SulawesiPos.com – Saleh Mustafa dilantik sebagai Wakil Menteri Pertanian pada 1 Oktober 2026 setelah lebih dari tiga dekade meniti karier di TNI Angkatan Darat. Lulusan Akademi Militer 1991 dari kecabangan infanteri itu membawa pengalaman memimpin satuan Kopassus, operasi keamanan, komando kewilayahan, serta jabatan strategis TNI ke sektor pertanian.
Penunjukan tersebut menjadi babak baru dalam perjalanan Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa, yang sebelumnya menjabat Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad).
Sebelum menduduki posisi itu, ia pernah menjadi Pangkostrad, Irjen TNI, Pangdam XVII/Cenderawasih, serta Komandan Korem 132/Tadulako.
Saleh Mustafa lahir di Ternate, Maluku Utara, pada 14 Maret 1969.
Masa mudanya di Ternate ikut membentuk kedekatannya dengan olahraga, khususnya sepak bola. Dalam sebuah keterangannya, Saleh mengenang kebiasaan bermain sepak bola hingga waktu magrib ketika masih remaja.
Ia menempuh pendidikan menengah di SMA Negeri 1 Ternate sebelum masuk Akademi Militer dan lulus pada 1991.
Sebagai perwira infanteri, Saleh kemudian memperkuat keahliannya melalui sejumlah pendidikan militer, antara lain pendidikan kecabangan infanteri, pendidikan lintas udara, pendidikan komando, Diklapa I dan II, Sesko TNI, serta pendidikan di Lemhannas RI.
Karier awalnya banyak dibentuk di lingkungan Kopassus. Ia pernah menjadi Danyon 23 Grup 2 Kopassus, Waasops Danjen Kopassus, dan Komandan Grup 1 Kopassus pada 2012–2013.
Setelah itu, Saleh mendapat penugasan di satuan kewilayahan dan komando strategis TNI AD, termasuk sebagai Asisten Operasi Kasdam Iskandar Muda serta peserta didik Sesko TNI.
Pengalaman Operasi Tinombala di Poso
Pada 2016, Saleh dipercaya menjadi Komandan Korem 132/Tadulako di Sulawesi Tengah. Dalam posisi tersebut, ia terlibat dalam Operasi Tinombala untuk memburu kelompok Santoso dan pengikutnya di wilayah Poso.
Saleh secara otomatis menjadi wakil komandan operasi yang dipimpin Kapolda Sulawesi Tengah. Ia menekankan bahwa keberhasilan operasi membutuhkan kerja sama TNI, Polri, dan masyarakat.
“Perlu ikhtiar, kerja keras, kerja sama dan sinergitas antara TNI dan Kepolisian Indonesia dengan masyarakat agar tujuan Operasi Tinombala menangkap Santoso dan pengikutnya bisa segera terwujud,” kata Saleh.
Pengalaman di Poso tidak hanya tercatat dalam tugas operasi keamanan. Pada Oktober 2016, Saleh juga meluncurkan buku Menuai Damai di Tanah Poso yang mengangkat nilai budaya, kearifan lokal, dan potensi wisata daerah tersebut.
Buku itu memperlihatkan sisi lain dari tugasnya sebagai komandan kewilayahan, yakni memandang stabilitas daerah tidak hanya dari aspek keamanan, tetapi juga dari budaya, kehidupan masyarakat, dan potensi pembangunan.
Setelah dari Sulawesi Tengah, Saleh menjabat Wakil Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri Kodiklatad pada 2017 hingga 2019.
Ia kemudian dipercaya sebagai Kasdam Jaya pada 2019–2021 dan Kepala Staf Komando Gabungan Wilayah Pertahanan II pada 2021–2022.
Memimpin Papua dan Menangani Isu Keamanan
Pada Juli 2022, Saleh ditunjuk menjadi Pangdam XVII/Cenderawasih.
Selama memimpin Kodam Cenderawasih, ia menghadapi dinamika keamanan di Papua, termasuk pencarian pilot Susi Air Philip Mehrtens yang disandera kelompok bersenjata.
Dalam salah satu keterangannya, Saleh membantah informasi yang menyebut pilot tersebut memegang bendera simbol kelompok bersenjata. Ia menyebut foto yang beredar merupakan bagian dari informasi palsu dan pencarian terhadap pilot tetap berlanjut.
Pengalaman di Papua menempatkan Saleh pada situasi yang membutuhkan kombinasi operasi keamanan, komunikasi publik, pemetaan wilayah, dan koordinasi lintas lembaga.
Setelah mengakhiri tugas di Papua, Saleh sempat menjadi Pa Sahli Tingkat III Kasad Bidang Sosbudkum HAM dan Narkoba pada 2023.
Ia kemudian dipercaya sebagai Kepala Staf Kostrad pada Agustus 2023.
Dari Pangkostrad hingga Wakasad
Karier Saleh meningkat cepat pada penghujung 2023. Pada Desember 2023, ia ditunjuk menjadi Pangkostrad, jabatan yang menempatkannya sebagai salah satu perwira utama dalam struktur TNI AD.
Pada Juli 2024, Saleh dipercaya menjadi Inspektur Jenderal TNI. Posisi tersebut berkaitan dengan pengawasan internal dan evaluasi penyelenggaraan tugas di lingkungan TNI.
Setahun kemudian, pada 15 Agustus 2025, ia menjabat Wakasad.
Dalam posisi itu, Saleh menekankan pentingnya kedekatan komandan dengan prajurit. Ia meminta para komandan tidak hanya memberi arahan dari ruang kerja, tetapi hadir langsung dan memahami persoalan anggota.
“Tidak hanya dibutuhkan kepedulian, tidak hanya dibutuhkan pengarahan-pengarahan, tetapi hatimu harus ada di situ, kamu harus cek, kamu harus turun, kamu harus bicara langsung. Komunikasi langsung dengan anggota harus kalian lakukan,” kata Saleh.
Gaya kepemimpinan tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan kariernya, terutama karena Saleh pernah memimpin satuan elite, komando wilayah, operasi gabungan, dan lembaga strategis TNI.
Perhatian pada Sepak Bola Maluku Utara
Di luar tugas militer, Saleh juga menunjukkan perhatian terhadap pengembangan sepak bola di daerah asalnya.
Ia tercatat menjadi penasihat Malut United dan mendukung pembinaan pemain muda melalui akademi sepak bola.
Program pembinaan tersebut menyasar anak-anak usia 7 hingga 9 tahun, dengan perhatian khusus kepada peserta dari keluarga kurang mampu dan anak yatim.
Saleh menilai keterbatasan lahan di Ternate perlu dijawab dengan penyediaan fasilitas olahraga agar anak-anak memiliki ruang untuk berlatih dan mengembangkan potensi.
“Memang, kondisi pulau Ternate yang kecil dengan penduduk yang padat, hingga salah satu cara mewujudkan olahraga yang baik adalah dengan menyiapkan fasilitas olahraga, maka tercipta budaya sportif, semangat, prestasi akan lahir dari anak-anak kita di Malut,” kata Saleh.
Pengalaman masa muda, penugasan militer, dan perhatian terhadap pembinaan generasi muda menjadi bagian dari rekam perjalanan Saleh sebelum masuk ke jabatan pemerintahan.
Sebagai Wakil Menteri Pertanian, pengalaman Saleh di bidang kepemimpinan, pengelolaan wilayah, koordinasi lintas lembaga, dan pembinaan masyarakat menjadi latar yang menyertai tugas barunya.
Profil Saleh Mustafa
• Nama lengkap: Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa.
• Nama yang umum digunakan: Saleh Mustafa.
• Tempat, tanggal lahir: Ternate, Maluku Utara, 14 Maret 1969.
• Jabatan terbaru: Wakil Menteri Pertanian.
• Mulai dilantik: 1 Oktober 2026.
• Pangkat terakhir di TNI AD: Letnan Jenderal TNI.
• Pendidikan umum: SMA Negeri 1 Ternate.
• Pendidikan militer: Akademi Militer, lulus 1991.
• Pendidikan dan kursus: pendidikan infanteri, Dik PARA, Dik PARA Utama, Dik Komando, Diklapa I dan II, Sesko TNI, serta Lemhannas RI.
• Kecabangan: Infanteri.
• Latar satuan: Kopassus dan TNI Angkatan Darat.
• Jabatan penting: Danyon 23 Grup 2 Kopassus, Waasops Danjen Kopassus, Dan Grup 1 Kopassus, Asops Kasdam Iskandar Muda, Danrem 132/Tadulako, Wadanpussenif, Kasdam Jaya, Kaskogabwilhan II, Pangdam XVII/Cenderawasih, Kaskostrad, Pangkostrad, Irjen TNI, dan Wakasad.
• Operasi yang pernah dikaitkan dengan penugasannya: Operasi Tinombala di Poso serta penanganan keamanan di Papua.
• Pengalaman kepemimpinan: memimpin satuan Kopassus, komando kewilayahan, Kostrad, dan jabatan pengawasan strategis TNI.
• Karya: buku Menuai Damai di Tanah Poso.
• Pengalaman menarik: bermain sepak bola hingga magrib saat remaja di Ternate, menulis buku tentang perdamaian Poso, serta mendukung pembinaan sepak bola anak-anak Maluku Utara.
• Organisasi dan pembinaan olahraga: penasihat Malut United dan pendukung akademi sepak bola usia dini.*Saleh Mustafa, Wakil Menteri Pertanian


