SulawesiPos.com – Hugo Samir dan Mufli Hidayat menyampaikan klarifikasi masing-masing setelah insiden tandukan dalam laga Borneo FC kontra PSM Makassar di Stadion Segiri, Samarinda, Sabtu (7/11/2026). Hugo mengaku mengalami hinaan sebelum menjadi sasaran serangan di media sosial, sedangkan Mufli menyebut emosinya terpancing setelah keluarganya, termasuk almarhum ayahnya, disinggung.
Pertandingan pekan kesembilan Super League 2026/2027 itu berakhir 1-1 dan berlangsung tanpa penonton. PSM harus mengakhiri laga dengan sembilan pemain setelah Mufli menerima kartu merah pada babak kedua, lalu Stefan Jevtoski diusir pada masa tambahan waktu.
Hugo menyampaikan klarifikasinya sehari setelah pertandingan. Penyerang Borneo FC itu mengatakan dirinya tidak ingin memperpanjang polemik, tetapi merasa perlu menjelaskan peristiwa yang membuat namanya kembali menjadi sasaran komentar publik.
“Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semalam saya mengalami tandukan dan hinaan, lalu sekarang saya menjadi sasaran berbagai serangan,” kata Hugo dalam keterangannya kepada CNNIndonesia.com, Minggu (8/11/2026).
Ia mengakui pernah memiliki masa lalu yang berat. Namun, Hugo menegaskan dua tahun terakhir digunakan untuk memperbaiki diri dan membangun kembali karier sepak bolanya.
“Saya mengakui bahwa saya memiliki masa lalu yang berat. Namun, sejak dua tahun lalu, saya hanya ingin fokus memperbaiki diri, berkembang, dan kembali menikmati bermain sepak bola,” ujarnya.
Hugo juga menyinggung komentar yang menyeret warna kulit dan statusnya sebagai anak pelatih Jacksen F. Tiago. Ia menyatakan tidak ingin kembali terpancing oleh komentar tersebut.
“Apa pun sebutan yang ditujukan kepada saya, termasuk soal warna kulit atau status saya sebagai anak Coach Jacksen, saya tidak ingin terpancing lagi. Saya hanya ingin bermain bola dan kembali mengejar cita-cita saya,” kata Hugo.
Mufli Sebut Keluarga Disinggung
Sebelumnya, Mufli menyampaikan permintaan maaf kepada PSM dan para suporter melalui unggahan di akun Instagram pribadinya. Bek Juku Eja itu mengakui kartu merah yang diterimanya merugikan tim.
Mufli kemudian menjelaskan alasan emosinya meledak di lapangan. Ia mengaku mendapat hinaan verbal yang menyerang keluarganya dan menyinggung almarhum ayahnya.
“Saya mendapat hinaan verbal (verbal abuse) yang menyerang nama baik keluarga saya, dengan menyinggung almarhum bapak saya dengan kata-kata yang sangat tidak pantas,” tulis Mufli.
Menurut Mufli, ucapan tersebut telah melewati batas provokasi yang lazim muncul dalam pertandingan sepak bola.
“Bagi saya, itu bukan lagi sekadar psywar atau provokasi dalam sepakbola. Tapi merupakan bentuk pelecehan terhadap keluarga dan melewati batas rasa hormat sebagai manusia dan pemain sepakbola profesional,” lanjutnya.
Ia meminta publik melihat insiden tersebut secara utuh dan tetap menjaga penghormatan dalam persaingan.
“Sepak bola boleh keras, persaingan boleh panas, tetapi rasa hormat dan respek tetap harus dijaga dan dijunjung tinggi,” tulis Mufli.
PSM Bawa Pulang Satu Poin
Insiden tersebut terjadi dalam laga yang lebih dulu diwarnai gol jarak jauh Juan Villa untuk Borneo FC. PSM menyamakan kedudukan melalui Achmat Fahrul Aditia setelah menerima umpan tarik Rizky Eka Pratama.
Setelah Mufli diusir, Borneo memiliki keunggulan jumlah pemain. Namun, Pesut Etam gagal memanfaatkan situasi itu hingga pertandingan berakhir imbang.
Hasil tersebut membuat Borneo FC dan PSM sama-sama mengoleksi 10 poin. Bagi PSM, satu angka dari Samarinda menjadi tambahan penting dalam upaya memperbaiki posisi di papan tengah sekaligus menjaga jarak dari persaingan papan bawah.
Laga yang digelar tanpa penonton juga menjadi konteks penting bagi suporter PSM di Makassar dan Sulawesi Selatan. Dukungan langsung dari tribun tidak hadir, sementara tensi pertandingan tetap tinggi hingga dua pemain PSM menerima kartu merah.
Hingga berita ini disusun, pernyataan Hugo dan Mufli masih menjadi dua versi dari pihak yang terlibat. Belum ada keterangan resmi mengenai hasil pemeriksaan disiplin atau keputusan lanjutan operator kompetisi atas insiden tersebut.


