SulawesiPos.com – Harga minyak dunia langsung merosot pada perdagangan Senin (22/6/2026) setelah putaran pertama perundingan tingkat tinggi Iran dan Amerika Serikat di Bürgenstock, Swiss, berakhir dengan kesepakatan peta jalan menuju perjanjian final dalam 60 hari, sebagaimana dilaporkan Reuters.
Penurunan terjadi setelah Iran mengumumkan keberhasilannya memperoleh keringanan ekspor minyak dan petrokimia, pembebasan sebagian aset yang dibekukan, serta dimulainya program rekonstruksi ekonomi.
Sentimen ini meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global dan mendorong optimisme baru di kalangan pelaku pasar, yang membawa harga minyak mentah Brent bergerak turun 1,53 dolar AS atau 1,9 persen ke level 79,04 dolar AS per barel.
Padahal pada awal perdagangan harga Brent sempat melonjak hingga 82,30 dolar AS per barel akibat ketegangan yang muncul setelah ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran serta pengumuman Teheran mengenai penutupan kembali Selat Hormuz.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga melemah 7 sen menjadi 76,53 dolar AS per barel.
Kontrak WTI untuk pengiriman Agustus yang lebih aktif diperdagangkan turun 55 sen menjadi 75,30 dolar AS per barel.
Penurunan harga tersebut menunjukkan perubahan sentimen pasar dari kekhawatiran terhadap krisis pasokan menjadi harapan akan meningkatnya aliran minyak ke pasar global.
Diplomasi Mengalahkan Ketakutan, Pasar Energi Global Merayakan Kembalinya Harapan
Qatar dan Pakistan selaku mediator mengumumkan bahwa pejabat senior Iran dan Amerika Serikat telah menyelesaikan putaran pertama perundingan mereka di Swiss.
Perundingan itu merupakan bagian dari kesepahaman yang dicapai pekan lalu untuk memperpanjang gencatan senjata rapuh antara kedua negara setidaknya selama 60 hari.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa negaranya berhasil memperoleh sejumlah konsesi ekonomi penting dalam perundingan tersebut.
“Iran memperoleh pengecualian untuk ekspor minyak dan produk petrokimia, pembebasan sebagian aset yang diblokir, serta dimulainya program rekonstruksi dan pembangunan,” ujar Abbas Araghchi.
Pernyataan tersebut segera ditafsirkan pasar sebagai sinyal bahwa ekspor energi Iran berpotensi meningkat dalam waktu dekat.
Analis pasar dari lembaga investasi IG, Tony Sycamore, menilai bahwa proses diplomasi di Swiss telah menghasilkan kemajuan yang nyata.
“Tampaknya perundingan tingkat tinggi Amerika Serikat dan Iran di Swiss mengalami kemajuan dan kedua pihak telah menyetujui pembentukan komite tingkat tinggi,” kata Tony Sycamore.
Pembentukan komite tingkat tinggi tersebut dipandang sebagai fondasi kelembagaan yang dapat menjaga kesinambungan proses diplomasi menuju kesepakatan permanen.
Meskipun demikian, sejumlah pengamat menilai jalan menuju penyelesaian final masih menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Ketegangan keamanan di Lebanon masih menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi keberlanjutan proses negosiasi.
Data pelayaran internasional menunjukkan bahwa sebelum perundingan dimulai jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz sempat menurun secara signifikan.
Penurunan tersebut terjadi setelah Iran mengumumkan pembatasan baru terhadap jalur pelayaran sebagai respons atas apa yang disebutnya sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan damai sementara.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur energi paling strategis di dunia.
Berdasarkan data berbagai lembaga energi internasional, sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia setiap hari melewati selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.
Karena itu, setiap ketegangan di kawasan ini hampir selalu berdampak langsung terhadap harga energi internasional dan stabilitas ekonomi global.
Analis Bank ING dalam laporan terbarunya memperingatkan bahwa peluang tercapainya kesepakatan permanen masih menghadapi tantangan besar.
Mereka menilai risiko meningkatnya kembali konflik tetap nyata selama masa gencatan senjata 60 hari berlangsung.
Namun pasar tampaknya lebih fokus pada potensi bertambahnya pasokan energi dibandingkan risiko konflik jangka pendek.
Sepanjang pekan lalu harga minyak dunia telah turun lebih dari delapan persen.
Penurunan tersebut didorong oleh harapan bahwa pasokan minyak yang sempat tertahan di kawasan Teluk Persia akan kembali memasuki pasar internasional.
Optimisme pasar juga diperkuat oleh kemungkinan pelonggaran sebagian sanksi energi terhadap Iran apabila proses diplomasi terus menunjukkan kemajuan.
Direktur Utama Perusahaan Minyak Nasional Iran, Hamid Bord, mengungkapkan bahwa lebih dari 25 juta barel minyak Iran telah berhasil memasuki pasar sejak dimulainya perkembangan politik terbaru.
Pada saat yang sama, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak juga meningkatkan volume ekspor minyak mereka ke pasar global.
Wakil Menteri Perminyakan Irak mengumumkan bahwa Baghdad berencana meningkatkan produksi minyak mentah secara bertahap hingga mencapai 4,2–4,3 juta barel per hari.
Kombinasi peningkatan produksi negara-negara Teluk dan prospek kembalinya ekspor Iran telah membantu meredakan kekhawatiran pasar mengenai kemungkinan kekurangan pasokan energi dunia dalam jangka pendek.
Bagi perekonomian global, penurunan harga minyak membawa implikasi yang luas.
Harga energi yang lebih stabil berpotensi menekan inflasi, menurunkan biaya transportasi dan logistik internasional, serta memperkuat proses pemulihan ekonomi di berbagai negara.
Perkembangan di Swiss menunjukkan bahwa diplomasi masih memiliki kemampuan untuk mengubah arah pasar global.
Ketika dialog berhasil menggantikan ancaman dan konfrontasi, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh Iran dan Amerika Serikat, tetapi juga oleh miliaran manusia yang kehidupannya bergantung pada stabilitas energi, kelancaran perdagangan dunia, dan perdamaian internasional. (Ali)


