Ia berkarier panjang di PT Wijaya Karya sejak 1996 hingga 2021 dalam sejumlah posisi strategis, lalu melanjutkan karier sebagai direktur keuangan, human capital, dan manajemen risiko di PT Hotel Indonesia Property pada periode 2021 sampai 2024.
Jejak korporasi itulah yang kemudian membentuk citranya sebagai figur profesional ketika maju di Pilkada Pemalang 2024.
Menang Pilkada, Kini Terseret OTT
Dalam Pilkada Pemalang 2024, Anom maju berpasangan dengan Nurkholes.
Berdasarkan data yang dirangkum detikJateng dari hasil KPUD Pemalang, pasangan ini meraih 278.043 suara atau 44,51 persen dari total suara sah, unggul atas dua pasangan lain dan kemudian memimpin Pemalang untuk masa jabatan 2025-2030.
Kemenangan itu sempat memperkuat narasi bahwa Anom adalah wajah baru kepemimpinan Pemalang dengan latar bisnis dan tata kelola perusahaan.
Namun OTT KPK yang menjeratnya pada Juli 2026 kini membalik sorotan tersebut menjadi pertanyaan baru tentang integritas, pengelolaan kekuasaan, dan bagaimana seorang kepala daerah dengan rekam jejak profesional tetap bisa terseret penindakan antirasuah.
Sampai Rabu, 29 Juli 2026, KPK masih belum mengumumkan detail perkara, pihak lain yang ikut diamankan, maupun barang bukti yang disita.
Karena itu, arah akhir kasus Anom Widiyantoro masih menunggu konferensi pers resmi dari KPK.

