Nama Pettarani juga digunakan pada Jalan Tol Layang Andi Pangerang Pettarani yang membentang di atas ruas jalan tersebut. Infrastruktur itu kemudian membuat nama Pettarani semakin lekat dengan wajah modern Kota Makassar.
Jejak penghormatan tersebut tidak hanya berbentuk jalan. Patung Andi Pangerang Pettarani juga berdiri di kawasan Pantai Losari, salah satu ruang publik yang menjadi ikon Kota Makassar.

Di lingkungan pendidikan, namanya turut digunakan sebagai nama fasilitas pertemuan. Universitas Hasanuddin memiliki Baruga Andi Pangerang Pettarani, sementara Universitas Negeri Makassar memiliki Hall Andi Pangerang Pettarani.
Penggunaan nama tersebut pada jalan, infrastruktur transportasi, ruang publik, hingga fasilitas pendidikan menunjukkan bagaimana sosok Pettarani terus hadir dalam kehidupan masyarakat, jauh setelah ia meninggal dunia.
Bagi warga Makassar, nama AP Pettarani mungkin lebih sering terdengar sebagai nama jalan atau kawasan. Namun, di balik nama tersebut terdapat perjalanan seorang putra bangsawan Sulawesi Selatan yang memilih mengabdi dalam pemerintahan, mengambil sikap dalam perjuangan mempertahankan Republik, hingga dipercaya menjadi Gubernur Sulawesi terakhir.
Kini, namanya telah menjadi bagian dari wajah Kota Makassar dan sejumlah daerah di Sulawesi Selatan. Setiap kali nama Pettarani disebut, yang muncul bukan hanya sebuah alamat, tetapi juga jejak seorang tokoh dalam perjalanan sejarah Sulawesi.

