SulawesiPos.com – Nama Agustina Arumsari mendadak berada di pusat sorotan setelah Nanik S Deyang mundur dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pada Rabu, 22 Juli 2026. Hingga Rabu siang belum ada pengumuman resmi dari Istana mengenai siapa kepala BGN definitif yang baru, tetapi posisi Agustina sebagai Wakil Kepala BGN, rekam jejak panjangnya di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), serta intensitas tampilnya di ruang publik membuat ia disebut sebagai calon kuat pengganti Nanik.
Agustina bukan figur yang muncul tiba-tiba. Ia datang dari jalur birokrasi pengawasan keuangan negara, sebuah lintasan yang justru relevan dengan tantangan BGN saat ini.
Saat Presiden Prabowo Subianto merombak pimpinan BGN pada Selasa, 2 Juni 2026, Agustina ditunjuk menjadi Wakil Kepala BGN bersama Mayjen TNI Trenggono.
Pemerintah saat itu menegaskan kepemimpinan baru BGN diharapkan memperkuat tata kelola organisasi, mempercepat program prioritas, dan memastikan pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan lebih akuntabel.
Sebelum masuk ke BGN, Agustina lebih dulu dikenal sebagai birokrat karier di BPKP. ANTARA mencatat ia sempat menjabat sebagai Wakil Kepala BPKP sejak Februari 2025, sebuah jabatan yang juga membuatnya mencatat sejarah sebagai wakil kepala pertama di lembaga itu sejak BPKP berdiri pada 1983.
Jejak tersebut menjadi salah satu penanda penting dalam kariernya, karena menunjukkan tingkat kepercayaan negara terhadap kapasitasnya di bidang pengawasan dan akuntabilitas.
Dari sisi pendidikan, Agustina menempuh Diploma III dan Diploma IV di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), masing-masing selesai pada 1992 dan 1998.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan Magister Hukum di Universitas Indonesia dan lulus pada 2014.
Kombinasi latar keuangan negara dan hukum itu ikut membentuk profilnya sebagai pejabat yang kuat di wilayah audit, investigasi, dan tata kelola.
Karier Agustina di BPKP juga dibangun dari bawah, bukan lewat jalur instan. Ia pernah bertugas sebagai Asisten Pengawas Keuangan dan Pembangunan Madya di Perwakilan BPKP Sumatera Barat.
Setelah itu, ia masuk ke sejumlah posisi strategis, antara lain Direktur Investigasi BUMN dan BUMD pada 2017, Direktur Investigasi III pada 2019, lalu Deputi Kepala BPKP Bidang Investigasi sejak 2020 hingga 2025.
Pengalaman panjang di bidang investigasi inilah yang membuat namanya menonjol ketika negara membutuhkan figur dengan latar pengawasan kuat.
Salah satu fase yang ikut mengangkat profil publik Agustina adalah keterlibatannya dalam penghitungan kerugian negara pada perkara besar.
Ia menjadi salah satu pejabat yang terlibat dalam penyampaian hasil penghitungan kerugian negara pada kasus dugaan korupsi tata niaga timah kepada Kejaksaan Agung pada 2024.
Peran seperti itu memperlihatkan bahwa kiprahnya bukan hanya administratif, melainkan juga menyentuh kasus-kasus besar yang sensitif secara hukum dan fiskal.
Di luar jabatan formal, Agustina juga dikenal memiliki banyak sertifikasi profesional di bidang audit, investigasi, dan manajemen risiko.
Sejumlah sertifikasi yang tercatat antara lain Certified Fraud Examiner (CFE), Certified Forensic Auditor (CFrA), Chartered Accountant (CA), Qualified Internal Auditor (QIA), Certified Government Chief Audit Executive (CGCAE), dan Certified Internal Audit Executive (CIAE). Bekal ini memperkuat citranya sebagai pejabat teknokratis dengan fondasi kuat di bidang pengawasan.
Sejak masuk ke BGN, Agustina tidak sekadar menjadi pelengkap struktur. Dalam beberapa pekan terakhir, ia justru semakin sering tampil mewakili lembaga. Pada 15 Juli 2026, ia menyampaikan arahan Presiden Prabowo agar pelaksanaan MBG diprioritaskan untuk kelompok yang benar-benar membutuhkan.
Pada 17 Juli 2026, ia juga muncul dalam penjelasan soal tunggakan BGN kepada pihak ketiga pada 2025.
Lalu pada 21 Juli 2026, sehari sebelum Nanik mundur, Agustina memperkenalkan lima pejabat tinggi madya baru BGN dan memberi penjelasan mengenai peluang pemanfaatan motor listrik pengadaan BGN oleh kementerian atau lembaga lain.
Rangkaian penampilan itu membuat Agustina terlihat bukan hanya aktif, tetapi juga mulai berada di garis depan komunikasi publik BGN. Dalam konteks lembaga yang sedang berada di bawah tekanan pembenahan tata kelola, figur dengan latar investigasi, audit, dan manajemen risiko seperti dirinya dipandang cocok untuk memperkuat fase konsolidasi.
Karena itu, ketika publik mulai bertanya siapa pengganti Nanik S Deyang, nama Agustina Arumsari cepat sekali mengemuka.
Sampai Rabu, 22 Juli 2026, statusnya masih Wakil Kepala BGN dan belum ada keputusan resmi dari Istana yang menetapkannya sebagai kepala definitif.
Namun jika ukuran yang dipakai adalah posisi struktural, pengalaman birokrasi, sejarah karier di BPKP, serta perannya yang belakangan semakin dominan di BGN, Agustina saat ini memang menjadi salah satu figur paling kuat dalam bursa suksesi pucuk pimpinan Badan Gizi Nasional.


