SulawesiPos.com — Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga mengkritik keras industri film nasional yang dinilai tengah mengalami anomali. Menurutnya, meskipun Indonesia memiliki talenta kreatif yang melimpah, konten film lokal saat ini justru didominasi oleh tema yang sangat sempit, seperti genre horor dan kisah perselingkuhan.
Kritik tersebut disampaikan Lamhot dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panitia Kerja Kreativitas dan Distribusi Film Nasional (Panja KDFN) Komisi VII DPR RI di Senayan, Jakarta, Senin (22/6/2026). Lamhot menyayangkan minimnya film lokal yang mengangkat kisah kepahlawanan sejarah atau mempromosikan destinasi wisata unggulan seperti Raja Ampat, Labuan Bajo, dan Danau Toba.
“Tema-tema film kita itu lebih kepada dua tematik: satu adalah horor, kedua adalah perselingkuhan. Sementara kita dari Komisi VII mendorong film-film juga sebagai instrumen promosi pariwisata dan penguat budaya kita,” tegas Lamhot.
Lamhot menilai dominasi tema tersebut muncul akibat lemahnya ekosistem distribusi yang memaksa produser membuat konten berisiko rendah demi mengamankan slot layar bioskop. Dampaknya, Indonesia kini hanya menjadi target pasar yang masif bagi produk hiburan asing, mulai dari telenovela, drama Korea, hingga drama Cina.
Guna membenahi kondisi tersebut, Panja KDFN DPR RI merekomendasikan agar pemerintah segera menyediakan subsidi distribusi dan insentif khusus bagi karya yang mengangkat keberagaman budaya lokal. Selain itu, Panja juga mendesak adanya analisis dampak ekonomi dari kehadiran perfilman di daerah agar tidak hanya menguntungkan pemilik modal, serta penyusunan regulasi adaptif untuk merespons dampak kecerdasan buatan (AI) di sektor kreatif.
Dalam rapat yang sama, Cinema Poetica memaparkan bahwa industri perfilman nasional membutuhkan investasi serius pada sektor distribusi dan edukasi yang selama ini tertinggal jauh dari pendanaan produksi. Sementara itu, PT Rangkai Kreativitas Indonesia menyoroti adanya ketidakseimbangan pasokan dan permintaan (mismatch supply demand), di mana jumlah talenta baru berlimpah namun wadah penayangannya sangat terbatas di tengah dominasi layanan streaming global.


