SulawesiPos.com – Veda Ega Pratama menutup Moto3 GP Jerman 2026 di Sachsenring, Minggu, 12 Juli 2026, dengan finis kedelapan. Hasil itu kembali menegaskan pola musim debut pembalap Honda Team Asia tersebut: cukup cepat untuk menembus zona poin, bahkan sesekali menyodok ke depan, tetapi belum cukup stabil untuk terus bersaing di barisan terdepan dari awal hingga akhir balapan.
Jika dihitung hingga GP Jerman, kalender Moto3 2026 sudah menuntaskan 11 seri. Dalam 11 putaran itu, Veda membukukan hasil:
- P5 di Thailand
- P3 di Brasil
- DNF di Amerika Serikat
- P6 di Jerez
- P4 di Prancis
- P8 di Catalunya
- P8 di Mugello
- P16 di Hungaria
- P5 di Cek
- DNF di Assen
- P8 di Jerman
Rangkaian hasil tersebut memperlihatkan dua wajah Veda dalam musim perdananya.
Di satu sisi, ia punya kecepatan dan keberanian bertarung. Podium di Brasil, finis keempat di Le Mans, serta comeback dari posisi ke-20 ke P5 di Brno menjadi bukti bahwa ia mampu menjaga ritme ketika langsung menemukan feeling dengan motornya.
Namun di sisi lain, hasilnya belum stabil dari pekan ke pekan, sehingga poin yang terkumpul belum cukup mendorongnya menjadi langganan grup terdepan.
Sering Memulai dari Belakang
Salah satu penyebab utama Veda belum konsisten di depan terlihat dari posisi start dan jalannya akhir pekan.
Di Catalunya ia harus merangkak dari posisi ke-20 untuk finis kedelapan. Di Mugello ia start dari kelompok tengah sebelum kembali finis P8.
Di Brno, ia terkena penalti grid hingga harus memulai balapan dari posisi ke-20 meski akhirnya sanggup bangkit ke P5.
Di Assen, ia bahkan harus melewati Q1 sebelum akhirnya gagal finis saat sedang menantang podium.
Pola seperti itu membuat Veda terlalu sering membuang energi untuk mengejar. Ketika ia memulai balapan dari belakang, tenaganya habis untuk memotong rombongan, mengelola ban, dan menghindari insiden di tengah pack.
Dalam kelas seketat Moto3, situasi itu membuat peluang menyerang podium pada lap-lap akhir menjadi jauh lebih kecil.
Masih Terganggu Penalti dan Insiden
Faktor lain yang menahan laju Veda adalah penalti dan gangguan balapan.
Ia gagal finis di COTA, sempat tersendat oleh long lap penalty di Hungaria, lalu kehilangan peluang besar di Assen setelah terlibat insiden ketika sedang berada dalam pertarungan podium.
Di GP Jerman, ia memang bangkit dengan finis kedelapan, tetapi hasil akhir itu tetap menunjukkan bahwa akhir pekan yang menjanjikan belum otomatis berubah menjadi pertarungan podium saat race day.
Musim ini juga memperlihatkan bahwa Veda lebih sering tampil kuat dalam recovery ride ketimbang mengendalikan balapan dari grup paling depan.
Itu bukan catatan kecil untuk rookie, tetapi juga menjelaskan mengapa ia belum mampu berdiri sejajar secara konsisten dengan nama-nama yang lebih sering menguasai bagian depan seperti Max Quiles, Brian Uriarte, dan Alvaro Carpe.
Bila ingin benar-benar masuk barisan pembalap terdepan, Veda perlu membuat akhir pekan yang rapi sejak latihan, mengamankan posisi start yang lebih baik, dan mengurangi balapan pemulihan dari tengah rombongan.


