Jalan Kajao Laliddong, Jejak Sang Cendekiawan di Balik Kebesaran Bone

SulawesiPos.com – Nama Jalan Kajaolalido di pusat Kota Makassar menyimpan jejak seorang tokoh penting dari Kerajaan Bone.

Sosok tersebut adalah Kajao Laliddong, cendekiawan yang dikenal melalui pemikiran tentang pemerintahan, hukum, adat dan hubungan antarkerajaan di Sulawesi Selatan.

Gagasannya turut menjadi bagian dari tradisi intelektual masyarakat Bugis yang diwariskan hingga generasi berikutnya.

Jalan Kajaolalido kini menjadi bagian dari aktivitas perkotaan Makassar. Ruas sepanjang sekitar 500 meter tersebut menerapkan sistem satu arah dan berada di kawasan yang juga menjadi lokasi sejumlah fasilitas publik, termasuk Athirah Islamic School.

Namun, jauh sebelum namanya menjadi penunjuk alamat di Makassar, Kajao Laliddong memiliki posisi penting dalam perjalanan politik Kerajaan Bone pada abad ke-16.

La Mellong dan Munculnya Seorang Cendekiawan Bone

Kajao Laliddong dikenal sebagai gelar untuk La Mellong, tokoh yang diperkirakan lahir sekitar 1507 dan wafat pada 1586.

Ia hidup pada periode ketika kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan mengalami persaingan politik dan perubahan hubungan kekuasaan.

BACA JUGA:  Jalan Hertasning Makassar, Diambil dari Nama Pejuang dan Diplomat Haeruddin Tasning

Kajian Universitas Negeri Makassar menempatkan La Mellong sebagai cendekiawan dan negarawan Kerajaan Bone pada abad XVI-XVII.

Dalam tradisi lontara, La Mellong digambarkan memiliki sejumlah sifat yang menjadi ukuran penting dalam kehidupan masyarakat Bugis, seperti lempu atau kejujuran, acca atau kecakapan berpikir, keberanian, dan getteng atau keteguhan.

Raja Bone VI, La Uliyo Bote’E

Kualitas tersebut membuatnya memperoleh kepercayaan di lingkungan kerajaan, Raja Bone VI. Ia kemudian menjalankan peran sebagai penasihat yang memberikan pertimbangan kepada raja dalam menghadapi persoalan pemerintahan dan politik.

Keberadaannya menjadi semakin penting ketika Bone harus menghadapi perubahan keseimbangan kekuasaan di Sulawesi Selatan.

Pengaruh Gowa berkembang semakin luas, sementara Bone berupaya mempertahankan kepentingannya sendiri.

Dalam kondisi tersebut, kemampuan membaca persoalan politik menjadi sangat diperlukan. Di sinilah peran Kajao Laliddong berkembang dari lingkungan pemerintahan internal menuju urusan diplomasi.

Diplomasi di Tengah Persaingan Kerajaan

SulawesiPos.com – Nama Jalan Kajaolalido di pusat Kota Makassar menyimpan jejak seorang tokoh penting dari Kerajaan Bone.

Sosok tersebut adalah Kajao Laliddong, cendekiawan yang dikenal melalui pemikiran tentang pemerintahan, hukum, adat dan hubungan antarkerajaan di Sulawesi Selatan.

Gagasannya turut menjadi bagian dari tradisi intelektual masyarakat Bugis yang diwariskan hingga generasi berikutnya.

Jalan Kajaolalido kini menjadi bagian dari aktivitas perkotaan Makassar. Ruas sepanjang sekitar 500 meter tersebut menerapkan sistem satu arah dan berada di kawasan yang juga menjadi lokasi sejumlah fasilitas publik, termasuk Athirah Islamic School.

Namun, jauh sebelum namanya menjadi penunjuk alamat di Makassar, Kajao Laliddong memiliki posisi penting dalam perjalanan politik Kerajaan Bone pada abad ke-16.

La Mellong dan Munculnya Seorang Cendekiawan Bone

Kajao Laliddong dikenal sebagai gelar untuk La Mellong, tokoh yang diperkirakan lahir sekitar 1507 dan wafat pada 1586.

Ia hidup pada periode ketika kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan mengalami persaingan politik dan perubahan hubungan kekuasaan.

BACA JUGA:  Jalan Andi Pangerang Pettarani, Mengenang 51 Tahun Wafatnya Gubernur Sulawesi Terakhir

Kajian Universitas Negeri Makassar menempatkan La Mellong sebagai cendekiawan dan negarawan Kerajaan Bone pada abad XVI-XVII.

Dalam tradisi lontara, La Mellong digambarkan memiliki sejumlah sifat yang menjadi ukuran penting dalam kehidupan masyarakat Bugis, seperti lempu atau kejujuran, acca atau kecakapan berpikir, keberanian, dan getteng atau keteguhan.

Raja Bone VI, La Uliyo Bote’E

Kualitas tersebut membuatnya memperoleh kepercayaan di lingkungan kerajaan, Raja Bone VI. Ia kemudian menjalankan peran sebagai penasihat yang memberikan pertimbangan kepada raja dalam menghadapi persoalan pemerintahan dan politik.

Keberadaannya menjadi semakin penting ketika Bone harus menghadapi perubahan keseimbangan kekuasaan di Sulawesi Selatan.

Pengaruh Gowa berkembang semakin luas, sementara Bone berupaya mempertahankan kepentingannya sendiri.

Dalam kondisi tersebut, kemampuan membaca persoalan politik menjadi sangat diperlukan. Di sinilah peran Kajao Laliddong berkembang dari lingkungan pemerintahan internal menuju urusan diplomasi.

Diplomasi di Tengah Persaingan Kerajaan

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru