Bedah Buku Money Politics dan Demokrasi Elektoral, Nur Thamzil Thahir: Lebih Dekat ke Sastra Reflektif

SulawesiPos.com – Diskusi publik dan bedah buku “Money Politics dan Demokrasi Elektoral” karya Mustamin Raga menghadirkan beragam perspektif, salah satunya dari kalangan jurnalis senior.

Pemimpin Redaksi Tribun Timur, Nur Thamzil Tahir, menegaskan bahwa sudut pandangnya dalam forum tersebut lebih sebagai resensiator atau penelaah, bukan akademisi.

Ia mengawali dengan menjelaskan perbedaan mendasar antara wartawan dan akademisi.

Menurutnya, wartawan cenderung memahami banyak hal secara umum, sementara akademisi mendalami satu bidang secara mendalam.

Dinilai Lebih Dekat ke Karya Sastra

Setelah membaca buku setebal 212 halaman tersebut, Thamzil menilai karya tersebut lebih mendekati bentuk prosa reflektif dibanding tulisan ilmiah tentang politik uang.

Ia menyebut gaya penulisan buku tersebut cenderung menggunakan pendekatan sastra, dengan banyak mengutip pemikiran filsuf seperti Francis Fukuyama, John Locke, dan Jean-Jacques Rousseau.

“Dari bacaannya, ini lebih anak sastra dibandingkan seorang yang membahas money politics,” ujarnya.

Menurutnya, isi buku lebih berupa refleksi pemikiran penulis yang dikombinasikan dengan kutipan tokoh-tokoh filsafat, alih-alih analisis berbasis data empiris.

BACA JUGA: 
Jarak Kata dan Kenyataan, Membaca Komunikasi Politik Presiden di Era Media Sosial

Kritik utama yang disampaikan adalah tidak ditemukannya data konkret dalam buku tersebut, seperti angka, lokasi kejadian, maupun aktor yang terlibat dalam praktik politik uang.

Ia menegaskan bahwa dalam perspektif jurnalistik, fakta merupakan elemen penting, termasuk unsur nama, tempat, dan waktu kejadian.

“Saya tidak menemukan sama sekali angka tentang money politics di Indonesia,” katanya.

Sebagai perbandingan, ia menyinggung karya Burhanuddin Muhtadi yang dikenal luas melalui riset-riset empiris tentang politik uang di Indonesia.

Catatan pada Struktur Buku

Selain substansi, Thamzil juga menyoroti aspek teknis buku, seperti tidak adanya indeks (indexing) yang memudahkan pembaca menelusuri topik atau tokoh tertentu.

Menurutnya, keberadaan indeks, baik subjek, objek, maupun geografis menjadi penting dalam karya modern, terutama di era digital yang mengandalkan kata kunci.

Ia juga menilai bagian lampiran (appendix) belum menghadirkan data lapangan yang kuat, karena hanya berisi testimoni dari kalangan elite, tanpa menghadirkan perspektif masyarakat sebagai pihak yang terdampak langsung.

BACA JUGA: 
Pertemuan Saudagar Bugis Makassar: Panggung Megah, Rakyat Menunggu

Tantangan Karya di Era Digital

Dalam forum tersebut, Thamzil turut menyinggung tantangan penulisan di era kecerdasan buatan (AI).

Ia menyebut karya berbasis opini dan deskripsi umum kini dapat dengan mudah dihasilkan melalui teknologi.

Karena itu, ia menilai pentingnya menghadirkan data, riset, dan kedalaman analisis sebagai pembeda utama sebuah karya.

Meski menyampaikan sejumlah kritik, Thamzil tetap memberikan apresiasi terhadap penulis yang telah menghasilkan karya dan berkontribusi dalam diskursus publik.

Ia menilai keberanian menulis dan menerbitkan buku tetap menjadi hal penting dalam memperkaya literasi dan referensi, khususnya dalam isu demokrasi elektoral.

SulawesiPos.com – Diskusi publik dan bedah buku “Money Politics dan Demokrasi Elektoral” karya Mustamin Raga menghadirkan beragam perspektif, salah satunya dari kalangan jurnalis senior.

Pemimpin Redaksi Tribun Timur, Nur Thamzil Tahir, menegaskan bahwa sudut pandangnya dalam forum tersebut lebih sebagai resensiator atau penelaah, bukan akademisi.

Ia mengawali dengan menjelaskan perbedaan mendasar antara wartawan dan akademisi.

Menurutnya, wartawan cenderung memahami banyak hal secara umum, sementara akademisi mendalami satu bidang secara mendalam.

Dinilai Lebih Dekat ke Karya Sastra

Setelah membaca buku setebal 212 halaman tersebut, Thamzil menilai karya tersebut lebih mendekati bentuk prosa reflektif dibanding tulisan ilmiah tentang politik uang.

Ia menyebut gaya penulisan buku tersebut cenderung menggunakan pendekatan sastra, dengan banyak mengutip pemikiran filsuf seperti Francis Fukuyama, John Locke, dan Jean-Jacques Rousseau.

“Dari bacaannya, ini lebih anak sastra dibandingkan seorang yang membahas money politics,” ujarnya.

Menurutnya, isi buku lebih berupa refleksi pemikiran penulis yang dikombinasikan dengan kutipan tokoh-tokoh filsafat, alih-alih analisis berbasis data empiris.

BACA JUGA: 
Bedah Buku Money Politics dan Demokrasi Elektoral, Guru Besar Ilmu Politik Unhas: Politik Uang Musuh Bersama Kita

Kritik utama yang disampaikan adalah tidak ditemukannya data konkret dalam buku tersebut, seperti angka, lokasi kejadian, maupun aktor yang terlibat dalam praktik politik uang.

Ia menegaskan bahwa dalam perspektif jurnalistik, fakta merupakan elemen penting, termasuk unsur nama, tempat, dan waktu kejadian.

“Saya tidak menemukan sama sekali angka tentang money politics di Indonesia,” katanya.

Sebagai perbandingan, ia menyinggung karya Burhanuddin Muhtadi yang dikenal luas melalui riset-riset empiris tentang politik uang di Indonesia.

Catatan pada Struktur Buku

Selain substansi, Thamzil juga menyoroti aspek teknis buku, seperti tidak adanya indeks (indexing) yang memudahkan pembaca menelusuri topik atau tokoh tertentu.

Menurutnya, keberadaan indeks, baik subjek, objek, maupun geografis menjadi penting dalam karya modern, terutama di era digital yang mengandalkan kata kunci.

Ia juga menilai bagian lampiran (appendix) belum menghadirkan data lapangan yang kuat, karena hanya berisi testimoni dari kalangan elite, tanpa menghadirkan perspektif masyarakat sebagai pihak yang terdampak langsung.

BACA JUGA: 
Dari Meja Makan ke Isu Demokrasi: Awal Hangat Bedah Buku yang Bikin Penasaran

Tantangan Karya di Era Digital

Dalam forum tersebut, Thamzil turut menyinggung tantangan penulisan di era kecerdasan buatan (AI).

Ia menyebut karya berbasis opini dan deskripsi umum kini dapat dengan mudah dihasilkan melalui teknologi.

Karena itu, ia menilai pentingnya menghadirkan data, riset, dan kedalaman analisis sebagai pembeda utama sebuah karya.

Meski menyampaikan sejumlah kritik, Thamzil tetap memberikan apresiasi terhadap penulis yang telah menghasilkan karya dan berkontribusi dalam diskursus publik.

Ia menilai keberanian menulis dan menerbitkan buku tetap menjadi hal penting dalam memperkaya literasi dan referensi, khususnya dalam isu demokrasi elektoral.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru