SulawesiPos.com – Dahlan Iskan menyamakan rumor akuisisi PT Bayan Resources Tbk atau BYAN oleh Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam dengan Serangan Fajar Mahathir Mohamad di Malaysia pada 1981, dalam catatan harian berjudul Prabowo Mahathir yang terbit Rabu (19/8/2026).
Perbandingan itu muncul ketika saham BYAN baru melesat di pasar dan manajemen Bayan pada Selasa (18/8/2026) menyatakan belum mengetahui adanya rencana pengambilalihan sekitar 62,2 persen saham oleh Haji Isam atau pihak yang terafiliasi dengannya.
Dalam tulisannya, Dahlan menempatkan langkah Mahathir mengambil alih Guthrie Plantation, lalu Golden Hope dan Sime Darby, sebagai contoh bagaimana transaksi pasar modal bisa dipakai untuk memindahkan kendali aset strategis tanpa jalur nasionalisasi paksa.
Ia lalu menarik analogi itu ke kabar perpindahan kendali Bayan dari Low Tuck Kwong ke Haji Isam yang disebut berlangsung cepat dan mengejutkan di tengah perhatian pasar terhadap emiten batu bara tersebut.
Dahlan juga menulis bahwa operasi Mahathir ketika itu dijalankan lewat tokoh profesional perbankan dan broker, dengan pola pembelian rahasia saat akhir pekan sebelum bursa London dibuka kembali pada Senin pagi.
BYAN Bilang Belum Tahu Rencana Akuisisi
Di sisi lain, PT Bayan Resources Tbk melalui Corporate Secretary Jenny Quantero menyatakan perseroan tidak mengetahui adanya rencana transaksi pengambilalihan atau akuisisi sekitar 62,2 persen saham BYAN oleh Haji Isam maupun pihak terafiliasinya.
Keterangan itu dimuat dalam keterbukaan informasi yang dikutip Kontan pada Selasa malam, 18 Agustus 2026, setelah rumor akuisisi lebih dulu mengerek perhatian investor terhadap saham BYAN.
Kontan mencatat saham BYAN ditutup melonjak 19,97 persen ke Rp17.275 per saham pada Selasa (18/8/2026), sedangkan CNBC Indonesia sebelumnya melaporkan saham itu sempat terbang 18,75 persen pada perdagangan pagi di tengah isu pengambilalihan.
Dengan demikian, perbandingan yang ditulis Dahlan bergerak di atas dua lapis konteks sekaligus, yakni analogi sejarah Serangan Fajar Mahathir di Malaysia dan respons resmi Bayan yang menyebut belum mengetahui rencana akuisisi tersebut.

