibat kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi.
Selat Hormuz memiliki arti penting karena sebelum konflik menjadi jalur bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia, sehingga gangguan berkepanjangan berpotensi menaikkan biaya energi, pengiriman, asuransi, pangan, dan produksi industri di berbagai negara.
Kenaikan harga minyak turut menekan bursa saham Asia dan menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi global, sementara dolar Amerika menguat karena investor mencari aset yang dinilai lebih aman.
Ancaman terhadap pelayaran tidak hanya menyangkut negara penghasil minyak di Teluk Persia, tetapi juga konsumen energi besar di Asia, termasuk China, India, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Asia Tenggara.
Gangguan terhadap Hormuz juga dapat menaikkan ongkos angkutan laut karena perusahaan pelayaran harus membayar premi asuransi risiko perang yang lebih mahal atau menunda perjalanan hingga situasi keamanan membaik.
Washington Dinilai Enggan Memasuki Perang Tanpa Akhir
Analisis IRNA menyebut pemerintahan Trump tetap melancarkan serangan terbatas, tetapi dinilai tidak berminat kembali ke perang berskala penuh karena tingginya biaya ekonomi, tekanan politik domestik, dan belum jelasnya tujuan akhir operasi militer.
Sejumlah analis menggambarkan situasi tersebut sebagai “ketidakstabilan yang dikelola”, yakni kekerasan berulang tanpa mekanisme penyelesaian permanen tetapi tetap dijaga agar tidak berkembang menjadi perang total.
Perhitungan Washington juga dipengaruhi oleh mendekatnya pemilu paruh waktu Kongres, risiko kenaikan harga bahan bakar, serta kekhawatiran bahwa konflik panjang dapat merusak dukungan publik terhadap pemerintahan Trump.
Para pengamat menilai kemampuan militer Amerika untuk menimbulkan kerusakan besar terhadap Iran tidak diragukan, tetapi penggunaan kekuatan akan sulit menghasilkan keberhasilan strategis apabila Washington tidak menentukan tujuan politik yang realistis dan dapat dicapai.
Serangan penghukuman yang berlangsung tanpa titik akhir berisiko menjadi kebijakan tanpa jalan keluar karena dapat membebani Iran, tetapi tidak serta-merta menghasilkan kesepakatan politik yang bertahan lama.
Pilihan yang tersedia bagi Washington meliputi perundingan baru, pengembalian tekanan melalui sanksi ekonomi, pembatasan maritim, atau membiarkan konflik berada dalam keadaan “tidak perang dan tidak damai”.
Namun, tekanan ekonomi maupun pembatasan laut dapat kembali dibalas Iran melalui gangguan terhadap pelayaran di Selat Hormuz, sehingga menciptakan lingkaran aksi dan reaksi yang merugikan perekonomian kawasan serta dunia.
Skenario paling mungkin dalam waktu dekat adalah berlangsungnya serangan terbatas bersamaan dengan upaya diplomasi, tetapi kesalahan perhitungan, salah identifikasi sasaran, atau jatuhnya korban dalam jumlah besar dapat sewaktu-waktu mengubah konfrontasi terkendali menjadi perang yang lebih luas.
Hingga berita ini disusun, belum tersedia laporan resmi menyeluruh mengenai korban manusia dan kerusakan infrastruktur di Iran, sementara sebagian besar informasi lapangan masih berasal dari para pihak yang terlibat konflik dan memerlukan verifikasi independen lebih lanjut. (Ali)


