Rupiah Kembali Menguat ke Rp17.969 per Dolar AS, Pasar Respons Positif Kenaikan BI Rate

SulawesiPos.com – Nilai tukar rupiah menunjukkan tanda-tanda penguatan pada awal perdagangan Rabu (10/6/2026).

Mata uang Garuda tercatat bergerak naik terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah Bank Indonesia mengambil langkah pengetatan kebijakan moneter sehari sebelumnya.

Berdasarkan pantauan SulawesiPos.com melalui data Google Finance, rupiah diperdagangkan di level Rp17.969 per dolar AS pada perdagangan pagi.

Posisi tersebut menunjukkan perbaikan dibanding pergerakan beberapa hari terakhir yang sempat berada di level Rp18.000.

Penguatan rupiah terjadi setelah Bank Indonesia memutuskan menaikkan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar pada Selasa (9/6/2026).

Direktur Executif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam siaran pers-nya, menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat konflik di Timur Tengah.

“Kenaikan ini juga sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan pemerintah,” ujar Ramdan.

BACA JUGA:  DPR Minta Pemerintah dan BI Perkuat Kepercayaan Pasar di Tengah Rupiah Melemah

Dalam keputusan terbaru, BI menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

Kenaikan juga berlaku pada suku bunga Deposit Facility yang kini berada di level 4,50 persen serta Lending Facility yang naik menjadi 6,25 persen.

Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal kuat bahwa bank sentral berkomitmen menjaga daya tarik aset keuangan domestik sekaligus memperkuat kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Di tengah tekanan eksternal yang masih membayangi pasar keuangan global, kebijakan suku bunga yang lebih tinggi berpotensi membantu menahan arus keluar modal dan mendukung pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

SulawesiPos.com – Nilai tukar rupiah menunjukkan tanda-tanda penguatan pada awal perdagangan Rabu (10/6/2026).

Mata uang Garuda tercatat bergerak naik terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah Bank Indonesia mengambil langkah pengetatan kebijakan moneter sehari sebelumnya.

Berdasarkan pantauan SulawesiPos.com melalui data Google Finance, rupiah diperdagangkan di level Rp17.969 per dolar AS pada perdagangan pagi.

Posisi tersebut menunjukkan perbaikan dibanding pergerakan beberapa hari terakhir yang sempat berada di level Rp18.000.

Penguatan rupiah terjadi setelah Bank Indonesia memutuskan menaikkan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar pada Selasa (9/6/2026).

Direktur Executif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam siaran pers-nya, menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat konflik di Timur Tengah.

“Kenaikan ini juga sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan pemerintah,” ujar Ramdan.

BACA JUGA:  Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp16.950, Sentimen Greenland dan BI Jadi Sorotan

Dalam keputusan terbaru, BI menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

Kenaikan juga berlaku pada suku bunga Deposit Facility yang kini berada di level 4,50 persen serta Lending Facility yang naik menjadi 6,25 persen.

Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal kuat bahwa bank sentral berkomitmen menjaga daya tarik aset keuangan domestik sekaligus memperkuat kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Di tengah tekanan eksternal yang masih membayangi pasar keuangan global, kebijakan suku bunga yang lebih tinggi berpotensi membantu menahan arus keluar modal dan mendukung pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru