SulawesiPos.com — Coba bayangkan Watampone lebih dari tiga abad silam. Belum ada kendaraan yang berseliweran. Belum ada gedung-gedung tinggi. Jalanan kota belum seperti sekarang.
Di sebuah kawasan yang kini berada di jantung Kota Watampone, suasana justru dipenuhi kewibawaan adat.
Para Ade’ Pitu berkumpul. Para bangsawan hadir. Rakyat menanti.
Di tengah suasana khidmat itu, seorang calon raja berdiri untuk menerima amanah sebagai Mangkau Bone.
Tempat tersebut adalah Tana Bangkalae.
Tanah yang hari ini mungkin terlihat sederhana, tetapi menyimpan kisah besar tentang kerajaan, pelantikan raja, perdamaian, dan persaudaraan tiga kerajaan besar Sulawesi Selatan.
Tanah yang Harus Hadir Saat Raja Dilantik
Tana Bangkalae bukan sekadar lokasi pelantikan Raja Bone. Dalam tradisi yang hidup di tengah masyarakat, tanah dari Tana Bangkalae memiliki kedudukan khusus dalam prosesi pelantikan raja.
Bahkan, apabila seorang raja tidak dilantik langsung di Tana Bangkalae, tanah dari tempat sakral tersebut dipercaya diambil dan dibawa ke lokasi pelantikan.
Seolah-olah, di mana pun pelantikan berlangsung, Tana Bangkalae harus tetap hadir. Sebab yang dibawa bukan sekadar tanah. Ia membawa simbol adat, sejarah, dan amanah leluhur Kerajaan Bone.
Sejak pelantikan La Patau Matanna Tikka, Raja Bone ke-16, pada 6 April 1696, hingga Raja Bone ke-33, Tana Bangkalae dikenal sebagai salah satu pusat penting dalam tradisi pelantikan raja-raja Bone oleh Ade’ Pitu, dewan adat kerajaan.
Bayangkan Ketika La Patau Berdiri di Tanah Ini
Pada 1696, La Patau Matanna Tikka naik sebagai Raja Bone ke-16. Bayangkan suasana saat itu. Di hadapan para pemangku adat, seorang raja menerima amanah untuk memimpin kerajaan.
Tidak ada sorotan kamera. Tidak ada panggung megah. Yang ada adalah adat, sumpah, simbol kerajaan dan tatapan rakyat.
Sejak saat itulah, nama La Patau Matanna Tikka tidak hanya tercatat dalam sejarah sebagai Raja Bone ke-16, tetapi juga memiliki kaitan erat dengan Tana Bangkalae.
Tempat ini kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjang Kerajaan Bone hingga masa Raja Bone ke-33.
Tiga Tanah Kerajaan Dipertemukan
Namun cerita Tana Bangkalae ternyata jauh lebih besar. Tempat ini juga menjadi saksi persaudaraan Bone, Luwu dan Gowa.
Pada masa awal pemerintahan La Patau Matanna Tikka sekitar 1696, tiga kerajaan besar Sulawesi Selatan tersebut membangun kesepakatan untuk hidup berdampingan dan tidak saling menyerang.
Tanah dari Bone, Luwu dan Gowa kemudian dipersatukan.
Menurut riwayat yang berkembang, ketika ketiga tanah tersebut dicampurkan, warnanya berubah menjadi kemerah-merahan.
Dalam bahasa Bugis, warna tersebut disebut bangkala. Dari sanalah kemudian lahir nama Tana Bangkalae.
Sehingga tanah yang berada di tengah Kota Watampone itu sesungguhnya menyimpan pesan yang jauh lebih dalam: tiga kerajaan, tiga tanah, satu persaudaraan.
Bukan Sekadar Tanah
Budayawan Bone Andi Youshand Tenritappu mengatakan, Tana Bangkalae bukan sekadar sebidang tanah biasa.
“Tana Bangkalae bukan sekadar tanah biasa, tapi lambang persaudaraan dan penyatuan nilai-nilai luhur antara Bone, Luwu dan Gowa,” ujarnya saat prosesi Cemme Passili rangkaian acara Gau Maraja, Rabu 30 September lalu.
Dalam pandangan masyarakat, Tana Bangkalae juga dikenal dengan sebutan “Tanah Ri Tappa Dewata”, yang dimaknai sebagai tanah yang dibentuk atau diberkahi oleh kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.
Karena itu, Tana Bangkalae tidak hanya memiliki dimensi sejarah dan adat, tetapi juga mengandung makna spiritual bagi masyarakat Bone.
Prasasti Persaudaraan Tiga Kerajaan
Jika sebuah prasasti biasanya ditulis di atas batu, Tana Bangkalae seolah menjadi prasasti yang ditulis oleh sejarah di atas tanah.
Di sana tersimpan cerita tentang Bone.
Tentang Luwu. Tentang Gowa. Tentang raja-raja. Tentang adat.
Dan tentang sebuah kesepakatan agar kerajaan-kerajaan besar di Sulawesi Selatan hidup dalam perdamaian.
Hari ini, mungkin kita hanya melihat sebuah situs sejarah.
Tetapi bagi generasi yang memahami kisahnya, Tana Bangkalae adalah tempat di mana tanah pernah menjadi simbol perdamaian dan persaudaraan.
Dari Zaman Kerajaan hingga Watampone Hari Ini
Tana Bangkalae sempat mengalami pemugaran dan kemudian kembali diresmikan pada 27 November 2004 oleh Gubernur Sulawesi Selatan saat itu, Mayjen TNI (Purn.) H. Amin Syam.
Kini, situs bersejarah tersebut berada di kawasan Simpang Tujuh, pusat Kota Watampone, tidak jauh dari Rumah Jabatan Bupati Bone.
Lokasinya mungkin berada di tengah hiruk-pikuk kota.
Namun jika berdiri di sana dan mencoba memejamkan mata sejenak, sejarah seakan membawa kita kembali ke masa ratusan tahun lalu.
Saat suara langkah para bangsawan terdengar. Saat para pemangku adat berkumpul. Saat seorang calon Mangkau menunggu pengesahan.
Dan saat tanah dari tiga kerajaan dipertemukan sebagai tanda persaudaraan. (kar)


