Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Ini Pemicunya

SulawesiPos.com – Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Selasa (12/5/2026), mata uang Garuda bahkan menyentuh level Rp17.500 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut hingga menyentuh kisaran Rp17.550 per dolar AS dalam pekan ini.

Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang membuat investor lebih memilih aset safe haven berbasis dolar AS.

Ibrahim menjelaskan, faktor eksternal utama berasal dari kembali memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Situasi memanas setelah Amerika Serikat disebut menolak proposal Iran yang dimediasi Pakistan dan Qatar.

“Penolakan ini membuat ketegangan baru karena serangan-serangan kecil masih terjadi di Selat Hormuz,” ujar Ibrahim, dikutip dari JawaPos, Selasa (12/5/2026).

Menurut dia, kondisi di Selat Hormuz menjadi perhatian pasar karena kawasan tersebut merupakan jalur penting distribusi minyak dunia.

Ia menyebut Iran masih melakukan serangan balasan terhadap pasukan AS di kawasan tersebut, sementara Uni Emirat Arab juga disebut terus melancarkan serangan ke Iran, termasuk yang menyasar fasilitas kilang minyak di Pulau Lavan.

BACA JUGA: 
Dolar AS Terendah dalam 4 Tahun: Ancaman bagi Washington, Peluang Strategis bagi Indonesia

Kondisi geopolitik tersebut dinilai memicu penguatan indeks dolar AS sekaligus mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia, khususnya Brent crude oil.

“Ini yang membuat indeks dolar kembali mengalami penguatan cukup signifikan sehingga berdampak terhadap kenaikan harga minyak mentah,” katanya.

Faktor Domestik Turut Tekan Rupiah

Selain sentimen global, Ibrahim menilai pelemahan rupiah juga dipengaruhi faktor domestik.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen dinilai belum cukup kuat menopang penguatan rupiah karena masih didorong konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah.

“Pembentukan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 itu dari konsumsi masyarakat dan belanja negara. Dampaknya terhadap investasi sangat kecil,” ujarnya.

Di sisi lain, pasar juga menunggu keputusan MSCI terkait evaluasi pasar saham Indonesia dalam beberapa hari mendatang.

Pelaku pasar khawatir adanya potensi penurunan peringkat pasar saham Indonesia yang dapat memicu arus keluar modal asing.

“Ini yang membuat rupiah kembali mengalami pelemahan,” pungkas Ibrahim.

BACA JUGA: 
Rupiah Berpeluang Menguat, Ketegangan Global Mereda Usai Pernyataan Trump soal Selat Hormuz

 

SulawesiPos.com – Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Selasa (12/5/2026), mata uang Garuda bahkan menyentuh level Rp17.500 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut hingga menyentuh kisaran Rp17.550 per dolar AS dalam pekan ini.

Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang membuat investor lebih memilih aset safe haven berbasis dolar AS.

Ibrahim menjelaskan, faktor eksternal utama berasal dari kembali memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Situasi memanas setelah Amerika Serikat disebut menolak proposal Iran yang dimediasi Pakistan dan Qatar.

“Penolakan ini membuat ketegangan baru karena serangan-serangan kecil masih terjadi di Selat Hormuz,” ujar Ibrahim, dikutip dari JawaPos, Selasa (12/5/2026).

Menurut dia, kondisi di Selat Hormuz menjadi perhatian pasar karena kawasan tersebut merupakan jalur penting distribusi minyak dunia.

Ia menyebut Iran masih melakukan serangan balasan terhadap pasukan AS di kawasan tersebut, sementara Uni Emirat Arab juga disebut terus melancarkan serangan ke Iran, termasuk yang menyasar fasilitas kilang minyak di Pulau Lavan.

BACA JUGA: 
Rupiah Sentuh Titik Terlemah, HSBC Prediksi Tembus Rp17.000 per Dolar AS pada Akhir 2026

Kondisi geopolitik tersebut dinilai memicu penguatan indeks dolar AS sekaligus mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia, khususnya Brent crude oil.

“Ini yang membuat indeks dolar kembali mengalami penguatan cukup signifikan sehingga berdampak terhadap kenaikan harga minyak mentah,” katanya.

Faktor Domestik Turut Tekan Rupiah

Selain sentimen global, Ibrahim menilai pelemahan rupiah juga dipengaruhi faktor domestik.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen dinilai belum cukup kuat menopang penguatan rupiah karena masih didorong konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah.

“Pembentukan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 itu dari konsumsi masyarakat dan belanja negara. Dampaknya terhadap investasi sangat kecil,” ujarnya.

Di sisi lain, pasar juga menunggu keputusan MSCI terkait evaluasi pasar saham Indonesia dalam beberapa hari mendatang.

Pelaku pasar khawatir adanya potensi penurunan peringkat pasar saham Indonesia yang dapat memicu arus keluar modal asing.

“Ini yang membuat rupiah kembali mengalami pelemahan,” pungkas Ibrahim.

BACA JUGA: 
Rupiah Tembus Rp17.500, Pemerintah Siap Bantu BI dengan Intervensi Pasar Obligasi Mulai Besok

 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru