Polemik Threads, Co-Founder Komar Makassar Minta Maaf ke Publik

SulawesiPos.com – Co-Founder Komar Indonesia Wandy Pratama menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat setelah unggahannya di media sosial Threads tentang kritik terhadap pemerintah dan gerakan Indonesia Sadar memicu polemik. Wandy menegaskan pernyataan tersebut merupakan tanggung jawab pribadi dan tidak mewakili sikap Komar Indonesia.

Permintaan maaf itu disampaikan Wandy di Balai Prajurit M Jusuf, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, Minggu (1/11/2026). Ia juga meminta maaf kepada internal Komar dan para pemangku kepentingan yang ikut terdampak oleh polemik tersebut.

“Saya menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat yang merasa tersinggung, tidak nyaman, atau merasa aspirasinya tidak dihargai akibat pernyataan saya,” ujar Wandy.

Wandy mengakui posisinya sebagai figur yang memiliki hubungan dengan Komar membuat pernyataan personal di ruang publik berpotensi dikaitkan dengan organisasi. Karena itu, ia menilai penerimaan publik perlu menjadi pertimbangan dalam setiap komunikasi.

Ia juga meluruskan status kelembagaan Komar Indonesia. Menurut Wandy, Komar bukan usaha yang dimiliki secara pribadi oleh dirinya maupun satu individu, melainkan berada dalam struktur Koperasi Konsumen Kopi Masyarakat Indonesia.

BACA JUGA:  Sekjen Golkar Resmi Lantik IAS Ketua DPD I Golkar Sulsel, Targetkan Tambah Kursi

“Komar bukan usaha milik pribadi saya,” kata Wandy.

Wandy menegaskan penjelasan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengalihkan tanggung jawab atas pernyataan yang telah disampaikannya. Ia menyatakan akan lebih berhati-hati menggunakan ruang komunikasi publik ketika pernyataan pribadi berpotensi memengaruhi organisasi atau pihak lain.

Polemik Berawal dari Unggahan di Threads

Polemik bermula dari unggahan Wandy di Threads pada Rabu (28/10/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Dalam unggahannya, ia mempertanyakan anggapan bahwa mengkritik pemerintah lebih menarik dibandingkan berkarya dan berbuat sesuatu yang baik.

Wandy juga menilai sebagian influencer, Key Opinion Leader, dan masyarakat ikut menyuarakan isu tertentu karena mencari perhatian atau mengalami fear of missing out (FOMO).

Pernyataan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari pengguna Threads yang menilai kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari partisipasi warga dan tidak otomatis berarti seseorang tidak berkarya.

Di Makassar, momentum Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026 memang diwarnai aksi mahasiswa dari sejumlah kampus.

BACA JUGA:  Modus Loker Palsu Bandara Hasanuddin, 3 Warga Rugi Rp19,4 Juta

Massa menggelar demonstrasi di sekitar Jalan AP Pettarani dan Jalan Urip Sumoharjo dengan membawa isu karhutla serta evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.

Konteks lokal itu membuat pernyataan Wandy dibaca dalam suasana perdebatan publik yang sedang menguat di Makassar, terutama mengenai kritik kebijakan pemerintah, kebebasan menyampaikan aspirasi, dan cara figur publik berkomunikasi di media sosial.

Komar Indonesia sendiri tumbuh dari inisiatif anak muda Makassar untuk membangun ekosistem kopi berbasis koperasi. Struktur tersebut membuat pernyataan pribadi tokoh yang terkait dengan Komar berpotensi ikut berdampak pada persepsi masyarakat terhadap anggota, pekerja, pelanggan, dan mitra usaha.

Wandy berharap permintaan maaf tersebut menjadi langkah awal untuk memperbaiki hubungan dengan masyarakat. Ia menyadari kepercayaan publik perlu dibangun melalui sikap dan tindakan yang konsisten.

SulawesiPos.com – Co-Founder Komar Indonesia Wandy Pratama menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat setelah unggahannya di media sosial Threads tentang kritik terhadap pemerintah dan gerakan Indonesia Sadar memicu polemik. Wandy menegaskan pernyataan tersebut merupakan tanggung jawab pribadi dan tidak mewakili sikap Komar Indonesia.

Permintaan maaf itu disampaikan Wandy di Balai Prajurit M Jusuf, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, Minggu (1/11/2026). Ia juga meminta maaf kepada internal Komar dan para pemangku kepentingan yang ikut terdampak oleh polemik tersebut.

“Saya menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat yang merasa tersinggung, tidak nyaman, atau merasa aspirasinya tidak dihargai akibat pernyataan saya,” ujar Wandy.

Wandy mengakui posisinya sebagai figur yang memiliki hubungan dengan Komar membuat pernyataan personal di ruang publik berpotensi dikaitkan dengan organisasi. Karena itu, ia menilai penerimaan publik perlu menjadi pertimbangan dalam setiap komunikasi.

Ia juga meluruskan status kelembagaan Komar Indonesia. Menurut Wandy, Komar bukan usaha yang dimiliki secara pribadi oleh dirinya maupun satu individu, melainkan berada dalam struktur Koperasi Konsumen Kopi Masyarakat Indonesia.

BACA JUGA:  Perkuat Silaturahmi Keluarga Pers, IKWI Peringati HUT ke-65 Lewat Gelaran Budaya dan Seminar Nasional

“Komar bukan usaha milik pribadi saya,” kata Wandy.

Wandy menegaskan penjelasan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengalihkan tanggung jawab atas pernyataan yang telah disampaikannya. Ia menyatakan akan lebih berhati-hati menggunakan ruang komunikasi publik ketika pernyataan pribadi berpotensi memengaruhi organisasi atau pihak lain.

Polemik Berawal dari Unggahan di Threads

Polemik bermula dari unggahan Wandy di Threads pada Rabu (28/10/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Dalam unggahannya, ia mempertanyakan anggapan bahwa mengkritik pemerintah lebih menarik dibandingkan berkarya dan berbuat sesuatu yang baik.

Wandy juga menilai sebagian influencer, Key Opinion Leader, dan masyarakat ikut menyuarakan isu tertentu karena mencari perhatian atau mengalami fear of missing out (FOMO).

Pernyataan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari pengguna Threads yang menilai kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari partisipasi warga dan tidak otomatis berarti seseorang tidak berkarya.

Di Makassar, momentum Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026 memang diwarnai aksi mahasiswa dari sejumlah kampus.

BACA JUGA:  Kongres Perdana MGBKGI di Unhas Soroti Ketimpangan Layanan, Ruslin Dorong Transformasi Kedokteran Gigi

Massa menggelar demonstrasi di sekitar Jalan AP Pettarani dan Jalan Urip Sumoharjo dengan membawa isu karhutla serta evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.

Konteks lokal itu membuat pernyataan Wandy dibaca dalam suasana perdebatan publik yang sedang menguat di Makassar, terutama mengenai kritik kebijakan pemerintah, kebebasan menyampaikan aspirasi, dan cara figur publik berkomunikasi di media sosial.

Komar Indonesia sendiri tumbuh dari inisiatif anak muda Makassar untuk membangun ekosistem kopi berbasis koperasi. Struktur tersebut membuat pernyataan pribadi tokoh yang terkait dengan Komar berpotensi ikut berdampak pada persepsi masyarakat terhadap anggota, pekerja, pelanggan, dan mitra usaha.

Wandy berharap permintaan maaf tersebut menjadi langkah awal untuk memperbaiki hubungan dengan masyarakat. Ia menyadari kepercayaan publik perlu dibangun melalui sikap dan tindakan yang konsisten.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru