SulawesiPos.com – Nama Kapten Usman Jafar tidak hanya terpasang pada sebuah ruas jalan di Kelurahan Baru, Kecamatan Ujung Pandang, Makassar.
Di balik nama jalan pendek di pusat kota tersebut tersimpan riwayat seorang guru asal Parepare yang bergabung dengan Tentara Pelajar, bertempur mempertahankan Surabaya, dan menerima Bintang Gerilya atas jasanya dalam perjuangan kemerdekaan.
Usman Jafar lahir di kawasan Jalan Daeng Parani, Kota Parepare, dan merupakan anak pertama dari sembilan bersaudara.
Sebelum memasuki dunia militer, ia mengajar di sebuah Sekolah Rakyat di sekitar Pelabuhan Parepare.
Jejaknya sebagai pendidik dikenang oleh keponakannya, Iqbal Ridwan Djafar, dalam liputan CNN Indonesia mengenai sosok sang kapten.
“Awalnya beliau itu sebetulnya seorang guru … ikut berjuang, berperang di Surabaya,” kata Iqbal.
Riwayat yang dihimpun dari liputan tersebut mencatat Usman kemudian bergabung dengan Tentara Pelajar Indonesia.
Bersama sejumlah tokoh perjuangan Sulawesi Selatan, ia terlibat dalam pendidikan dan pengorganisasian kaum muda pada masa awal kemerdekaan.
Perjalanan itu membawanya dari ruang kelas ke medan perang.
Pada 1945, Usman bersama Kapten Hertasning dikirim memimpin pasukan asal Sulawesi Selatan untuk membantu pertahanan Surabaya menghadapi Sekutu.
Pertempuran mencapai puncaknya pada 10 November 1945, tanggal yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Usman berada dalam barisan pejuang yang mempertahankan kota bersama kekuatan rakyat yang digerakkan Bung Tomo.
Atas pengabdiannya, Usman dianugerahi Bintang Gerilya pada masa Presiden Soekarno.

Tanda kehormatan itu diberikan kepada warga negara yang berjasa besar mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia melalui perjuangan gerilya.
Catatan Berbeda tentang Gugurnya Usman Jafar
Pada 1950, Usman kembali ditugaskan di Makassar ketika situasi keamanan belum stabil.
Ia gugur setelah ditembak di kantor militernya di Panaikang pada Agustus tahun tersebut.
Sumber terbuka yang diperiksa memuat perbedaan mengenai kelompok yang melakukan penyerangan.
Liputan video CNN Indonesia menyebut pasukan Republik Maluku Selatan pimpinan Soumokil, sedangkan laporan tertulis Tribun Parepare menyebut pasukan KNIL yang beranggotakan orang Ambon.
Perbedaan itu membuat identitas penyerang tidak dapat ditulis sebagai satu versi sejarah yang telah terkonfirmasi tanpa dukungan arsip primer tambahan.
Kedua sumber sama-sama menempatkan peristiwa tersebut di kantor Usman di Panaikang pada 1950.
Liputan CNN Indonesia juga menyebut Usman telah merasakan firasat sebelum serangan dan meminta adik serta anak buahnya menyelamatkan diri.
Jasadnya kemudian disebut sebagai yang pertama dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang.
Klaim bahwa Usman menguasai tujuh bahasa asing muncul dalam liputan video yang sama.
Namun, rincian bahasa yang dikuasainya dan dokumen pendukung mengenai kemampuan tersebut belum ditemukan dalam arsip terbuka yang diperiksa.
Namanya Hidup di Makassar dan Parepare
Nama Usman Jafar kemudian diabadikan menjadi nama jalan di Makassar dan Parepare.
Di Makassar, ruas tersebut tercatat berada di Kelurahan Baru, Kecamatan Ujung Pandang, kawasan pusat kota yang dipenuhi kegiatan perdagangan, perkantoran, dan kuliner.
Data peta terbuka yang diperiksa menempatkan Jalan Usman Jafar sebagai ruas satu arah yang menghubungkan kawasan Jalan Botolempangan dan Jalan Sultan Hasanuddin.
Data tersebut belum mendukung keterangan bahwa ruas itu menghubungkan langsung Jalan M.H. Thamrin dengan Jalan Jenderal Sudirman.
Penulisan namanya juga muncul dalam dua bentuk. Papan dan alamat jalan menggunakan “Usman Jafar”, sedangkan judul liputan CNN Indonesia menuliskannya “Usman Djafar”. Keduanya merujuk pada pejuang asal Parepare yang sama.

