WNI Asal Maros Tewas Terikat di Armenia, Keluarga Ungkap Dua Dugaan Motif Pembunuhan

SulawesiPos.com – Warga Negara Indonesia asal Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Valenth A. Tambuto (24), ditemukan tewas mengenaskan di kamar mes karyawan tempatnya bekerja di Yerevan, Armenia, Rabu, 15 Juli 2026. Saat ditemukan di atas tempat tidur, korban berada di bawah selimut dalam kondisi tangan, kaki, dan mulut terikat lakban, disertai bercak darah pada tubuhnya.

Fokus kasus ini tidak lagi sekadar pada kabar seorang WNI meninggal di luar negeri, tetapi pada dugaan kuat pembunuhan yang kini mulai diurai keluarganya dari informasi rekan kerja dan kekasih korban. Valenth diketahui bekerja sebagai tenaga ahli IT pada sebuah perusahaan konsultan teknologi di ibu kota Armenia itu.

Adik korban, Arnold Tambuto, mengatakan keluarga menerima banyak informasi yang mengarah pada dugaan pembunuhan. Salah satu dugaan motif berkaitan dengan kebiasaan korban meminjamkan uang kepada rekan-rekannya, yang kini justru dicurigai terlibat dalam kematiannya.

“Memang informasi itu (pembunuhan) banyak yang menyebutkan. Kami dapat informasi dari beberapa kerabat dekat dan juga dari pacar almarhum sendiri,” ujar Arnold Tambuto kepada wartawan, Minggu, 19 Juli 2026.

“Katanya yang pertama, Valenth itu terlalu baik karena suka meminjamkan uang ke temannya. Dan uang itu yang dipinjamkan ke pelaku semua. Itu ada bukti chat-nya kalau itu,” lanjut Arnold.

BACA JUGA:  Jadi Pionir Nasional, 500 ASN Sulawesi Selatan Resmi Ditetapkan Sebagai Komponen Cadangan Pertahanan Negara

Motif kedua, kata Arnold, berkaitan dengan dugaan rencana penggelapan uang perusahaan yang ditolak korban. Keluarga menduga pelaku panik karena khawatir Valenth akan membocorkan rencana tersebut kepada pimpinan perusahaan.

“Yang kedua, waktu itu Valenth diajak oleh mereka (pelaku) untuk ikut serta dalam rencana penggelapan uang perusahaan, tetapi Valenth menolak. Mungkin karena mereka khawatir nantinya Valenth mau bocorkan itu sampai ke bosnya, jadi mereka berpikir menghilangkan nyawanya. Kebetulan mereka juga punya utang ke Valenth, jadi sekaligus tuntas semua. Itu cerita yang saya dengar,” beber Arnold.

Arnold menegaskan keluarga masih menunggu rilis resmi aparat penegak hukum Armenia untuk memastikan konstruksi perkara yang sebenarnya.

Penemuan Jasad Berawal dari Kecurigaan Kekasih

Kabar duka itu pertama kali diterima keluarga di Maros pada Rabu malam, 15 Juli 2026. Arnold mengaku masih sempat berkomunikasi melalui telepon dengan kakaknya pada Rabu dini hari sekitar pukul 01.00 WITA, atau Selasa malam waktu Armenia.

Peristiwa itu kemudian terungkap setelah kekasih korban, Tati, yang berada di Filipina merasa curiga karena Valenth tidak bisa dihubungi sepanjang hari. Karena mereka disebut hampir rutin berkomunikasi setiap jam, Tati lalu meminta rekan kantor korban untuk memeriksa kamar mes.

BACA JUGA:  Menteri KKP Ungkapkan Alasan Sewa Pesawat ATR 42-500 yang Jatuh di Maros

“Pacarnya meminta dicek di kamar. Waktu dicek, katanya ada orang di dalam tertutup selimut seperti sedang tidur. Setelah dibuka ternyata sudah tidak bernyawa. Kondisi jenazah katanya terikat lakban di kaki, tangan, dan mulut. Waktu itu saya syok, tapi infonya waktu dibuka ada banyak darah,” ungkap Arnold.

Menurut keluarga, informasi awal juga menyebut terduga pelaku merupakan rekan kerja sekaligus teman sekamar korban. Namun, detail resmi mengenai jumlah pihak yang diamankan dan peran masing-masing masih menunggu penjelasan terbuka dari otoritas setempat.

Keluarga Minta KBRI dan Pemerintah Kawal Kasus

Ibu korban, Ita, mengaku tidak pernah membayangkan putranya meninggal dunia dalam kondisi seperti itu di luar negeri. Duka keluarga kini bercampur dengan harapan agar proses hukum di Armenia berjalan terang sekaligus pemulangan jenazah ke Maros bisa segera difasilitasi.

“Saya tidak pernah menyangka anak saya akan pergi secepat ini dengan kondisi seperti ini,” ungkap Ita.

Keluarga mengatakan mereka telah meminta bantuan kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia setempat untuk mengawal pemulangan jenazah. Mereka juga berharap pemerintah Indonesia ikut mengawal penanganan hukum perkara ini sampai tuntas.

BACA JUGA:  Tim SAR Sebut Sulit Jangkau Lokasi Penemuan Serpihan Pesawat ATR 42-500

“Kami sudah meminta bantuan kepada KBRI setempat terkait kepulangan jenazah anak kami. Kami berharap pemerintah Indonesia membantu mengusut tuntas kasus ini, memberikan hukuman yang setimpal kepada para pelaku, serta segera memulangkan jenazah anak kami ke Indonesia,” tegas pihak keluarga.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) memastikan akan terus mendampingi proses hukum yang berlangsung di Armenia.

Pemerintah juga berkomitmen mengawal hak-hak korban sekaligus memfasilitasi pemulangan jenazah ke kampung halamannya di Kabupaten Maros.

“Kemlu RI melalui KBRI telah menerima laporan terkait meninggalnya saudara Valenth A. Tambuto di Yerevan, Armenia. KBRI terus berkoordinasi secara intensif dengan Kepolisian Armenia untuk memastikan proses penyelidikan berjalan sesuai prosedur hukum yang berlaku. Kami juga siap memberikan pendampingan hukum, mengawal hak-hak almarhum, serta memfasilitasi proses repatriasi jenazah ke Indonesia,” demikian pernyataan Direktorat Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI.

Hingga Senin, 20 Juli 2026, otoritas Armenia masih melanjutkan penyelidikan guna mengungkap secara tuntas kasus tersebut.

Keluarga korban berharap proses hukum berjalan transparan dan pelaku dapat segera diproses sesuai ketentuan yang berlaku, sementara pemerintah Indonesia terus memantau perkembangan kasus hingga seluruh proses penanganan dan pemulangan jenazah selesai.

SulawesiPos.com – Warga Negara Indonesia asal Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Valenth A. Tambuto (24), ditemukan tewas mengenaskan di kamar mes karyawan tempatnya bekerja di Yerevan, Armenia, Rabu, 15 Juli 2026. Saat ditemukan di atas tempat tidur, korban berada di bawah selimut dalam kondisi tangan, kaki, dan mulut terikat lakban, disertai bercak darah pada tubuhnya.

Fokus kasus ini tidak lagi sekadar pada kabar seorang WNI meninggal di luar negeri, tetapi pada dugaan kuat pembunuhan yang kini mulai diurai keluarganya dari informasi rekan kerja dan kekasih korban. Valenth diketahui bekerja sebagai tenaga ahli IT pada sebuah perusahaan konsultan teknologi di ibu kota Armenia itu.

Adik korban, Arnold Tambuto, mengatakan keluarga menerima banyak informasi yang mengarah pada dugaan pembunuhan. Salah satu dugaan motif berkaitan dengan kebiasaan korban meminjamkan uang kepada rekan-rekannya, yang kini justru dicurigai terlibat dalam kematiannya.

“Memang informasi itu (pembunuhan) banyak yang menyebutkan. Kami dapat informasi dari beberapa kerabat dekat dan juga dari pacar almarhum sendiri,” ujar Arnold Tambuto kepada wartawan, Minggu, 19 Juli 2026.

“Katanya yang pertama, Valenth itu terlalu baik karena suka meminjamkan uang ke temannya. Dan uang itu yang dipinjamkan ke pelaku semua. Itu ada bukti chat-nya kalau itu,” lanjut Arnold.

BACA JUGA:  Demam Senjata Mainan Gel Meluas di Makassar, Diserbu Pembeli hingga Polisi Turun Tangan

Motif kedua, kata Arnold, berkaitan dengan dugaan rencana penggelapan uang perusahaan yang ditolak korban. Keluarga menduga pelaku panik karena khawatir Valenth akan membocorkan rencana tersebut kepada pimpinan perusahaan.

“Yang kedua, waktu itu Valenth diajak oleh mereka (pelaku) untuk ikut serta dalam rencana penggelapan uang perusahaan, tetapi Valenth menolak. Mungkin karena mereka khawatir nantinya Valenth mau bocorkan itu sampai ke bosnya, jadi mereka berpikir menghilangkan nyawanya. Kebetulan mereka juga punya utang ke Valenth, jadi sekaligus tuntas semua. Itu cerita yang saya dengar,” beber Arnold.

Arnold menegaskan keluarga masih menunggu rilis resmi aparat penegak hukum Armenia untuk memastikan konstruksi perkara yang sebenarnya.

Penemuan Jasad Berawal dari Kecurigaan Kekasih

Kabar duka itu pertama kali diterima keluarga di Maros pada Rabu malam, 15 Juli 2026. Arnold mengaku masih sempat berkomunikasi melalui telepon dengan kakaknya pada Rabu dini hari sekitar pukul 01.00 WITA, atau Selasa malam waktu Armenia.

Peristiwa itu kemudian terungkap setelah kekasih korban, Tati, yang berada di Filipina merasa curiga karena Valenth tidak bisa dihubungi sepanjang hari. Karena mereka disebut hampir rutin berkomunikasi setiap jam, Tati lalu meminta rekan kantor korban untuk memeriksa kamar mes.

BACA JUGA:  Fatmawati Rusdi Soroti Dampak Ekonomi Dekranas di Makassar, Transaksi Pameran Diproyeksi Tembus Rp5 Miliar

“Pacarnya meminta dicek di kamar. Waktu dicek, katanya ada orang di dalam tertutup selimut seperti sedang tidur. Setelah dibuka ternyata sudah tidak bernyawa. Kondisi jenazah katanya terikat lakban di kaki, tangan, dan mulut. Waktu itu saya syok, tapi infonya waktu dibuka ada banyak darah,” ungkap Arnold.

Menurut keluarga, informasi awal juga menyebut terduga pelaku merupakan rekan kerja sekaligus teman sekamar korban. Namun, detail resmi mengenai jumlah pihak yang diamankan dan peran masing-masing masih menunggu penjelasan terbuka dari otoritas setempat.

Keluarga Minta KBRI dan Pemerintah Kawal Kasus

Ibu korban, Ita, mengaku tidak pernah membayangkan putranya meninggal dunia dalam kondisi seperti itu di luar negeri. Duka keluarga kini bercampur dengan harapan agar proses hukum di Armenia berjalan terang sekaligus pemulangan jenazah ke Maros bisa segera difasilitasi.

“Saya tidak pernah menyangka anak saya akan pergi secepat ini dengan kondisi seperti ini,” ungkap Ita.

Keluarga mengatakan mereka telah meminta bantuan kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia setempat untuk mengawal pemulangan jenazah. Mereka juga berharap pemerintah Indonesia ikut mengawal penanganan hukum perkara ini sampai tuntas.

BACA JUGA:  Pesan Tegas Amran di Mubes IKA Unhas: Pemimpin Hebat Harus Beradab

“Kami sudah meminta bantuan kepada KBRI setempat terkait kepulangan jenazah anak kami. Kami berharap pemerintah Indonesia membantu mengusut tuntas kasus ini, memberikan hukuman yang setimpal kepada para pelaku, serta segera memulangkan jenazah anak kami ke Indonesia,” tegas pihak keluarga.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) memastikan akan terus mendampingi proses hukum yang berlangsung di Armenia.

Pemerintah juga berkomitmen mengawal hak-hak korban sekaligus memfasilitasi pemulangan jenazah ke kampung halamannya di Kabupaten Maros.

“Kemlu RI melalui KBRI telah menerima laporan terkait meninggalnya saudara Valenth A. Tambuto di Yerevan, Armenia. KBRI terus berkoordinasi secara intensif dengan Kepolisian Armenia untuk memastikan proses penyelidikan berjalan sesuai prosedur hukum yang berlaku. Kami juga siap memberikan pendampingan hukum, mengawal hak-hak almarhum, serta memfasilitasi proses repatriasi jenazah ke Indonesia,” demikian pernyataan Direktorat Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI.

Hingga Senin, 20 Juli 2026, otoritas Armenia masih melanjutkan penyelidikan guna mengungkap secara tuntas kasus tersebut.

Keluarga korban berharap proses hukum berjalan transparan dan pelaku dapat segera diproses sesuai ketentuan yang berlaku, sementara pemerintah Indonesia terus memantau perkembangan kasus hingga seluruh proses penanganan dan pemulangan jenazah selesai.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru