Musim Kemarau di Makassar, Ini Efek Suhu Panas pada AC Mobil yang Sering Diabaikan Pengendara

SulawesiPos.com – Musim kemarau yang berlangsung sejak Mei hingga September di Kota Makassar membuat suhu udara terik siang hari cenderung tinggi, sehingga sistem AC mobil bekerja lebih berat dari biasanya. Sebagian pengendara masih mengabaikan tanda-tanda maupun kebiasaan perawatan yang sebenarnya dapat memperpanjang usia komponen AC di tengah kondisi tersebut.

Suhu udara di Makassar cenderung meningkat selama musim kemarau, sehingga kondisi panas dapat membuat sistem AC mobil bekerja lebih keras untuk menjaga kabin tetap nyaman.

Beban kerja yang meningkat menjadi salah satu penyebab kompresor AC menjadi lebih panas, terutama ketika AC digunakan dalam kondisi berat seperti saat kendaraan terjebak macet atau cuaca sedang terik.

Semakin panas kondisi di dalam kabin, semakin keras pula kerja AC untuk menurunkan suhu ke tingkat yang nyaman, sehingga kompresor pun ikut bekerja lebih lama dari biasanya.

Kebiasaan menyetel suhu AC terlalu rendah, misalnya di angka 18 derajat Celsius, justru membuat kompresor terus aktif karena suhu kabin tak kunjung mencapai target yang diinginkan.

BACA JUGA:  Ini 3 Jenis Sampah yang Wajib Dipilah Sebelum Dibuang ke TPA Antang Mulai 1 Agustus

Menyetel suhu AC di kisaran 25 derajat Celsius disarankan agar kompresor tidak bekerja tanpa henti sepanjang perjalanan.

Kebiasaan yang Sering Diabaikan Pengendara

Salah satu kebiasaan yang perlu dihindari adalah langsung menyalakan AC dengan suhu paling dingin begitu masuk ke mobil yang baru saja diparkir di bawah terik matahari.

Kebiasaan ini berisiko karena kompresor langsung bekerja pada tekanan tinggi, yang dapat mempercepat keausan dan meningkatkan risiko kerusakan pada komponen AC.

Sebelum menyalakan AC, ada baiknya membuka jendela atau pintu sejenak untuk membuang udara panas yang terperangkap di dalam kabin, kemudian menyalakan blower saja selama satu hingga dua menit sebelum benar-benar mengaktifkan pendinginan secara bertahap.

Kondensor yang berfungsi melepaskan panas dari sistem AC juga rentan mengalami penyumbatan oleh debu maupun korosi akibat kombinasi panas dan kelembapan, sehingga kotoran yang menumpuk pada bagian ini turut menambah beban kerja AC.

Selain kondensor, filter kabin yang tersumbat debu turut mengganggu sirkulasi udara ke evaporator, sehingga suhu dingin menjadi lebih sulit tercapai.

BACA JUGA:  IKA Unhas, AAS Foundation, dan AAS Community Salurkan Bantuan ke Korban Kebakaran Kandea

Sejumlah tanda perlu diwaspadai sebagai indikasi AC mulai bermasalah, seperti bunyi kasar dari kompresor saat AC dinyalakan, mesin yang terasa lebih berat atau bergetar, hingga pendinginan yang naik turun secara tidak konsisten.

Bau apek atau tidak sedap saat AC pertama kali dinyalakan juga menjadi indikator awal adanya pertumbuhan jamur atau bakteri pada filter maupun evaporator yang lembap, sementara konsumsi bahan bakar yang tiba-tiba meningkat saat AC digunakan bisa menjadi pertanda ada yang perlu diperiksa pada sistem AC.

Perawatan yang Disarankan Selama Musim Kemarau

Servis AC secara berkala disarankan dilakukan setiap enam bulan atau 10.000 kilometer untuk mencegah penumpukan debu pada evaporator dan filter kabin, dengan penggantian filter kabin setiap 10.000 hingga 20.000 kilometer.

Kondensor sebaiknya dibersihkan setiap tiga hingga enam bulan sekali, terutama bagi kendaraan yang sering melewati jalan berdebu atau kerap terjebak kemacetan di tengah cuaca panas.

Ada baiknya juga mematikan AC satu hingga dua menit sebelum mesin dimatikan sambil membiarkan blower tetap menyala, guna mengurangi kelembapan pada evaporator yang dapat memicu bau apek.

BACA JUGA:  Honda Ungkap Detail Power Unit Spec 2 untuk Dutch GP 2026

Perawatan rutin dan kebiasaan penggunaan AC yang tepat dapat membantu menjaga sistem pendingin kabin tetap bekerja dengan baik selama kendaraan digunakan dalam kondisi cuaca panas.

SulawesiPos.com – Musim kemarau yang berlangsung sejak Mei hingga September di Kota Makassar membuat suhu udara terik siang hari cenderung tinggi, sehingga sistem AC mobil bekerja lebih berat dari biasanya. Sebagian pengendara masih mengabaikan tanda-tanda maupun kebiasaan perawatan yang sebenarnya dapat memperpanjang usia komponen AC di tengah kondisi tersebut.

Suhu udara di Makassar cenderung meningkat selama musim kemarau, sehingga kondisi panas dapat membuat sistem AC mobil bekerja lebih keras untuk menjaga kabin tetap nyaman.

Beban kerja yang meningkat menjadi salah satu penyebab kompresor AC menjadi lebih panas, terutama ketika AC digunakan dalam kondisi berat seperti saat kendaraan terjebak macet atau cuaca sedang terik.

Semakin panas kondisi di dalam kabin, semakin keras pula kerja AC untuk menurunkan suhu ke tingkat yang nyaman, sehingga kompresor pun ikut bekerja lebih lama dari biasanya.

Kebiasaan menyetel suhu AC terlalu rendah, misalnya di angka 18 derajat Celsius, justru membuat kompresor terus aktif karena suhu kabin tak kunjung mencapai target yang diinginkan.

BACA JUGA:  Honda Ungkap Detail Power Unit Spec 2 untuk Dutch GP 2026

Menyetel suhu AC di kisaran 25 derajat Celsius disarankan agar kompresor tidak bekerja tanpa henti sepanjang perjalanan.

Kebiasaan yang Sering Diabaikan Pengendara

Salah satu kebiasaan yang perlu dihindari adalah langsung menyalakan AC dengan suhu paling dingin begitu masuk ke mobil yang baru saja diparkir di bawah terik matahari.

Kebiasaan ini berisiko karena kompresor langsung bekerja pada tekanan tinggi, yang dapat mempercepat keausan dan meningkatkan risiko kerusakan pada komponen AC.

Sebelum menyalakan AC, ada baiknya membuka jendela atau pintu sejenak untuk membuang udara panas yang terperangkap di dalam kabin, kemudian menyalakan blower saja selama satu hingga dua menit sebelum benar-benar mengaktifkan pendinginan secara bertahap.

Kondensor yang berfungsi melepaskan panas dari sistem AC juga rentan mengalami penyumbatan oleh debu maupun korosi akibat kombinasi panas dan kelembapan, sehingga kotoran yang menumpuk pada bagian ini turut menambah beban kerja AC.

Selain kondensor, filter kabin yang tersumbat debu turut mengganggu sirkulasi udara ke evaporator, sehingga suhu dingin menjadi lebih sulit tercapai.

BACA JUGA:  Ini 3 Jenis Sampah yang Wajib Dipilah Sebelum Dibuang ke TPA Antang Mulai 1 Agustus

Sejumlah tanda perlu diwaspadai sebagai indikasi AC mulai bermasalah, seperti bunyi kasar dari kompresor saat AC dinyalakan, mesin yang terasa lebih berat atau bergetar, hingga pendinginan yang naik turun secara tidak konsisten.

Bau apek atau tidak sedap saat AC pertama kali dinyalakan juga menjadi indikator awal adanya pertumbuhan jamur atau bakteri pada filter maupun evaporator yang lembap, sementara konsumsi bahan bakar yang tiba-tiba meningkat saat AC digunakan bisa menjadi pertanda ada yang perlu diperiksa pada sistem AC.

Perawatan yang Disarankan Selama Musim Kemarau

Servis AC secara berkala disarankan dilakukan setiap enam bulan atau 10.000 kilometer untuk mencegah penumpukan debu pada evaporator dan filter kabin, dengan penggantian filter kabin setiap 10.000 hingga 20.000 kilometer.

Kondensor sebaiknya dibersihkan setiap tiga hingga enam bulan sekali, terutama bagi kendaraan yang sering melewati jalan berdebu atau kerap terjebak kemacetan di tengah cuaca panas.

Ada baiknya juga mematikan AC satu hingga dua menit sebelum mesin dimatikan sambil membiarkan blower tetap menyala, guna mengurangi kelembapan pada evaporator yang dapat memicu bau apek.

BACA JUGA:  Prakiraan Cuaca Sulawesi Selatan Hari Ini, Minggu 2 Agustus 2026: Cerah Berawan, Hujan Ringan di Luwu Raya

Perawatan rutin dan kebiasaan penggunaan AC yang tepat dapat membantu menjaga sistem pendingin kabin tetap bekerja dengan baik selama kendaraan digunakan dalam kondisi cuaca panas.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru