“Rugi itu adalah dopingnya sukses,” kata Amran.
Ia mengibaratkan proses itu seperti memanjat pohon untuk mengambil buah yang manis, tetapi harus siap digigit semut di sepanjang jalan.
Momen Haru dan Bantuan untuk Mahasiswa
Sisi humanis Amran juga terlihat saat ia berdialog dengan mahasiswa baru asal Sulawesi Tenggara yang baru kehilangan ibunya dua pekan sebelum pengumuman kelulusan ke Unhas.
Kepada mahasiswa itu, Amran memberi semangat dan menyebut beban hidup yang berat justru bisa menjadi tempaan untuk melahirkan pemimpin.
Ia kemudian mengajak mahasiswa untuk saling menjaga sesama perantau dan peduli kepada mereka yang hidup jauh dari keluarga.
“Sapa saya di jalan, saya kakakmu, saya bapakmu. Cari 10 orang yatim piatu yang tinggal di kos-kosan. Sesama anak kos harus saling menyayangi,” pesannya.
Sebagai dukungan nyata, Amran memberikan bantuan pribadi masing-masing Rp5 juta kepada 10 mahasiswa baru yang berstatus yatim piatu.
Ia juga membiayai Uang Kuliah Tunggal gratis selama satu tahun penuh untuk satu mahasiswa baru yang terpilih dalam sesi interaksi tersebut.
“Tidak ada arti secarik kertas ijazah kalau otak kosong. Kesuksesan itu harus direbut dengan keringat dan air mata. Jangan tinggalkan kampung halaman hanya untuk main-main, nanti sengsara di hari tua. Mulailah berjuang dari sekarang,” tutup Amran.

