SulawesiPos.com – Keluarga kapten MT Honour 25, Ashari Samadikun, masih menanti kepastian setelah empat bulan penyanderaan oleh perompak Somalia sejak pembajakan kapal pada 21 April 2026 di perairan Somalia. Hingga Kamis (20/8/2026), Ashari bersama tiga WNI lain belum juga mendapat kejelasan pembebasan, meski keluarga sempat menerima kabar bahwa beberapa ABK asal Pakistan direncanakan dilepas lebih dulu.
Syamsuddin, ayah Ashari, mengatakan putranya sesekali menghubungi keluarga dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Beberapa hari lalu, Ashari juga sempat melakukan panggilan video dan menyampaikan kabar terbaru dari kapal.
“Ashari menelepon mengabarkan bahwa beberapa ABK-nya dari Pakistan rencananya dibebaskan dalam Waktu dekat ini, sementara ia dan 3 WNI lainnya belum ada kejelasan, hal ini membuat kami sangat khawatir dengan keselamatannya,” ungkap Syamsuddin, Kamis (20/8/2026).
Keluarga kini hanya berharap ada kepastian tentang keberadaan dan kondisi para sandera agar mereka tidak terus hidup dalam kecemasan berkepanjangan.
Syamsuddin juga menagih keseriusan pemerintah Indonesia untuk mengupayakan pembebasan Ashari bersama tiga WNI lainnya. Ia mengatakan keluarganya terus berdoa agar para perompak Somalia membebaskan Ashari dan rekan-rekannya.
MT Honour 25 berbendera Uni Emirat Arab dan berlayar dari Oman dengan membawa 16 awak kapal dari berbagai negara. Rinciannya terdiri atas empat awak asal Indonesia, 10 dari Pakistan, satu dari India, dan satu dari Myanmar.
Salah satu kendala pembebasan disebut terkait pihak yang harus membuka negosiasi dengan para perompak. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulawesi Selatan, Jayadi Nas, menjelaskan kapal MT Honour sedang disewa salah satu perusahaan yang bergerak dalam pengiriman minyak mentah dari Dubai ke sejumlah negara.
“Kapal MT Honour sedang direntalkan perusahaan yang bergerak di pengiriman minyak dari Dubai ke beberapa daerah. Kemudian ini yang punya kapal disuruh (negosiasi), bilang itukan saya rentalkan. Tanggung jawab yang rental. Ini yang susah belum ada titik temunya,” kata Jayadi.
Menurut Jayadi, kebuntuan itu diperparah karena perompak disebut hanya bersedia berunding dengan pemilik kapal, sementara situasi di lapangan juga belum kondusif.

