SulawesiPos.com – Jejak bisnis nasi kuning tertua di Makassar masih bertahan di tengah derasnya pertumbuhan usaha kuliner modern. Nasi Kuning Mba Mun, warung sederhana di Jalan Rusa, tercatat sudah berjualan sejak 1948 dan tetap melayani pelanggan sampai sekarang, menjadikannya salah satu pelopor usaha nasi kuning di Kota Daeng yang mampu bertahan lintas generasi.
Usaha ini dirintis oleh Mbah Harlima, perempuan asal Magelang, Jawa Tengah, yang datang ke Makassar mengikuti suaminya, Sumo Sarimun, asal Madiun, Jawa Timur, seorang prajurit Angkatan Laut. Dari situ, ia membaca peluang pasar dan mulai menjual nasi kuning sebagai usaha keluarga.
Pada masa awal, Mbah Harlima berdagang dengan gerobak di depan Pelabuhan Makassar, kawasan yang saat itu menjadi pusat pergerakan masyarakat dan aktivitas ekonomi. Lokasi usaha kemudian dipindahkan ke Jalan Rusa, di lorong samping Masjid Nurul Amin, agar lebih dekat dengan tempat tinggal keluarga dan lebih mudah dijangkau untuk operasional harian.
Selama puluhan tahun, warung ini bertahan bukan hanya karena faktor usia, tetapi juga karena konsistensi menjaga pola usaha rumahan yang sederhana.
Dari tempat itulah pelanggan terus datang untuk sarapan, sekaligus menjaga keberlanjutan salah satu nama lama dalam lanskap kuliner Makassar.
Tongkat Estafet Generasi Kedua
Pengelolaan usaha kini berada di tangan generasi kedua, Muntakila, 68 tahun, yang merupakan menantu Mbah Harlima.
Ia mengambil alih penuh operasional warung pada awal 2000-an setelah bertahun-tahun membantu menyiapkan bumbu, memasak nasi, dan menata lauk di gerobak kayu peninggalan keluarga.
Pada masa pengelolaan generasi kedua inilah warung tersebut mulai memakai identitas dagang yang lebih jelas, yakni Nasi Kuning Mba Mun. Nama itu diambil dari akronim nama Muntakila, sekaligus menjadi penanda baru bagi usaha lama yang sebelumnya dikenal tanpa merek resmi.
Perubahan identitas itu tidak mengubah inti dagangan yang sudah lama dikenal pelanggan.
Warung ini tetap mempertahankan sajian nasi kuning dengan lauk rumahan yang kaya rempah, seperti daging semur, serundeng kelapa, sambal goreng, dan sayur labu siam.
Salah satu ciri yang ikut membedakan warung ini adalah pilihan pendamping telur bebek, selain telur ayam, yang memberi rasa lebih gurih pada seporsi nasi kuning.

