Jalan Monginsidi, Jejak Pejuang Muda Makassar yang Dieksekusi Mati Belanda di Usia 24 Tahun

SulawesiPos.com – Di salah satu ruas jalan Kota Makassar, nama Wolter Monginsidi terus hidup di tengah aktivitas masyarakat.

Jalan yang panjangnya sekitar 1 kilometer itu kini dipenuhi aktivitas pendidikan, usaha, dan kuliner.

Namun, nama yang tertera di jalan tersebut berasal dari seorang pemuda yang menghabiskan masa mudanya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Robert Wolter Mongisidi atau Robert Wolter Monginsidi lahir di Malalayang, yang kini menjadi bagian dari Kota Manado, pada 14 Februari 1925.

Robert Wolter Monginsidi

Ia kemudian datang ke Makassar setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan dan terlibat dalam perlawanan terhadap kembalinya kekuasaan Belanda melalui NICA.

Di Makassar, Wolter Monginsidi menjadi salah satu tokoh penting dalam gerakan perlawanan pemuda.

Arsip Nasional Republik Indonesia mencatatnya sebagai Sekretaris Jenderal Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS), organisasi yang menghimpun berbagai kelompok kelaskaran di Sulawesi Selatan.

Perjuangannya berakhir di depan regu tembak pada 5 September 1949. Usianya ketika itu baru 24 tahun.

BACA JUGA:  Jalan Petta Punggawa: Jejak Panglima Tertinggi Bone yang Gugur dalam Perang 1905

Meski telah puluhan tahun berlalu, namanya kemudian diabadikan di berbagai tempat, termasuk salah satu ruas jalan di Makassar.

Guru Bahasa Jepang Menjadi Pejuang

Wolter Monginsidi lahir dari pasangan Petrus Mongisidi dan Lina Suawa. Di lingkungan keluarga, ia akrab dipanggil Bote.

Ia menempuh pendidikan dasar di Hollands Inlandsche School (HIS), kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Frater Don Bosco, Manado.

Robert Wolter Mongisidi diapit dua kawan seperjuangannya. (Koleksi keluarga M.A. Kamah)

Ketika pendudukan Jepang berlangsung, Monginsidi mempelajari bahasa Jepang di sekolah keguruan di Tomohon.

Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, ia sempat mengajar bahasa Jepang di Liwutung, Minahasa, dan Luwuk.

Pendidikan dan pengalamannya kemudian menjadi bekal ketika ia memilih terlibat dalam perjuangan.

SulawesiPos.com – Di salah satu ruas jalan Kota Makassar, nama Wolter Monginsidi terus hidup di tengah aktivitas masyarakat.

Jalan yang panjangnya sekitar 1 kilometer itu kini dipenuhi aktivitas pendidikan, usaha, dan kuliner.

Namun, nama yang tertera di jalan tersebut berasal dari seorang pemuda yang menghabiskan masa mudanya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Robert Wolter Mongisidi atau Robert Wolter Monginsidi lahir di Malalayang, yang kini menjadi bagian dari Kota Manado, pada 14 Februari 1925.

Robert Wolter Monginsidi

Ia kemudian datang ke Makassar setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan dan terlibat dalam perlawanan terhadap kembalinya kekuasaan Belanda melalui NICA.

Di Makassar, Wolter Monginsidi menjadi salah satu tokoh penting dalam gerakan perlawanan pemuda.

Arsip Nasional Republik Indonesia mencatatnya sebagai Sekretaris Jenderal Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS), organisasi yang menghimpun berbagai kelompok kelaskaran di Sulawesi Selatan.

Perjuangannya berakhir di depan regu tembak pada 5 September 1949. Usianya ketika itu baru 24 tahun.

BACA JUGA:  Jalan Lanto Daeng Pasewang: Jejak Gubernur Sulawesi Asal Jeneponto di Makassar

Meski telah puluhan tahun berlalu, namanya kemudian diabadikan di berbagai tempat, termasuk salah satu ruas jalan di Makassar.

Guru Bahasa Jepang Menjadi Pejuang

Wolter Monginsidi lahir dari pasangan Petrus Mongisidi dan Lina Suawa. Di lingkungan keluarga, ia akrab dipanggil Bote.

Ia menempuh pendidikan dasar di Hollands Inlandsche School (HIS), kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Frater Don Bosco, Manado.

Robert Wolter Mongisidi diapit dua kawan seperjuangannya. (Koleksi keluarga M.A. Kamah)

Ketika pendudukan Jepang berlangsung, Monginsidi mempelajari bahasa Jepang di sekolah keguruan di Tomohon.

Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, ia sempat mengajar bahasa Jepang di Liwutung, Minahasa, dan Luwuk.

Pendidikan dan pengalamannya kemudian menjadi bekal ketika ia memilih terlibat dalam perjuangan.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru