SulawesiPos.com — Pendiri sekaligus Ketua Dewan Pembina Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM) Serpong, Tamsil Linrung, menyampaikan permohonan maaf yang mendalam terkait kasus dugaan pelecehan seksual dan insiden perundungan yang terjadi di lingkungan sekolahnya.
Anggota DPD RI asal Sulawesi Selatan tersebut menegaskan bahwa pihaknya menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada aparat penegak hukum tanpa adanya intervensi.
“Kepada siswa dan keluarga yang terdampak, saya menghaturkan permohonan maaf yang tulus dan sedalam-dalamnya. Tidak ada kata yang cukup untuk menghapus rasa sakit akibat tindakan yang mencederai kemanusiaan dan keselamatan anak,” tegas Tamsil Linrung dalam keterangan resminya, lewat akun Instagram pribadinya, Selasa (29/9/2026).
Mengenai penanganan kasus dugaan pelecehan, Tamsil menegaskan komitmen yayasan untuk tidak memberikan perlindungan atau perlakuan khusus kepada siapa pun yang terlibat.
“Sikap kami tegas. Kami mendukung penuh proses yang bergulir di ranah aparat penegak hukum. Tidak ada intervensi dari saya, dari yayasan, atau dari siapa pun. Tidak ada perlakuan istimewa bagi siswa mana pun, apa pun latar belakang orang tuanya,” ujar Tamsil.
Sebagai langkah perbaikan konkret, Tamsil menyatakan pihak yayasan menanggung penuh pendampingan psikologis korban, melakukan evaluasi sistem secara menyeluruh, hingga memperketat mitigasi dengan melarang bimbingan satu-per-satu di ruang tertutup.
Pihak sekolah juga akan membentuk forum pengawasan bersama yang melibatkan perwakilan orang tua murid dan pemerintah.
Sebelumnya, kasus ini menyeruak ke publik setelah seorang guru sekolah internasional ICM dilaporkan ke polisi atas dugaan pelecehan seksual terhadap siswinya sejak korban duduk di kelas 4 SD (tahun ajaran 2023–2024) hingga menginjak jenjang SMP.
Kuasa hukum korban, Muhammad Fadhli, mengungkapkan bahwa terduga pelaku melancarkan aksinya menggunakan modus child grooming atau pendekatan manipulatif berkedok kegiatan les privat mengaji usai jam sekolah reguler. Pelaku diduga melakukan kontak fisik, mempertonjolkan video pornografi, hingga meminta foto tidak senonoh dari korban.
“Kasus ini akhirnya terbongkar setelah korban memiliki keberanian untuk menceritakan peristiwa yang dialaminya kepada pelatih taekwondo. Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis, korban kini didiagnosis mengalami depresi dan trauma berat,” ungkap Fadhli, Senin (28/9/2026).
Selain kasus dugaan pelecehan yang tengah ditangani polisi, ICM belakangan ini juga disorot akibat insiden perundungan (bullying) pada kegiatan Pramuka yang terjadi pada akhir Agustus lalu. Kasus tersebut saat ini dalam penanganan internal manajemen sekolah serta dilaporkan ke Pokja Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.


