Jalan Andi Pangerang Pettarani, Mengenang 51 Tahun Wafatnya Gubernur Sulawesi Terakhir

Bersama Sam Ratulangi dan Andi Sultan Daeng Radja, Pettarani menjadi bagian dari perwakilan Sulawesi dalam momentum penting pembentukan pemerintahan Indonesia setelah Proklamasi.

Dengan pengalaman sebagai birokrat sekaligus keterlibatannya dalam perjuangan, Pettarani kemudian memiliki modal politik yang kuat ketika kembali menjalankan pemerintahan daerah.

Godfather: Hidup Sederhana, Pilih Naik Becak

Ada sisi lain dari Pettarani yang membuat kisahnya tidak berhenti pada daftar jabatan.

Ia dikenal sebagai pemimpin yang menjalani kehidupan sederhana meski berada di lingkungan elite dan pernah menduduki jabatan gubernur.

Salah satu kisah yang menggambarkan karakter tersebut terjadi ketika Pettarani hendak pergi mencukur rambut bersama anaknya. Sang anak menyiapkan mobil sedan untuk perjalanan itu. Namun, Pettarani justru memilih menggunakan becak.

Di atas becak, ia mengingatkan anaknya agar tidak merasa lebih tinggi hanya karena berasal dari keluarga raja atau anak seorang gubernur.

“Kita harus merasakan hidup sebagai orang biasa, jangan sombong walau seorang anak gubernur atau raja sekalipun. Tidak selamanya mempunyai mobil dan tidak selamanya menjadi anak gubernur atau raja.”

Pesan tersebut menggambarkan cara Pettarani memandang jabatan, fasilitas dan kekuasaan bukan sesuatu yang bersifat kekal.

BACA JUGA:  Mengenal Tokoh Sulawesi Selatan dari Berbagai Masa: Jejak Kepemimpinan yang Membentuk Indonesia

Kisah kesederhanaannya juga disebut terlihat dari sikapnya terhadap harta warisan. Sebagian tanah yang dimilikinya diberikan kepada masyarakat. Ia bahkan dikisahkan pernah menolak pemberian rumah mewah karena memilih tetap tinggal di rumahnya sendiri.

Cerita-cerita tersebut memperkuat citra Pettarani sebagai figur yang dekat dengan masyarakat. Dalam sejumlah catatan lokal, ia bahkan dikenal dengan julukan “Godfather” karena pengaruh dan kedekatannya dengan masyarakat Sulawesi Selatan.

Dari Nama Jalan hingga Bagian dari Wajah Makassar

Andi Pangerang Pettarani meninggal dunia pada 12 Agustus 1975 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar.

Ziarah makam AP Pettarani di Taman Makam Pahlawan Panaikang

Namun, wafatnya Pettarani tidak mengakhiri jejak namanya di ruang publik. Penghormatan terhadap sosoknya kemudian hadir melalui berbagai fasilitas dan tempat yang menggunakan namanya.

Di Makassar, namanya diabadikan menjadi Jalan Andi Pangerang Pettarani, salah satu ruas jalan utama yang kini menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat. Kawasan di sepanjang jalan tersebut berkembang menjadi salah satu koridor perkotaan dengan aktivitas perdagangan, perkantoran, pendidikan, dan berbagai kegiatan masyarakat.

BACA JUGA:  Jejak Tokoh-tokoh Sulawesi Selatan dalam Sejarah Indonesia Modern

Bersama Sam Ratulangi dan Andi Sultan Daeng Radja, Pettarani menjadi bagian dari perwakilan Sulawesi dalam momentum penting pembentukan pemerintahan Indonesia setelah Proklamasi.

Dengan pengalaman sebagai birokrat sekaligus keterlibatannya dalam perjuangan, Pettarani kemudian memiliki modal politik yang kuat ketika kembali menjalankan pemerintahan daerah.

Godfather: Hidup Sederhana, Pilih Naik Becak

Ada sisi lain dari Pettarani yang membuat kisahnya tidak berhenti pada daftar jabatan.

Ia dikenal sebagai pemimpin yang menjalani kehidupan sederhana meski berada di lingkungan elite dan pernah menduduki jabatan gubernur.

Salah satu kisah yang menggambarkan karakter tersebut terjadi ketika Pettarani hendak pergi mencukur rambut bersama anaknya. Sang anak menyiapkan mobil sedan untuk perjalanan itu. Namun, Pettarani justru memilih menggunakan becak.

Di atas becak, ia mengingatkan anaknya agar tidak merasa lebih tinggi hanya karena berasal dari keluarga raja atau anak seorang gubernur.

“Kita harus merasakan hidup sebagai orang biasa, jangan sombong walau seorang anak gubernur atau raja sekalipun. Tidak selamanya mempunyai mobil dan tidak selamanya menjadi anak gubernur atau raja.”

Pesan tersebut menggambarkan cara Pettarani memandang jabatan, fasilitas dan kekuasaan bukan sesuatu yang bersifat kekal.

BACA JUGA:  Sulsel Siapkan 300 Pompa Air Hadapi El Nino, Sumur Bor Juga Disiapkan untuk Lahan Kering

Kisah kesederhanaannya juga disebut terlihat dari sikapnya terhadap harta warisan. Sebagian tanah yang dimilikinya diberikan kepada masyarakat. Ia bahkan dikisahkan pernah menolak pemberian rumah mewah karena memilih tetap tinggal di rumahnya sendiri.

Cerita-cerita tersebut memperkuat citra Pettarani sebagai figur yang dekat dengan masyarakat. Dalam sejumlah catatan lokal, ia bahkan dikenal dengan julukan “Godfather” karena pengaruh dan kedekatannya dengan masyarakat Sulawesi Selatan.

Dari Nama Jalan hingga Bagian dari Wajah Makassar

Andi Pangerang Pettarani meninggal dunia pada 12 Agustus 1975 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar.

Ziarah makam AP Pettarani di Taman Makam Pahlawan Panaikang

Namun, wafatnya Pettarani tidak mengakhiri jejak namanya di ruang publik. Penghormatan terhadap sosoknya kemudian hadir melalui berbagai fasilitas dan tempat yang menggunakan namanya.

Di Makassar, namanya diabadikan menjadi Jalan Andi Pangerang Pettarani, salah satu ruas jalan utama yang kini menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat. Kawasan di sepanjang jalan tersebut berkembang menjadi salah satu koridor perkotaan dengan aktivitas perdagangan, perkantoran, pendidikan, dan berbagai kegiatan masyarakat.

BACA JUGA:  Jalan Sultan Alauddin di Makassar, Siapa Sosok Raja Gowa di Balik Namanya?

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru