Jadikan Selat Hormuz Sebagai Senjata Politik, Iran: Dapat Pengaruhi Seluruh Ekonomi Dunia

SulawesiPos.com – Pemerintah Iran mulai secara terbuka menempatkan Selat Hormuz sebagai aset strategis utama di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut disampaikan sejumlah pejabat tinggi Iran hingga tokoh dekat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Teheran menilai jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu kini memiliki nilai strategis setara program nuklir Iran karena mampu memengaruhi stabilitas ekonomi global.

Penasihat senior Khamenei, Mohamad Mokhber, mengatakan kemampuan Iran mengendalikan Selat Hormuz dapat menjadi alat tekanan global yang sangat kuat.

“Ketika Anda memiliki kemampuan yang bisa memengaruhi seluruh ekonomi dunia hanya dengan satu keputusan, itu adalah kemampuan yang sangat besar,” ujar Mokhber kepada kantor berita Mehr.

Mokhber menegaskan Iran tidak akan melepaskan kendali strategis atas Selat Hormuz.

Menurutnya, pemerintah Iran bahkan tengah mendorong perubahan tata kelola selat tersebut melalui jalur internasional maupun regulasi domestik yang didukung parlemen garis keras Iran.

BACA JUGA: 
Ketegangan Energi Global Belum Mereda, Tiongkok Tolak Sanksi AS atas Minyak Iran

Retorika keras Teheran muncul saat negosiasi dengan Washington terkait proposal kesepakatan baru masih mengalami kebuntuan.

Meski pemerintah AS disebut menunggu respons Iran melalui mediator, Teheran memberi sinyal tidak akan tunduk pada tekanan tenggat waktu dari Presiden Donald Trump.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pemerintah Iran tetap menjalankan proses negosiasi sesuai kepentingannya sendiri.

“Kami melakukan pekerjaan kami sendiri, kami tidak memperhatikan tenggat waktu atau penentuan waktu,” kata Baghaei.

Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, juga menyebut penguasaan Selat Hormuz menjadi alat penting untuk menghadapi tekanan ekonomi Amerika Serikat, khususnya embargo ekspor minyak Iran.

Menurutnya, kebijakan Washington justru memperkuat posisi Iran terhadap jalur pelayaran strategis tersebut.

“Kami tidak akan lagi menghadapi sesuatu yang disebut sanksi,” ujar Aref seperti dikutip Al Jazeera.

Ia menambahkan Iran tetap berkomitmen menjaga keamanan pelayaran di kawasan tersebut sambil memastikan negara-negara regional masih dapat memanfaatkan jalur perdagangan energi dunia itu.

BACA JUGA: 
AS Kirim Negosiator ke Pakistan, Konflik Iran di Selat Hormuz Kian Memanas

Jalur Vital Energi Dunia

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.

Sekitar seperlima pasokan minyak global melintasi kawasan tersebut setiap harinya.

Karena itu, gangguan kecil di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga minyak dunia serta mengguncang pasar keuangan internasional.

Pernyataan terbaru Iran dinilai memperlihatkan bahwa Teheran kini semakin mengandalkan kekuatan geopolitik kawasan sebagai alat tawar menghadapi tekanan Barat dan sanksi ekonomi yang berkepanjangan.

 

SulawesiPos.com – Pemerintah Iran mulai secara terbuka menempatkan Selat Hormuz sebagai aset strategis utama di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut disampaikan sejumlah pejabat tinggi Iran hingga tokoh dekat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Teheran menilai jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu kini memiliki nilai strategis setara program nuklir Iran karena mampu memengaruhi stabilitas ekonomi global.

Penasihat senior Khamenei, Mohamad Mokhber, mengatakan kemampuan Iran mengendalikan Selat Hormuz dapat menjadi alat tekanan global yang sangat kuat.

“Ketika Anda memiliki kemampuan yang bisa memengaruhi seluruh ekonomi dunia hanya dengan satu keputusan, itu adalah kemampuan yang sangat besar,” ujar Mokhber kepada kantor berita Mehr.

Mokhber menegaskan Iran tidak akan melepaskan kendali strategis atas Selat Hormuz.

Menurutnya, pemerintah Iran bahkan tengah mendorong perubahan tata kelola selat tersebut melalui jalur internasional maupun regulasi domestik yang didukung parlemen garis keras Iran.

BACA JUGA: 
WFH hingga Potong Gaji, Ini Deretan Negara yang Ambil Langkah Darurat Akibat Konflik Timur Tengah

Retorika keras Teheran muncul saat negosiasi dengan Washington terkait proposal kesepakatan baru masih mengalami kebuntuan.

Meski pemerintah AS disebut menunggu respons Iran melalui mediator, Teheran memberi sinyal tidak akan tunduk pada tekanan tenggat waktu dari Presiden Donald Trump.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pemerintah Iran tetap menjalankan proses negosiasi sesuai kepentingannya sendiri.

“Kami melakukan pekerjaan kami sendiri, kami tidak memperhatikan tenggat waktu atau penentuan waktu,” kata Baghaei.

Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, juga menyebut penguasaan Selat Hormuz menjadi alat penting untuk menghadapi tekanan ekonomi Amerika Serikat, khususnya embargo ekspor minyak Iran.

Menurutnya, kebijakan Washington justru memperkuat posisi Iran terhadap jalur pelayaran strategis tersebut.

“Kami tidak akan lagi menghadapi sesuatu yang disebut sanksi,” ujar Aref seperti dikutip Al Jazeera.

Ia menambahkan Iran tetap berkomitmen menjaga keamanan pelayaran di kawasan tersebut sambil memastikan negara-negara regional masih dapat memanfaatkan jalur perdagangan energi dunia itu.

BACA JUGA: 
Ketegangan Energi Global Belum Mereda, Tiongkok Tolak Sanksi AS atas Minyak Iran

Jalur Vital Energi Dunia

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.

Sekitar seperlima pasokan minyak global melintasi kawasan tersebut setiap harinya.

Karena itu, gangguan kecil di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga minyak dunia serta mengguncang pasar keuangan internasional.

Pernyataan terbaru Iran dinilai memperlihatkan bahwa Teheran kini semakin mengandalkan kekuatan geopolitik kawasan sebagai alat tawar menghadapi tekanan Barat dan sanksi ekonomi yang berkepanjangan.

 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru