Jalan Monginsidi, Jejak Pejuang Muda Makassar yang Dieksekusi Mati Belanda di Usia 24 Tahun

Setelah kembali ditangkap, Wolter Monginsidi menjalani proses hukum dan akhirnya dijatuhi hukuman mati pada 5 September 1949.

Ia dieksekusi oleh regu tembak Belanda di kawasan Tello, Makassar, ketika usianya baru 24 tahun.

Suasana pemakaman Wolter Monginsidi 5 September 1949

Kisah mengenai sikap Wolter Monginsidi pada saat-saat terakhir kemudian menjadi bagian yang paling dikenang dari perjalanan hidupnya.

Ia disebut menolak matanya ditutup dan menggenggam Kitab Injil ketika menghadapi regu tembak.

Sebuah tulisan tangan yang disebut ditemukan dalam Injil yang dibawanya berbunyi, “Setia hingga terakhir dalam keyakinan.”

Ada pula kesaksian yang menyebut Wolter Monginsidi meneriakkan “Merdeka!” sebelum ditembak.

Jenazah Wolter Monginsidi awalnya dimakamkan di sekitar lokasi eksekusi di Pacinang. Setahun kemudian, pada 10 November 1950, makamnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar.

Keluarga Mongisidi di makam Robert Wolter Monginsidi pada 1950

Namanya Diabadikan di Berbagai Penjuru

Pengorbanannya kemudian mendapatkan pengakuan negara. Pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 1973.

Beberapa hari kemudian, pada 10 November 1973, ia juga dianugerahi Bintang Mahaputera Adipradana. Penghargaan tersebut diterima oleh ayahnya, Petrus Mongisid yang saat itu berusia 80 tahun.

BACA JUGA:  Jalan Sultan Alauddin di Makassar, Siapa Sosok Raja Gowa di Balik Namanya?

Namanya kemudian digunakan untuk berbagai fasilitas dan sarana publik. Di Sulawesi Tenggara, Bandara Wolter Monginsidi di Kendari pernah menggunakan namanya sebelum kemudian berganti menjadi Bandar Udara Haluoleo.

Namanya juga digunakan untuk KRI Monginsidi, salah satu kapal perang TNI Angkatan Laut, serta Rumah Sakit TNI AD Robert Wolter Monginsidi di Manado.

KRI Monginsidi 343

Di Makassar, penghormatan terhadapnya hadir melalui nama jalan.

Menariknya, dalam penulisan nama tokoh, sumber resmi kebudayaan dan arsip banyak menggunakan bentuk Wolter Mongisidi, sementara masyarakat lebih sering mengenalnya dengan ejaan Wolter Monginsidi.

Jalan Monginsidi di Tengah Aktivitas Kota

Setelah kembali ditangkap, Wolter Monginsidi menjalani proses hukum dan akhirnya dijatuhi hukuman mati pada 5 September 1949.

Ia dieksekusi oleh regu tembak Belanda di kawasan Tello, Makassar, ketika usianya baru 24 tahun.

Suasana pemakaman Wolter Monginsidi 5 September 1949

Kisah mengenai sikap Wolter Monginsidi pada saat-saat terakhir kemudian menjadi bagian yang paling dikenang dari perjalanan hidupnya.

Ia disebut menolak matanya ditutup dan menggenggam Kitab Injil ketika menghadapi regu tembak.

Sebuah tulisan tangan yang disebut ditemukan dalam Injil yang dibawanya berbunyi, “Setia hingga terakhir dalam keyakinan.”

Ada pula kesaksian yang menyebut Wolter Monginsidi meneriakkan “Merdeka!” sebelum ditembak.

Jenazah Wolter Monginsidi awalnya dimakamkan di sekitar lokasi eksekusi di Pacinang. Setahun kemudian, pada 10 November 1950, makamnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar.

Keluarga Mongisidi di makam Robert Wolter Monginsidi pada 1950

Namanya Diabadikan di Berbagai Penjuru

Pengorbanannya kemudian mendapatkan pengakuan negara. Pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 1973.

Beberapa hari kemudian, pada 10 November 1973, ia juga dianugerahi Bintang Mahaputera Adipradana. Penghargaan tersebut diterima oleh ayahnya, Petrus Mongisid yang saat itu berusia 80 tahun.

BACA JUGA:  Jalan Petta Punggawa: Jejak Panglima Tertinggi Bone yang Gugur dalam Perang 1905

Namanya kemudian digunakan untuk berbagai fasilitas dan sarana publik. Di Sulawesi Tenggara, Bandara Wolter Monginsidi di Kendari pernah menggunakan namanya sebelum kemudian berganti menjadi Bandar Udara Haluoleo.

Namanya juga digunakan untuk KRI Monginsidi, salah satu kapal perang TNI Angkatan Laut, serta Rumah Sakit TNI AD Robert Wolter Monginsidi di Manado.

KRI Monginsidi 343

Di Makassar, penghormatan terhadapnya hadir melalui nama jalan.

Menariknya, dalam penulisan nama tokoh, sumber resmi kebudayaan dan arsip banyak menggunakan bentuk Wolter Mongisidi, sementara masyarakat lebih sering mengenalnya dengan ejaan Wolter Monginsidi.

Jalan Monginsidi di Tengah Aktivitas Kota

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru