SulawesiPos.com – Suara air terdengar samar dari balik rimbunnya pepohonan. Jalan setapak yang licin dan penuh bebatuan membawa langkah semakin jauh meninggalkan permukiman.
Tak ada suara kendaraan. Hanya desir dedaunan yang sesekali diterpa angin, kicauan burung, dan gemericik sungai yang perlahan terdengar semakin jelas.
Di tempat inilah Mata Air Lagole berada.
Tersembunyi di tengah hutan Desa Palongki, Kecamatan Tellusiattingnge, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, mata air ini menyimpan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi sebagian warga, Lagole bukan sekadar tempat untuk menikmati air jernih dan kesejukan alam. Ada kisah tentang ikan besar yang dipercaya telah hidup sejak lama, kuburan tua yang tak diketahui siapa pemiliknya, hingga tradisi warga yang datang membawa sesajen dan menyampaikan nazar.
Dari Watampone, ibu kota Kabupaten Bone, perjalanan menuju Lagole berjarak sekitar 27 kilometer. Namun, jarak itu bukan satu-satunya tantangan.
Setelah kendaraan melewati jalan yang belum beraspal sekitar dua kilometer, perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki kurang lebih satu kilometer.
Untuk mencapai lokasi, pengunjung masih harus menyeberangi sungai. Perjalanan yang melelahkan itu seakan terbayar ketika suara air mulai terdengar dari balik pepohonan.
Di hadapan pengunjung terbentang sungai dengan air yang jernih. Batu-batu memenuhi dasar sungai, tersusun secara alami seperti membentuk sebuah kolam raksasa.
Tak jauh dari aliran sungai, sekitar lima meter dari tepian, terdapat sebuah mata air berukuran sekitar 6 x 5 meter. Airnya tenang dan jernih.
Namun, ada satu penghuni yang membuat mata air ini berbeda dari tempat lainnya.
Seekor ikan sidat berukuran hampir sebesar paha orang dewasa diyakini hidup di dalam mata air tersebut.
Bagi masyarakat setempat, ikan itu bukan sekadar ikan biasa.
Konon, keberadaannya sudah berlangsung sangat lama.
“Kalau belutnya mungkin sudah tua sekali karena saya masih kecil ini belut begini terus ukurannya,” ungkap Syamsul Bahri warga setempat.
Kepercayaan terhadap keberadaan ikan tersebut kemudian berpadu dengan tradisi yang masih dilakukan sebagian warga.

