Wakil Ketua MPR Ingatkan Ancaman Hantavirus, Publik Diminta Tingkatkan Kewaspadaan

SulawesiPos.com – Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengajak seluruh elemen masyarakat membangun kesadaran kolektif untuk mengantisipasi potensi penyebaran Hantavirus di Indonesia.

Hal itu disampaikan Lestari saat membuka diskusi daring bertema “Mengenal Penyebaran Hantavirus dan Bagaimana Memitigasinya” yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (13/5/2026).

“Negara melalui Kemenkes RI telah mengambil langkah konkret untuk mewaspadai ancaman Hantavirus. Meski begitu, kekhawatiran publik terhadap ancaman virus tersebut di tanah air, harus dapat diatasi secara bersama,” kata Lestari, dikutip Jumat (15/5/2026).

Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan Sumarjaya, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Erlina Burhan, serta Tjandra Yoga Aditama.

Menurut Lestari, berdasarkan data berbagai sumber, terdapat 23 kasus Hantavirus terkonfirmasi pada periode 2024–2026 dengan tiga kasus kematian.

Ia menegaskan langkah edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat perlu diperkuat agar masyarakat memahami cara mitigasi dan penanganan jika terjadi paparan virus.

BACA JUGA: 
Lestari Moerdijat Soroti Darurat Kesehatan Mental Anak, Usul Masuk Kurikulum Nasional

Kemenkes Perkuat Skrining dan Surveilans

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes Sumarjaya menyebut pemerintah telah melakukan sejumlah langkah antisipasi untuk mencegah keterlambatan penanganan potensi penyebaran Hantavirus.

Salah satu upaya yang dilakukan yakni memperketat skrining di pintu masuk negara melalui kerja sama dengan pihak imigrasi, termasuk penggunaan thermal scanner dan kewajiban deklarasi kesehatan.

Selain itu, masyarakat juga diminta tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat sebagai langkah pencegahan dasar.

Guru Besar FKUI Erlina Burhan menjelaskan Hantavirus umumnya dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus dan dapat menyebabkan penyakit serius pada paru-paru maupun ginjal.

Menurut Erlina, penyakit akibat Hantavirus sering terlambat dikenali karena gejala awalnya menyerupai influenza atau demam berdarah.

“Gejala yang muncul seperti demam, mual, mirip flu, dan sesak nafas,” ujar Erlina.

Ia mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai area gudang, kawasan bekas banjir, dan lokasi yang banyak terdapat tikus karena debu atau udara di lingkungan tersebut berpotensi membawa partikel virus.

BACA JUGA: 
Pimpinan MPR Lestari Moerdijat: Hari Perempuan Internasional Momentum Perkuat Kesetaraan Gender

Pakar Ingatkan Waspada Tanpa Panik

Mantan Direktur WHO SEARO Tjandra Yoga Aditama menyebut tingkat penularan Hantavirus secara global masih tergolong rendah berdasarkan catatan WHO.

Meski demikian, ia mengingatkan kewaspadaan tetap diperlukan, termasuk karena adanya laporan dugaan paparan Hantavirus pada warga negara Singapura di kapal pesiar.

“Kewaspadaan sangat perlu, tetapi juga tidak harus menimbulkan kepanikan,” katanya.

Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR RI Nurhadi menilai langkah antisipasi terhadap Hantavirus tidak hanya berkaitan dengan sektor kesehatan, tetapi juga bagian dari kesiapsiagaan nasional.

“Kita tidak bisa lagi menunggu sebuah kasus kesehatan menjadi besar dulu, baru dilakukan tindakan. Negara harus hadir dalam upaya ini,” ujar Nurhadi.

SulawesiPos.com – Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengajak seluruh elemen masyarakat membangun kesadaran kolektif untuk mengantisipasi potensi penyebaran Hantavirus di Indonesia.

Hal itu disampaikan Lestari saat membuka diskusi daring bertema “Mengenal Penyebaran Hantavirus dan Bagaimana Memitigasinya” yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (13/5/2026).

“Negara melalui Kemenkes RI telah mengambil langkah konkret untuk mewaspadai ancaman Hantavirus. Meski begitu, kekhawatiran publik terhadap ancaman virus tersebut di tanah air, harus dapat diatasi secara bersama,” kata Lestari, dikutip Jumat (15/5/2026).

Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan Sumarjaya, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Erlina Burhan, serta Tjandra Yoga Aditama.

Menurut Lestari, berdasarkan data berbagai sumber, terdapat 23 kasus Hantavirus terkonfirmasi pada periode 2024–2026 dengan tiga kasus kematian.

Ia menegaskan langkah edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat perlu diperkuat agar masyarakat memahami cara mitigasi dan penanganan jika terjadi paparan virus.

BACA JUGA: 
Lestari Moerdijat Soroti Darurat Kesehatan Mental Anak, Usul Masuk Kurikulum Nasional

Kemenkes Perkuat Skrining dan Surveilans

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes Sumarjaya menyebut pemerintah telah melakukan sejumlah langkah antisipasi untuk mencegah keterlambatan penanganan potensi penyebaran Hantavirus.

Salah satu upaya yang dilakukan yakni memperketat skrining di pintu masuk negara melalui kerja sama dengan pihak imigrasi, termasuk penggunaan thermal scanner dan kewajiban deklarasi kesehatan.

Selain itu, masyarakat juga diminta tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat sebagai langkah pencegahan dasar.

Guru Besar FKUI Erlina Burhan menjelaskan Hantavirus umumnya dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus dan dapat menyebabkan penyakit serius pada paru-paru maupun ginjal.

Menurut Erlina, penyakit akibat Hantavirus sering terlambat dikenali karena gejala awalnya menyerupai influenza atau demam berdarah.

“Gejala yang muncul seperti demam, mual, mirip flu, dan sesak nafas,” ujar Erlina.

Ia mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai area gudang, kawasan bekas banjir, dan lokasi yang banyak terdapat tikus karena debu atau udara di lingkungan tersebut berpotensi membawa partikel virus.

BACA JUGA: 
Bamsoet Dorong PPHN Segera Berlaku, Sebut Ada Empat Opsi Konstitusional

Pakar Ingatkan Waspada Tanpa Panik

Mantan Direktur WHO SEARO Tjandra Yoga Aditama menyebut tingkat penularan Hantavirus secara global masih tergolong rendah berdasarkan catatan WHO.

Meski demikian, ia mengingatkan kewaspadaan tetap diperlukan, termasuk karena adanya laporan dugaan paparan Hantavirus pada warga negara Singapura di kapal pesiar.

“Kewaspadaan sangat perlu, tetapi juga tidak harus menimbulkan kepanikan,” katanya.

Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR RI Nurhadi menilai langkah antisipasi terhadap Hantavirus tidak hanya berkaitan dengan sektor kesehatan, tetapi juga bagian dari kesiapsiagaan nasional.

“Kita tidak bisa lagi menunggu sebuah kasus kesehatan menjadi besar dulu, baru dilakukan tindakan. Negara harus hadir dalam upaya ini,” ujar Nurhadi.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru