SulawesiPos.com – Peringatan psikiater Amerika Serikat Dr. Henry David Abraham mengenai dugaan memburuknya kondisi kognitif Presiden Donald Trump dan potensi risikonya terhadap pengambilan keputusan strategis, termasuk penggunaan senjata nuklir.
Hal ini kemudian mendapat perhatian serius dari pakar psikologi Universitas Hasanuddin, Dr. Ichlas Nanang Afandi, S.Psi., M.A. Ia menilai, pengamatan tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai diagnosis klinis, tetapi layak dibaca sebagai alarm psikologis dan keamanan karena menyangkut seorang pemimpin yang memegang otoritas militer sangat besar.
Laporan mengenai pernyataan Abraham diterbitkan The Independent pada 3 September 2026, setelah ia mengatakan dalam wawancara dengan Dean Obeidallah bahwa kondisi yang diamatinya pada Trump menurut penilaiannya menjadi “lebih buruk” dibanding beberapa bulan sebelumnya.

Abraham merupakan salah seorang dari 36 dokter yang sebelumnya menyerukan penggunaan mekanisme Amandemen ke-25 dengan alasan kekhawatiran terhadap fungsi kognitif, penilaian dan pengendalian impuls Trump, meskipun kelompok tersebut secara terbuka mengakui tidak pernah melakukan pemeriksaan klinis langsung terhadap presiden.
Menurut Dr. Ichlas Nanang Afandi, S.Psi., M.A., Ketua Program Studi Psikologi Universitas Hasanuddin, persoalan ini harus ditempatkan secara hati-hati di antara dua prinsip, yakni larangan membuat diagnosis tanpa pemeriksaan langsung dan kewajiban masyarakat untuk tidak mengabaikan tanda-tanda risiko pada seorang pengambil keputusan dengan kekuasaan luar biasa besar.
“Saya melihat pernyataan Dr. Henry David Abraham bukan sebagai diagnosis klinis terhadap Donald Trump, tetapi sebagai alarm psikologis yang tidak patut diabaikan, sebab ketika pola perilaku seorang pemimpin berulang kali menimbulkan kekhawatiran dari ahli, sementara pemimpin itu memegang kendali atas keputusan yang dapat memengaruhi keselamatan jutaan manusia, dunia mempunyai alasan yang sah untuk meminta transparansi dan mekanisme pengawasan yang lebih kuat,” ujar Ichlas kepada SulawesiPos.com, Sabtu (5/9/2026).
Ia menambahkan bahwa dalam psikologi, observasi perilaku memang dapat menghasilkan hipotesis mengenai fungsi seseorang, tetapi kesimpulan mengenai gangguan mental atau neurokognitif tetap membutuhkan asesmen klinis, riwayat kesehatan, wawancara, pengujian psikologis serta pemeriksaan medis yang memadai.
Posisi itu sejalan dengan Goldwater Rule dari American Psychiatric Association yang menyatakan bahwa psikiater boleh menjelaskan masalah kejiwaan secara umum kepada publik, tetapi tidak etis memberikan opini profesional mengenai kondisi psikiatris seseorang tanpa pemeriksaan dan otorisasi yang tepat.
Kesaksian Ahli Bukan Vonis Klinis
Ichlas menjelaskan, pengamatan seorang ahli berpengalaman dapat mempunyai nilai penting sebagai indikator risiko, sebagaimana pendapat ahli dalam persidangan membantu hakim memahami aspek tertentu, tetapi analogi tersebut tidak berarti seorang ahli yang hanya mengamati dari jauh dapat menetapkan “vonis medis” terhadap seseorang.
Menurutnya, kekuatan utama pernyataan Abraham justru bukan terletak pada klaim diagnosis, melainkan pada pertanyaan apakah sistem politik Amerika Serikat memiliki mekanisme memadai untuk menilai kemampuan seorang presiden secara objektif ketika muncul kekhawatiran serius mengenai kesehatan, perilaku atau kapasitas pengambilan keputusannya.
“Dalam psikologi kita membedakan antara observasi, indikasi, asesmen, dan diagnosis; observasi dapat menjadi tanda awal bahwa sesuatu perlu diperiksa lebih jauh, tetapi tidak boleh langsung meloncat menjadi diagnosis, sehingga persoalan Trump seharusnya mendorong evaluasi yang transparan dan kredibel, bukan sekadar saling memberi label politik,” kata Ichlas.
Ia menilai konsep high-risk dalam kasus pemimpin politik sebaiknya dipahami sebagai gabungan antara kondisi individu, tingkat tekanan yang dihadapi, besarnya konsekuensi keputusan, serta kekuatan sistem pengawasan yang mengelilinginya.
Semakin besar dampak potensial sebuah keputusan, menurutnya, semakin penting keberadaan sistem checks and balances yang dapat mengurangi kemungkinan keputusan fatal dipengaruhi kemarahan, kebingungan, kelelahan, impulsivitas atau tekanan psikologis sesaat.
Pendekatan semacam ini juga digunakan dalam berbagai bidang keselamatan berisiko tinggi seperti penerbangan, kedokteran, industri nuklir dan militer, di mana kemampuan individu tidak pernah semata-mata diasumsikan tetapi didukung oleh pemeriksaan, prosedur, verifikasi serta pengawasan berlapis.
Mengapa Senjata Nuklir Membuat Isunya Jauh Lebih Serius
Kekhawatiran Abraham menjadi sangat sensitif karena Presiden Amerika Serikat memiliki otoritas untuk mengesahkan penggunaan senjata nuklir dalam kapasitasnya sebagai Commander in Chief, meskipun pelaksanaan perintah melibatkan sistem komando, komunikasi dan prosedur militer.
Bagi Ichlas, hal tersebut membuat isu kesehatan seorang presiden tidak lagi hanya menjadi persoalan privat ketika kondisi itu berpotensi memengaruhi keputusan strategis yang dampaknya dapat melampaui batas negara.

