Jalan Andi Pangerang Pettarani, Mengenang 51 Tahun Wafatnya Gubernur Sulawesi Terakhir

SulawesiPos.com – Hari ini, Rabu (12/8/2026), tepat 51 tahun setelah Andi Pangerang Pettarani meninggal dunia. Sosok yang pernah menjadi Gubernur Sulawesi terakhir itu kini namanya begitu akrab bagi masyarakat Makassar karena diabadikan sebagai salah satu ruas jalan utama di kota ini.

Setiap hari ribuan kendaraan melintas di Jalan Andi Pangerang Pettarani, Makassar. Ruas jalan yang membentang dari kawasan Jalan Sultan Alauddin hingga Jalan Urip Sumohardjo itu kini menjadi salah satu urat nadi aktivitas perkotaan, dikelilingi pusat bisnis, perkantoran, pendidikan hingga pusat perdagangan.

Andi Pangerang Pettarani

Namun, nama yang terpampang di jalan tersebut menyimpan kisah seorang tokoh yang pernah berada di titik penting perjalanan pemerintahan dan perjuangan di Sulawesi.

Tokoh itu adalah Andi Pangerang Pettarani, bangsawan Bone yang memilih mengabdikan hidupnya dalam pemerintahan, ikut memperjuangkan kemerdekaan, dan kemudian dipercaya memimpin wilayah Sulawesi sebagai gubernur.

Pettarani tercatat sebagai Gubernur Sulawesi terakhir sebelum jabatan tersebut berakhir pada 1960 seiring perubahan struktur pemerintahan di wilayah Sulawesi.

BACA JUGA:  Sulsel Siapkan 300 Pompa untuk Atasi Kekeringan di 100 Titik Lahan Pertanian

Karena perjalanan hidup dan pengabdiannya, namanya kemudian diabadikan menjadi nama sejumlah jalan dan fasilitas publik di Sulawesi Selatan.

Jalan AP Pettarani mulai digunakan sebagai nama jalan di Makassar seiring dengan pesatnya pemekaran dan perluasan wilayah kota pada era Wali Kota HM Daeng Patompo, yang secara resmi mulai diabadikan sekitar awal tahun 1980-an.

Lahir dari Keluarga Bangsawan

Bagi warga Makassar, nama AP Pettarani mungkin lebih familiar sebagai alamat, titik pertemuan, kawasan bisnis, atau jalur yang setiap hari dilalui. Jalan tersebut bahkan kini memiliki jalan tol layang yang melintas di atasnya, semakin menjadikannya bagian penting dari wajah modern Kota Makassar.

Tol Layang AP Pettarani

Namun, nama itu berasal dari seorang tokoh yang hidup pada masa ketika Sulawesi masih berada dalam pergulatan panjang antara pemerintahan kolonial, kerajaan-kerajaan lokal, dan Republik Indonesia yang baru berdiri.

Andi Pangerang Pettarani lahir pada 14 Mei 1903 di Mangasa. Ia berasal dari lingkungan bangsawan Sulawesi Selatan. Ayahnya adalah Andi Mappanyukki, yang kelak menjadi Raja Bone ke-32, sedangkan ibunya, I Batasai Daeng Taco, berasal dari keluarga ningrat.

BACA JUGA:  Jalan Abu Bakar Lambogo: Sosok Pejuang Asal Enrekang yang Namanya Diabadikan di Makassar

Hubungan keluarganya juga bersinggungan dengan lingkungan bangsawan Gowa. Pettarani kemudian tumbuh dengan latar sosial yang dekat dengan pemerintahan tradisional, tetapi perjalanan hidupnya justru membawanya masuk ke dunia birokrasi modern.

Ia menempuh pendidikan hingga OSVIA di Makassar. Bekal tersebut menjadi jalan baginya untuk memasuki dunia pamong praja dan menjalani karier pemerintahan sejak usia muda.

Karier Pemerintahan yang Membawanya ke Puncak Kekuasaan

Sebelum dikenal sebagai gubernur, Pettarani lebih dahulu melewati perjalanan panjang sebagai birokrat.

SulawesiPos.com – Hari ini, Rabu (12/8/2026), tepat 51 tahun setelah Andi Pangerang Pettarani meninggal dunia. Sosok yang pernah menjadi Gubernur Sulawesi terakhir itu kini namanya begitu akrab bagi masyarakat Makassar karena diabadikan sebagai salah satu ruas jalan utama di kota ini.

Setiap hari ribuan kendaraan melintas di Jalan Andi Pangerang Pettarani, Makassar. Ruas jalan yang membentang dari kawasan Jalan Sultan Alauddin hingga Jalan Urip Sumohardjo itu kini menjadi salah satu urat nadi aktivitas perkotaan, dikelilingi pusat bisnis, perkantoran, pendidikan hingga pusat perdagangan.

Andi Pangerang Pettarani

Namun, nama yang terpampang di jalan tersebut menyimpan kisah seorang tokoh yang pernah berada di titik penting perjalanan pemerintahan dan perjuangan di Sulawesi.

Tokoh itu adalah Andi Pangerang Pettarani, bangsawan Bone yang memilih mengabdikan hidupnya dalam pemerintahan, ikut memperjuangkan kemerdekaan, dan kemudian dipercaya memimpin wilayah Sulawesi sebagai gubernur.

Pettarani tercatat sebagai Gubernur Sulawesi terakhir sebelum jabatan tersebut berakhir pada 1960 seiring perubahan struktur pemerintahan di wilayah Sulawesi.

BACA JUGA:  Jejak Tokoh-tokoh Sulawesi Selatan dalam Sejarah Indonesia Modern

Karena perjalanan hidup dan pengabdiannya, namanya kemudian diabadikan menjadi nama sejumlah jalan dan fasilitas publik di Sulawesi Selatan.

Jalan AP Pettarani mulai digunakan sebagai nama jalan di Makassar seiring dengan pesatnya pemekaran dan perluasan wilayah kota pada era Wali Kota HM Daeng Patompo, yang secara resmi mulai diabadikan sekitar awal tahun 1980-an.

Lahir dari Keluarga Bangsawan

Bagi warga Makassar, nama AP Pettarani mungkin lebih familiar sebagai alamat, titik pertemuan, kawasan bisnis, atau jalur yang setiap hari dilalui. Jalan tersebut bahkan kini memiliki jalan tol layang yang melintas di atasnya, semakin menjadikannya bagian penting dari wajah modern Kota Makassar.

Tol Layang AP Pettarani

Namun, nama itu berasal dari seorang tokoh yang hidup pada masa ketika Sulawesi masih berada dalam pergulatan panjang antara pemerintahan kolonial, kerajaan-kerajaan lokal, dan Republik Indonesia yang baru berdiri.

Andi Pangerang Pettarani lahir pada 14 Mei 1903 di Mangasa. Ia berasal dari lingkungan bangsawan Sulawesi Selatan. Ayahnya adalah Andi Mappanyukki, yang kelak menjadi Raja Bone ke-32, sedangkan ibunya, I Batasai Daeng Taco, berasal dari keluarga ningrat.

BACA JUGA:  Mengenal Tokoh Sulawesi Selatan dari Berbagai Masa: Jejak Kepemimpinan yang Membentuk Indonesia

Hubungan keluarganya juga bersinggungan dengan lingkungan bangsawan Gowa. Pettarani kemudian tumbuh dengan latar sosial yang dekat dengan pemerintahan tradisional, tetapi perjalanan hidupnya justru membawanya masuk ke dunia birokrasi modern.

Ia menempuh pendidikan hingga OSVIA di Makassar. Bekal tersebut menjadi jalan baginya untuk memasuki dunia pamong praja dan menjalani karier pemerintahan sejak usia muda.

Karier Pemerintahan yang Membawanya ke Puncak Kekuasaan

Sebelum dikenal sebagai gubernur, Pettarani lebih dahulu melewati perjalanan panjang sebagai birokrat.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru