SulawesiPos.com — Proses peralihan kepemimpinan DPD Partai Demokrat Sulawesi Selatan yang hampir pasti jatuh ke tangan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin (Appi), jelang Musda Demokrat 23 Oktober esok menandai babak baru penataan mesin partai di tingkat regional.
Berbekal dukungan penuh 24 DPC di Musyawarah Daerah (Musda), Appi dihadapkan pada sejumlah tantangan strategis untuk membangkitkan kembali elektabilitas dan kejayaan Partai Demokrat di Sulawesi Selatan.
Salah satu tantangan utama kepemimpinan Appi adalah pemulihan perolehan kursi legislatif yang mengalami penurunan pada Pemilu 2024. Di tingkat DPRD Provinsi (Tingkat I), Partai Demokrat meraup 7 kursi, turun dari perolehan 10 kursi pada Pemilu 2019.
Penurunan serupa juga terjadi di tingkat DPRD Kabupaten/Kota (Tingkat II) se-Sulawesi Selatan, yang kini meraih 70 kursi di 24 kabupaten/kota (turun dari 78 kursi pada Pemilu 2019), seperti perolehan di DPRD Kota Makassar yang mengamankan 3 kursi.
Meski demikian, Partai Demokrat memiliki basis konsolidasi yang cukup solid melalui total 77 kursi legislatif (DPRD Tingkat I & II) serta modal politik di ranah eksekutif.
Pada Pilkada Serentak, Partai Demokrat meloloskan 7 kader di posisi kepemimpinan daerah kabupaten/kota di Sulsel, yang terdiri dari dua posisi setingkat Wakil Wali Kota/Bupati dan lima posisi Wakil Bupati.
Beberapa kader tersebut di antaranya Selle KS Dalle (Wakil Bupati Soppeng), Abustan (Wakil Bupati Enrekang), dan Dhevy Bijak Pawindu (Wakil Bupati Luwu), serta tiga kader lainnya yang menduduki jabatan Wakil Bupati/Wakil Wali Kota. Bergabungnya Munafri Arifuddin selaku Wali Kota Makassar sebagai kader resmi Partai Demokrat kian memperkuat leverage politik partai.
Di lanskap politik regional, persaingan ketat memposisikan Partai NasDem dan Partai Golkar sebagai kompetitor utama. NasDem mematahkan dominasi tradisional di Sulsel dengan mengamankan 17 kursi DPRD Provinsi pada Pemilu 2024, sementara Golkar membayangi ketat di papan atas dengan perolehan 13 kursi.
Selain dua partai papan atas tersebut, Partai Gerindra serta partai menengah-atas seperti PKS, PAN, dan PKB menjadi penantang langsung dalam perebutan ceruk pemilih dan pimpinan dewan di tingkat kabupaten/kota.
Pengamat Politik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Makassar, Randhy Akbar, menilai bahwa masuknya Munafri Arifuddin memberikan energi baru sekaligus tantangan tersendiri bagi Partai Demokrat di Sulsel. Menurutnya, kapasitas Appi sebagai kepala daerah di episentrum politik regional harus mampu dikapitalisasi secara maksimal untuk mendongkrak kembali perolehan kursi yang sempat menurun.
“Appi memiliki leverage politik yang kuat sebagai Wali Kota Makassar dan dukungan penuh dari struktur di daerah. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana kecepatan konsolidasi internal berjalan mulus tanpa faksionalisme, serta bagaimana mengubah popularitas di perkotaan menjadi mesin elektoral yang merata di 24 kabupaten/kota di tengah dominasi NasDem dan Golkar,” ujar Randhy.
Menjawab dinamika politik yang sangat kompetitif tersebut, menurut Randhy, Appi harus fokus pada lima langkah strategis utama yang harus ia jalankan. Pertama, melakukan konsolidasi internal dan rekonsiliasi politik untuk memastikan transisi kepemimpinan dari Ni’matullah berjalan mulus dengan mengedepankan kultur merangkul (mappatabe) guna mencegah perpecahan.
Kedua, mengevaluasi perolehan suara pemilu melalui pemetaan daerah pemilihan berbasis data akurat serta merekrut figur votegetter potensial dari kalangan pemuda, pengusaha, dan akademisi.
“Appi harus mengoptimalkan panggung politik kepemimpinan di Kota Makassar untuk memperkuat citra dan *branding* positif partai di kabupaten/kota lainnya di Sulawesi Selatan,” tambah Randhy.
Langkah ini dibarengi dengan penetrasi pemilih muda melalui modernisasi komunikasi politik digital dan penguatan organisasi sayap partai seperti KNPD (Komite Nasional Pemuda Demokrat), IMDI (Insan Muda Demokrat Indonesia), BMI (Bintang Muda Indonesia), PDRI (Perempuan Demokrat Republik Indonesia / PDRI), FKPD (Forum Komunikasi Pendiri dan Deklarator Partai Demokrat), FKKGD (Forum Komunikasi Kaderisasi Generasi Demokrasi), dan AMPD (Angkatan Muda Partai Demokrat).
Terakhir, Partai Demokrat di bawah kepemimpinan Appi akan memperkuat jaringan hingga tingkat ranting dengan mengusung isu-isu ekonomi kerakyatan secara berkelanjutan.
Kecepatan konsolidasi internal pasca-Musda serta kemampuan mengonversi panggung kepemimpinan di Kota Makassar menjadi modal elektoral yang merata di seluruh wilayah Sulawesi Selatan akan menjadi kunci keberhasilan Munafri Arifuddin dalam membawa Partai Demokrat kembali ke papan atas politik daerah.


