Jalan Daeng Tata, Nama Pejuang yang Abadi di Tanah Perjuangannya

Kedekatan Daeng Tata dengan Abidin Daeng Ngeppe menjadi salah satu bagian penting dalam kisah perjuangan mereka.

Keduanya berasal dari Parangtambung dan tinggal tidak berjauhan.

Jaringan perlawanan itu membuat aktivitas Daeng Tata menjadi perhatian pasukan Belanda, termasuk pasukan Depot Speciale Troepen (DST) di bawah pimpinan Raymond Westerling.

Ia kemudian masuk dalam daftar pencarian karena dianggap mengganggu kepentingan Belanda di Makassar.

Pelarian Berakhir di Parangtambung

Salah satu kisah paling dikenal mengenai Daeng Tata berkaitan dengan pengejaran terhadap dirinya dan Abidin Daeng Ngeppe.

Dalam penuturan keluarga yang dikutip dalam sumber lokal, keduanya pernah berada dalam satu acara barzanji ketika mendapat kabar bahwa pasukan Belanda sedang memburu mereka.

Upaya melarikan diri kemudian berujung pada penangkapan.

Daeng Tata disebut berhasil melompat dari kendaraan dan melarikan diri, sementara Daeng Ngeppe tidak berhasil lolos dan kemudian ditembak mati oleh NICA.

Kisah tersebut menjadi salah satu episode yang menghubungkan perjuangan Daeng Tata dengan Parangtambung, kawasan yang kelak juga menjadi tempat peristirahatan terakhirnya.

BACA JUGA:  Jejak Tokoh-tokoh Sulawesi Selatan dalam Sejarah Indonesia Modern

Setelah itu, Daeng Tata kembali terlibat dalam perlawanan bersenjata di sekitar Parangtambung dan Jongaya.

Dalam pertempuran tersebut, ia disebut meminta anak buahnya menyelamatkan diri ketika pasukan mereka mulai terkepung. Daeng Tata sendiri memilih bertahan.

Bagian berikutnya dari kisah hidupnya banyak diwariskan melalui cerita keluarga dan masyarakat.

Salah satunya menyebut tubuh Daeng Tata beberapa kali luput dari tembakan sebelum akhirnya ia tertangkap.

Cerita tersebut juga berkembang menjadi kisah heroik mengenai peluru yang disebut tidak mampu menembus tubuhnya.

Kedekatan Daeng Tata dengan Abidin Daeng Ngeppe menjadi salah satu bagian penting dalam kisah perjuangan mereka.

Keduanya berasal dari Parangtambung dan tinggal tidak berjauhan.

Jaringan perlawanan itu membuat aktivitas Daeng Tata menjadi perhatian pasukan Belanda, termasuk pasukan Depot Speciale Troepen (DST) di bawah pimpinan Raymond Westerling.

Ia kemudian masuk dalam daftar pencarian karena dianggap mengganggu kepentingan Belanda di Makassar.

Pelarian Berakhir di Parangtambung

Salah satu kisah paling dikenal mengenai Daeng Tata berkaitan dengan pengejaran terhadap dirinya dan Abidin Daeng Ngeppe.

Dalam penuturan keluarga yang dikutip dalam sumber lokal, keduanya pernah berada dalam satu acara barzanji ketika mendapat kabar bahwa pasukan Belanda sedang memburu mereka.

Upaya melarikan diri kemudian berujung pada penangkapan.

Daeng Tata disebut berhasil melompat dari kendaraan dan melarikan diri, sementara Daeng Ngeppe tidak berhasil lolos dan kemudian ditembak mati oleh NICA.

Kisah tersebut menjadi salah satu episode yang menghubungkan perjuangan Daeng Tata dengan Parangtambung, kawasan yang kelak juga menjadi tempat peristirahatan terakhirnya.

BACA JUGA:  Jalan Andi Mappanyukki: Raja Bone yang Warisannya Diabadikan di Makassar

Setelah itu, Daeng Tata kembali terlibat dalam perlawanan bersenjata di sekitar Parangtambung dan Jongaya.

Dalam pertempuran tersebut, ia disebut meminta anak buahnya menyelamatkan diri ketika pasukan mereka mulai terkepung. Daeng Tata sendiri memilih bertahan.

Bagian berikutnya dari kisah hidupnya banyak diwariskan melalui cerita keluarga dan masyarakat.

Salah satunya menyebut tubuh Daeng Tata beberapa kali luput dari tembakan sebelum akhirnya ia tertangkap.

Cerita tersebut juga berkembang menjadi kisah heroik mengenai peluru yang disebut tidak mampu menembus tubuhnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru