Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, DPR Masih Optimis Pada Kemampuan Gubernur BI dan Pemerintah

SulawesiPos.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan dan sempat menyentuh level Rp17.614 per dolar AS.

Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Fauzi H. Amro menilai pelemahan rupiah dipengaruhi sejumlah faktor global, terutama memanasnya konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Menurutnya, dampak perang tersebut tidak hanya dirasakan di kawasan Asia Tenggara, tetapi juga mengguncang perekonomian global.

“Kita melihat bahwa nilai tukar rupiah ini kan banyak faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor yang mempengaruhinya itu adalah naiknya harga minyak dunia, yang kejadiannya tidak hanya di kawasan Asia Tenggara, tapi juga di dunia dengan perang yang belum tahu kapan berakhir ini,” kata Fauzi di Jakarta, dikutip dari JawaPos, Jumat (15/5/2026).

Ia menyebut harga minyak dunia sempat menyentuh 105 dolar AS per barel sehingga memberikan tekanan besar terhadap stabilitas ekonomi dan nilai tukar.

Politikus Fraksi Partai NasDem itu mengakui pelemahan rupiah akan berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi masyarakat.

BACA JUGA: 
Purbaya Rencana Tambah Layer Cukai Rokok, Ini Tanggapan Kemenkes

“Dampak ekonominya yang paling terasa menurut saya pribadi,” ujarnya.

Meski demikian, Fauzi mengatakan pemerintah masih berupaya menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi agar lonjakan harga energi tidak memicu kenaikan harga pangan dan sembako.

“Karena selama harga minyak (subsidi) tidak naik, maka harga sembako juga tidak akan naik,” tuturnya.

Ia juga meminta Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ritme penerimaan negara dari sektor pajak, bea cukai, hingga Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Fauzi optimistis Gubernur BI Perry Warjiyo bersama jajaran bank sentral mampu menghadapi tekanan ekonomi global seperti yang pernah terjadi saat pandemi Covid-19 maupun krisis sebelumnya.

“Saya yakin dengan kemampuan Pak Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI, beserta jajarannya seperti Bu Aida dan Bu Filianingsih yang sudah sangat berpengalaman menghadapi guncangan ekonomi sejak zaman Covid hingga krisis moneter dulu,” katanya.

Purbaya: Kondisi Belum Seperti Krisis 1998

BACA JUGA: 
Menkeu Purbaya Proyeksikan IHSG Tembus 10.000 pada 2026

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelemahan rupiah saat ini belum menunjukkan kondisi separah krisis moneter 1998.

Ia meminta masyarakat tidak panik karena fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat dan pemerintah mengetahui titik kelemahan yang perlu diperbaiki.

“(Masyarakat) nggak perlu panik karena fondasi ekonomi bagus. Kita tahu betul kelemahan di mana dan bisa kita betulin. Kita nggak akan sejelek seperti 98 lagi,” kata Purbaya.

Menurut Purbaya, pemerintah bersama BI juga tengah menyiapkan langkah untuk menjaga stabilitas pasar surat berharga negara atau bond market guna menahan arus modal keluar dari pasar domestik.

Ia menilai stabilitas pasar obligasi penting agar investor tidak buru-buru melepas aset akibat kekhawatiran capital loss.

“Kalau bond market stabil, orang itu nggak jual, mereka nggak takut dengan capital loss,” ujarnya.

Rupiah sebelumnya sempat menyentuh level Rp17.600 per dolar AS dan diperkirakan masih berpotensi mengalami tekanan dalam beberapa waktu ke depan di tengah tingginya ketidakpastian global.

BACA JUGA: 
Nama Muncul di Dakwaan Kasus Blueray Cargo, Menkeu Purbaya Belum Nonaktifkan Dirjen Bea Cukai

SulawesiPos.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan dan sempat menyentuh level Rp17.614 per dolar AS.

Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Fauzi H. Amro menilai pelemahan rupiah dipengaruhi sejumlah faktor global, terutama memanasnya konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Menurutnya, dampak perang tersebut tidak hanya dirasakan di kawasan Asia Tenggara, tetapi juga mengguncang perekonomian global.

“Kita melihat bahwa nilai tukar rupiah ini kan banyak faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor yang mempengaruhinya itu adalah naiknya harga minyak dunia, yang kejadiannya tidak hanya di kawasan Asia Tenggara, tapi juga di dunia dengan perang yang belum tahu kapan berakhir ini,” kata Fauzi di Jakarta, dikutip dari JawaPos, Jumat (15/5/2026).

Ia menyebut harga minyak dunia sempat menyentuh 105 dolar AS per barel sehingga memberikan tekanan besar terhadap stabilitas ekonomi dan nilai tukar.

Politikus Fraksi Partai NasDem itu mengakui pelemahan rupiah akan berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi masyarakat.

BACA JUGA: 
Menkeu Purbaya Yakin IHSG Bangkit di Perdagangan Awal Februari, Fundamental Ekonomi Jadi Penopang

“Dampak ekonominya yang paling terasa menurut saya pribadi,” ujarnya.

Meski demikian, Fauzi mengatakan pemerintah masih berupaya menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi agar lonjakan harga energi tidak memicu kenaikan harga pangan dan sembako.

“Karena selama harga minyak (subsidi) tidak naik, maka harga sembako juga tidak akan naik,” tuturnya.

Ia juga meminta Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ritme penerimaan negara dari sektor pajak, bea cukai, hingga Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Fauzi optimistis Gubernur BI Perry Warjiyo bersama jajaran bank sentral mampu menghadapi tekanan ekonomi global seperti yang pernah terjadi saat pandemi Covid-19 maupun krisis sebelumnya.

“Saya yakin dengan kemampuan Pak Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI, beserta jajarannya seperti Bu Aida dan Bu Filianingsih yang sudah sangat berpengalaman menghadapi guncangan ekonomi sejak zaman Covid hingga krisis moneter dulu,” katanya.

Purbaya: Kondisi Belum Seperti Krisis 1998

BACA JUGA: 
Noel Peringatkan Menkeu Purbaya: Modusnya Hampir Sama, Sejengkal Lagi Bisa Bernasib Serupa

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelemahan rupiah saat ini belum menunjukkan kondisi separah krisis moneter 1998.

Ia meminta masyarakat tidak panik karena fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat dan pemerintah mengetahui titik kelemahan yang perlu diperbaiki.

“(Masyarakat) nggak perlu panik karena fondasi ekonomi bagus. Kita tahu betul kelemahan di mana dan bisa kita betulin. Kita nggak akan sejelek seperti 98 lagi,” kata Purbaya.

Menurut Purbaya, pemerintah bersama BI juga tengah menyiapkan langkah untuk menjaga stabilitas pasar surat berharga negara atau bond market guna menahan arus modal keluar dari pasar domestik.

Ia menilai stabilitas pasar obligasi penting agar investor tidak buru-buru melepas aset akibat kekhawatiran capital loss.

“Kalau bond market stabil, orang itu nggak jual, mereka nggak takut dengan capital loss,” ujarnya.

Rupiah sebelumnya sempat menyentuh level Rp17.600 per dolar AS dan diperkirakan masih berpotensi mengalami tekanan dalam beberapa waktu ke depan di tengah tingginya ketidakpastian global.

BACA JUGA: 
Purbaya Rencana Tambah Layer Cukai Rokok, Ini Tanggapan Kemenkes

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru