SulawesiPos.com – Jalan Daeng Tata Raya membentang sekitar 1,5 kilometer di Kecamatan Tamalate, Makassar.
Ruas jalan ini kini dipenuhi aktivitas warga, mulai dari kedai makanan, warung kopi, toko kue, hingga fasilitas olahraga dan kawasan pendidikan.
Jalurnya bersinggungan dengan Jalan Muh Tahir, Jalan Daeng Ngeppe, Jalan Malengkeri Raya, hingga kawasan Hartaco Indah.
Dari jalan utama tersebut, terdapat pula ruas-ruas yang menggunakan nama Daeng Tata, mulai Jalan Daeng Tata 1 hingga Jalan Daeng Tata VII.
Tidak jauh dari ruas utamanya, tepat di Jalan Daeng Tata 3 Lorong 2, terdapat makam tokoh yang namanya diabadikan menjadi jalan tersebut.
Tokoh itu adalah Andi Muhammad Karaeng Tata, yang lebih dikenal sebagai Daeng Tata, pejuang kemerdekaan asal Makassar yang terlibat dalam perlawanan terhadap NICA setelah Indonesia merdeka.

Makamnya berada di kawasan Lorong Wisata Kyoto dan berdampingan dengan makam keluarganya, termasuk Haji Bau.
Pemerintah Kota Makassar juga mencatat makam Haji Bau dan Daeng Tata sebagai peninggalan sejarah di kawasan tersebut.
Dari Keluarga Bangsawan ke Medan Perjuangan
Haji Bau atau Bau Nyampa Karaeng Sila merupakan putra Raja Gowa ke-32, I Kumala Karaeng Lembangparang Sultan Abdul Kadir Muhammad Aidid.
Haji Bau kemudian menjadi bagian dari garis keturunan yang diteruskan kepada Daeng Tata.
Dengan latar tersebut, Daeng Tata tumbuh sebagai bagian dari keluarga bangsawan Gowa. Namun, garis keturunan kerajaan bukan alasan utama namanya dikenang.
Ketika Indonesia memasuki masa revolusi mempertahankan kemerdekaan, Daeng Tata memilih berada di barisan yang berhadapan dengan upaya Belanda mengembalikan kekuasaan kolonial.
Ia bergabung dalam Laskar Pejuang Republik Indonesia Sulawesi (LAPRIS) bersama sejumlah tokoh perlawanan di Makassar.
Di antara nama yang berada dalam jaringan perjuangan tersebut adalah Wolter Monginsidi, Emmy Saelan, Abidin Daeng Ngeppe, Tuang Guru Abdul Kadir, I Polo, dan Muhammad Tahir.

