Yang tercatat dalam kisah perjuangannya adalah Daeng Tata akhirnya gugur dalam menghadapi pasukan Belanda.
Dimakamkan di Tanah Keluarga
Setelah kematiannya, jasad Daeng Tata disebut ditemukan dan kemudian dikaitkan dengan kawasan yang kini menjadi Jalan Daeng Tata 1.

Ada pula kisah mengenai rencana pemakamannya di Taman Makam Pahlawan yang kemudian ditolak keluarga.
Keputusan keluarga akhirnya membawa jenazahnya kembali ke kompleks pemakaman keluarga di Parangtambung.
Pilihan tersebut membuat makam Daeng Tata tetap berada di lingkungan keluarganya hingga sekarang.
Di kompleks yang sama terdapat makam Haji Bau, tokoh yang memiliki hubungan garis keturunan dengannya.
Di samping makam Daeng Tata juga terdapat makam istrinya, T. Dg De Nang. Sumber lokal menyebut kompleks tersebut memang merupakan makam keluarga.

Keberadaan makam itu kemudian menjadi bagian dari identitas kawasan. Pemerintah Kota Makassar memasukkan makam Haji Bau dan Daeng Tata sebagai salah satu daya tarik sejarah di Lorong Wisata Kyoto, Jalan Daeng Tata 3 Lorong 2.

