Rahasia Lagole di Tengah Hutan Bone: Ikan Besar, Sesajen, hingga Nazar Soal Jodoh

Mereka datang membawa telur ayam, kelapa muda hingga makanan tradisional lainnya untuk dilarungkan ke dalam mata air.

Telur-telur itu dipercaya menjadi santapan ikan sidat yang hidup di dalamnya.

Namun, kisah Lagole tidak berhenti pada mata air. Di antara mata air dan sungai, berdiri sebuah makam tua.

Tak banyak yang diketahui mengenai siapa yang dimakamkan di sana. Batu nisannya telah dimakan usia. Akar-akar pepohonan menjalar dan menutupi sebagian permukaannya.

Justru di tempat sunyi itulah sejumlah warga datang menyampaikan harapan. Seutas tali diikatkan pada batu nisan.

Ada yang datang dengan membawa nazar tentang jodoh. Ada yang berharap rezekinya dilapangkan. Ada pula yang mengikat tali dengan harapan tertentu dalam kehidupan mereka.

Jika harapan tersebut dipercaya telah terkabul, mereka akan kembali ke tempat itu untuk membuka ikatan yang pernah dibuat.

“Kalau anak muda sering ikat tali nanti kalau sudah menikah kembali lagi ke sini buka ikatannya. Ada juga yang ke sini minta supaya rezekinya dilapangkan,” tambah warga tersebut.

BACA JUGA:  Puncak Lima Jari Bone, Wisata Alam Perbukitan dengan Panorama Hijau yang Menyegarkan

Bagi orang yang baru pertama kali datang, suasana di sekitar makam tentu terasa berbeda.

Hutan yang sunyi. Pepohonan tua. Gemericik air. Ditambah keberadaan makam yang dipenuhi akar serta tali yang terikat di sana-sini.

Tak heran jika Mata Air Lagole kemudian lebih dikenal karena cerita mistisnya.

Tetapi bagi sebagian anak muda, Lagole hanyalah tempat untuk menikmati liburan.

Sejumlah remaja menceburkan diri ke air yang jernih. Mereka saling bercanda dan bermain tanpa terlalu memedulikan warga lain yang datang membawa sesajen atau melakukan nazar di sekitar makam.

Salah satunya Muhammad Amri. Bagi remaja tersebut, cerita mistis yang menyelimuti Lagole bukan alasan untuk takut datang.

“Kalau saya tidak percaya. Saya tahunya di sini bagus airnya untuk mandi,” ujarnya.

Mereka datang membawa telur ayam, kelapa muda hingga makanan tradisional lainnya untuk dilarungkan ke dalam mata air.

Telur-telur itu dipercaya menjadi santapan ikan sidat yang hidup di dalamnya.

Namun, kisah Lagole tidak berhenti pada mata air. Di antara mata air dan sungai, berdiri sebuah makam tua.

Tak banyak yang diketahui mengenai siapa yang dimakamkan di sana. Batu nisannya telah dimakan usia. Akar-akar pepohonan menjalar dan menutupi sebagian permukaannya.

Justru di tempat sunyi itulah sejumlah warga datang menyampaikan harapan. Seutas tali diikatkan pada batu nisan.

Ada yang datang dengan membawa nazar tentang jodoh. Ada yang berharap rezekinya dilapangkan. Ada pula yang mengikat tali dengan harapan tertentu dalam kehidupan mereka.

Jika harapan tersebut dipercaya telah terkabul, mereka akan kembali ke tempat itu untuk membuka ikatan yang pernah dibuat.

“Kalau anak muda sering ikat tali nanti kalau sudah menikah kembali lagi ke sini buka ikatannya. Ada juga yang ke sini minta supaya rezekinya dilapangkan,” tambah warga tersebut.

BACA JUGA:  Menjelajahi Bone, Bumi Arung Palakka yang Menyimpan Jejak Sejarah Kerajaan Bugis

Bagi orang yang baru pertama kali datang, suasana di sekitar makam tentu terasa berbeda.

Hutan yang sunyi. Pepohonan tua. Gemericik air. Ditambah keberadaan makam yang dipenuhi akar serta tali yang terikat di sana-sini.

Tak heran jika Mata Air Lagole kemudian lebih dikenal karena cerita mistisnya.

Tetapi bagi sebagian anak muda, Lagole hanyalah tempat untuk menikmati liburan.

Sejumlah remaja menceburkan diri ke air yang jernih. Mereka saling bercanda dan bermain tanpa terlalu memedulikan warga lain yang datang membawa sesajen atau melakukan nazar di sekitar makam.

Salah satunya Muhammad Amri. Bagi remaja tersebut, cerita mistis yang menyelimuti Lagole bukan alasan untuk takut datang.

“Kalau saya tidak percaya. Saya tahunya di sini bagus airnya untuk mandi,” ujarnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru