Seoul Membuka “Jalur Sutra Baru” dengan Asia Tengah

SulawesiPos.com – Korea Selatan bersama Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan, Kyrgyzstan, dan Tajikistan membuka babak baru hubungan strategis Eurasia melalui KTT Korea–Asia Tengah pertama di Seoul, Rabu (16/9/2026), dengan mengadopsi Deklarasi Seoul yang menaikkan kerja sama ke tingkat kepala negara dan menempatkan mineral kritis, energi, rantai pasok, kecerdasan buatan (AI), teknologi digital, investasi serta konektivitas sebagai fondasi kemitraan jangka panjang.

Pertemuan yang dipimpin Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung itu dihadiri Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev, Presiden Kyrgyzstan Sadyr Japarov, Presiden Tajikistan Emomali Rahmon, Presiden Turkmenistan Serdar Berdimuhamedov, dan Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev.

KTT tersebut mengangkat hubungan yang telah dikembangkan melalui Korea-Central Asia Cooperation Forum sejak 2007 dari kerangka tingkat menteri menjadi mekanisme pertemuan kepala negara.

Reuters pada 16 September 2026 melaporkan tiga hari pertemuan bilateral dan multilateral menghasilkan lebih dari 70 perjanjian serta nota kesepahaman yang mencakup energi, pertambangan, infrastruktur, teknologi dan investasi.

Lee mengatakan, perubahan ekonomi global membuat keamanan, energi, teknologi, pasar dan rantai pasok semakin saling berkaitan, sehingga kerja sama Korea dengan Asia Tengah tidak lagi dapat dipandang semata-mata sebagai perdagangan konvensional.

“Semangat Jalur Sutra Asia Tengah, yang menghubungkan manusia, teknologi dan kebudayaan antara Timur dan Barat, kini lebih dibutuhkan daripada sebelumnya,” kata Lee sebagaimana dikutip The Korea Times, Kamis (16/9/2026).

Ilham: Korea Membaca Perubahan Peta Geopolitik

Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Dr. Ilham, S.S., M.Hum., menilai kebijakan terbaru Seoul memperluas hubungan dengan Asia Tengah menunjukkan kemampuan Korea Selatan membaca perubahan geopolitik dan geoekonomi dunia.

Dr. Ilham menilai Jalur Sutra Baru memperkuat posisi strategis Korea Selatan di Asia Tengah, Kamis (17:9:2026)
Dr. Ilham menilai Jalur Sutra Baru memperkuat posisi strategis Korea Selatan di Asia Tengah, Kamis (17/9/2026).

Ilham, yang selama ini memiliki hubungan akademik dengan sejumlah universitas di Korea Selatan, khususnya Dongguk University, menyampaikan analisis tersebut ketika dihubungi jurnalis SulawesiPos.com, Jumat (18/9/2026).

“Kebijakan Korea Selatan mengembangkan kerja sama dengan negara-negara Asia Tengah merupakan langkah strategis geopolitik di tengah perubahan tatanan internasional,” kata Ilham.

Menurut dia, konflik berkepanjangan di berbagai kawasan, perubahan aliansi, serta ketidakpastian ekonomi membuat negara industri seperti Korea Selatan berkepentingan membangun jalur kerja sama baru yang tidak sepenuhnya bergantung pada pusat-pusat geopolitik tradisional.

Ia menilai langkah Seoul juga dapat dibaca sebagai upaya memperluas alternatif rantai pasok strategis di tengah besarnya posisi China dalam rantai pasok industri global, tetapi diversifikasi tersebut tidak serta-merta berarti Korea Selatan melepaskan hubungan ekonominya dengan Beijing.

“Ketika perhatian dunia sangat besar tertuju ke Timur Tengah, Korea Selatan justru membuka kerja sama strategis dengan kawasan yang potensinya masih dapat dikembangkan lebih jauh,” ujarnya.

BACA JUGA:  Kim Go Eun Raih Daesang Blue Dragon Series Awards 2026, Puncaki Kemenangan You and Everything Else

Menurut Ilham, keuntungan yang dicari tidak terbatas pada politik dan ekonomi, tetapi meliputi teknologi, energi, konektivitas serta kemungkinan kerja sama strategis lain dalam jangka panjang.

Ia bahkan melihat terdapat kemungkinan hubungan ekonomi yang semakin dalam pada masa depan berkembang ke sektor industri pertahanan, meskipun KTT Seoul saat ini terutama berfokus pada mineral, energi, industri, teknologi dan rantai pasok.

“Dalam jangka panjang, hubungan ini berpotensi berkembang hingga kerja sama industri pertahanan strategis,” kata Ilham.

Mineral Kritis Menjadi Fondasi Industri Masa Depan

Mineral kritis memang menjadi salah satu agenda utama KTT karena Korea Selatan membutuhkan pasokan bahan strategis untuk industri berteknologi tinggi, sementara negara-negara Asia Tengah mempunyai sumber daya mineral dan energi yang besar.

Lee menegaskan, Korea Selatan ingin bergerak melampaui perdagangan bahan mentah dengan membangun kerja sama sepanjang rantai nilai mineral kritis, dari eksplorasi dan pemurnian hingga material bernilai tinggi dan manufaktur produk akhir.

Ilham menilai karakter tersebut membuat Asia Tengah sangat relevan bagi transformasi industri Korea Selatan.

“Critical minerals merupakan pasokan utama bagi pengembangan teknologi tinggi masa depan, termasuk baterai, semikonduktor, kendaraan listrik, elektronik dan teknologi pertahanan,” katanya.

Menurut Ilham, kekayaan energi Asia Tengah juga membuka peluang menggeser pola hubungan dari sekadar impor sumber daya menjadi kemitraan energi, investasi dan industrialisasi yang lebih terintegrasi.

Kazakhstan, misalnya, memperkuat hubungan dengan Korea Selatan melalui dokumen kerja sama energi nuklir damai, minyak mentah, mineral kritis serta sains dan teknologi, dengan 13 dokumen kerja sama dipertukarkan dalam rangkaian pertemuan bilateral.

Korea Selatan pada saat yang sama berupaya mengembangkan pusat logam langka di Asia Tengah untuk mendukung penelitian bersama dan pengembangan sumber daya manusia.

Suriyati: Mahasiswa Asia Tengah Mengenal Teknologi Korea

Dimensi lain dari ekspansi Korea Selatan ke Asia Tengah terlihat melalui hubungan antarmasyarakat dan pengalaman generasi muda Asia Tengah yang menempuh pendidikan di Korea Selatan.

Suriyati menyebut Asia Tengah sebagai pasar strategis bagi produk dan teknologi maju Korea Selatan (Dok. Pribadi saat Suriyati (kanan) di Korea Selatan)
Suriyati menyebut Asia Tengah sebagai pasar strategis bagi produk dan teknologi maju Korea Selatan, Kamis (17/9/2026). (Dok. Pribadi saat Suriyati (kanan) di Korea Selatan)

Suriyati, S.Li., S.T., warga Sulawesi Selatan yang pernah bekerja di perusahaan Samsung di Korea Selatan, mengatakan dirinya menyaksikan keberadaan mahasiswa dari berbagai negara Asia Tengah selama berada di negara tersebut.

Suriyati menyampaikan kesaksiannya ketika dihubungi jurnalis SulawesiPos.com, Kamis (17/9/2026).

Menurut Suriyati, banyak mahasiswa Asia Tengah yang belajar di Korea Selatan telah mengenal secara langsung lingkungan teknologi, pendidikan dan produk industri Korea, sehingga pengalaman tersebut berpotensi memperkuat penerimaan produk Korea ketika mereka kembali ke negaranya.

BACA JUGA:  Krisis Pusat Data Menghantui Inggris, Ambisi Menjadi Raksasa AI Terancam Kandas

“Asia Tengah menjadi pasar strategis bagi produk dan teknologi buatan Korea Selatan,” ujar Suriyati.

Pengamatan tersebut sejalan dengan keinginan Seoul memperluas hubungan ekonomi dari pola lama perdagangan mobil, suku cadang dan sumber daya alam menuju barang konsumsi, bioteknologi, teknologi digital serta industri baru.

Ilham juga melihat Asia Tengah sebagai pasar potensial bagi perusahaan Korea Selatan dalam sektor otomotif, konstruksi, telekomunikasi, kesehatan, AI, infrastruktur, dan elektronik.

Namun, menurut dia, kepentingan pasar hanyalah satu lapisan dari strategi yang lebih besar karena posisi Asia Tengah berada pada koridor yang menghubungkan Asia Timur dengan Rusia, Iran, Timur Tengah dan Eropa.

“Asia Tengah memiliki posisi strategis dalam jalur perdagangan dan logistik Eurasia yang terus mencari bentuk dan pola paling menguntungkan,” katanya.

Bukan Sekadar Ekonomi, tetapi Diplomasi Eurasia

Menurut Ilham, Seoul sedang menawarkan dirinya sebagai mitra alternatif bagi negara-negara Asia Tengah ketika kawasan tersebut berhadapan dengan perubahan geopolitik akibat perang Rusia–Ukraina, kompetisi kekuatan besar dan restrukturisasi rantai pasok dunia.

Analisis itu sejalan dengan pandangan Kim Sang-cheol dari Institute of Central Asian Studies, Hankuk University of Foreign Studies, yang mengatakan Asia Tengah kini mendapat perhatian bukan hanya dari Korea Selatan, tetapi juga dari China, Jepang, Eropa, dan kekuatan eksternal lainnya.

“Korea Selatan melihat kawasan ini sebagai kesempatan membangun kerangka ekonomi strategis yang saling menguntungkan dan berjangka panjang,” ujar Ilham.

KTT Seoul kemudian melembagakan pertemuan Korea–Asia Tengah setiap dua tahun, dengan Kazakhstan dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan berikutnya pada 2028.

Ilham menambahkan bahwa diplomasi Eurasia juga memiliki dimensi politik lebih luas karena Korea Selatan membutuhkan jaringan komunikasi internasional untuk mendukung berbagai kepentingannya, termasuk stabilitas dan diplomasi di Semenanjung Korea.

Sung Jin Moon: Awal Kerja Sama Timur–Barat Asia

Budayawan dan cendekiawan Korea Selatan Dr. Sung Jin Moon menyambut positif pembukaan babak baru hubungan Korea Selatan dengan lima negara Asia Tengah ketika dihubungi jurnalis SulawesiPos.com, Kamis (17/9/2026).

Menurut Sung Jin Moon, pemerintah Korea Selatan seharusnya telah lebih awal membangun hubungan strategis yang lebih dalam dengan kawasan tersebut karena kerja sama lintas Asia dapat memberikan manfaat ekonomi, politik dan kebudayaan bagi kedua pihak.

“Langkah yang bagus dari pemerintah Korea. Seharusnya mereka sudah melakukannya lebih awal,” kata Sung Jin Moon.

Ia melihat KTT Seoul sebagai langkah awal menuju hubungan Asia yang lebih terintegrasi, dengan negara-negara Asia Timur dan kawasan di sebelah baratnya memperbesar ruang kerja sama berdasarkan kepentingan bersama.

BACA JUGA:  Meksiko Lolos ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026 Usai Bekuk Korea Selatan 1-0

“Ini merupakan langkah awal yang baik menuju era pan-Asia,” ujarnya.

Menurut Sung Jin Moon, peningkatan interaksi ekonomi dan kebudayaan lintas Eurasia juga berpotensi mengurangi dominasi satu kekuatan eksternal dalam hubungan antarnegara Asia; ia secara khusus berpendapat bahwa proses tersebut dapat mempercepat melemahnya hegemoni Amerika Serikat, sebuah pandangan geopolitik yang merupakan penilaiannya sendiri dan bukan kesimpulan KTT Seoul.

Ia juga berharap peningkatan hubungan dengan kawasan yang memiliki sejarah panjang peradaban Islam dapat memberikan lebih banyak kesempatan bagi masyarakat Korea Selatan untuk memahami Islam dan peradaban Islam melalui interaksi langsung dengan masyarakat Eurasia.

“Asia Timur dan Asia Barat dapat memperoleh manfaat dari kerja sama,” kata Sung Jin Moon.

K-Silk Road, Sejarah Lama dengan Wajah Baru

Ilham menilai gagasan K-Silk Road tidak semata-mata berbicara mengenai keuntungan ekonomi, melainkan memperlihatkan usaha Korea Selatan membangun kehadiran yang lebih nyata dalam hubungan antarnegara dan antarmasyarakat Eurasia.

Menurut dia, Korea Selatan juga tidak harus dipandang sepenuhnya sebagai “pendatang baru” karena hubungan Semenanjung Korea dengan jaringan Eurasia dapat ditelusuri melalui sejarah pertukaran dan konektivitas lintas Jalur Sutra.

“Hubungan itu secara historis dapat ditelusuri hingga masa kerajaan kuno Korea seperti Goguryeo dan Silla dengan dunia Asia Tengah, termasuk kawasan yang sekarang berada di sekitar Samarkand,” kata Ilham.

Konteks historis tersebut memberi lapisan kebudayaan pada strategi ekonomi kontemporer Seoul, meskipun hubungan politik dan ekonomi modern Korea Selatan–Asia Tengah tentu berkembang dalam struktur negara dan kepentingan yang sangat berbeda dari jaringan Jalur Sutra kuno.

Deklarasi Seoul sendiri membingkai hubungan masa depan tidak hanya melalui mineral dan energi, tetapi juga AI, transformasi digital, ilmu pengetahuan, teknologi serta hubungan antarmasyarakat, sementara pertemuan tingkat pemimpin akan menjadi mekanisme permanen untuk mengawal implementasinya.

Dari perspektif tersebut, “Jalur Sutra Baru” Korea Selatan bukan lagi jalur yang membawa sutra, rempah dan kafilah, melainkan jaringan Eurasia yang digerakkan oleh mineral kritis, energi, semikonduktor, AI, investasi, pendidikan dan teknologi tinggi.

Bagi Korea Selatan, Asia Tengah menawarkan sumber daya, pasar dan diversifikasi konektivitas; bagi negara-negara Asia Tengah, teknologi dan investasi Korea menawarkan peluang untuk memperbesar nilai tambah sumber daya serta mempercepat industrialisasi, sehingga keberhasilan “Jalur Sutra Baru” tersebut pada akhirnya akan ditentukan oleh sejauh mana lebih dari 70 kesepakatan dan nota kesepahaman dari Seoul dapat berubah menjadi proyek nyata. (Ali)

SulawesiPos.com – Korea Selatan bersama Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan, Kyrgyzstan, dan Tajikistan membuka babak baru hubungan strategis Eurasia melalui KTT Korea–Asia Tengah pertama di Seoul, Rabu (16/9/2026), dengan mengadopsi Deklarasi Seoul yang menaikkan kerja sama ke tingkat kepala negara dan menempatkan mineral kritis, energi, rantai pasok, kecerdasan buatan (AI), teknologi digital, investasi serta konektivitas sebagai fondasi kemitraan jangka panjang.

Pertemuan yang dipimpin Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung itu dihadiri Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev, Presiden Kyrgyzstan Sadyr Japarov, Presiden Tajikistan Emomali Rahmon, Presiden Turkmenistan Serdar Berdimuhamedov, dan Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev.

KTT tersebut mengangkat hubungan yang telah dikembangkan melalui Korea-Central Asia Cooperation Forum sejak 2007 dari kerangka tingkat menteri menjadi mekanisme pertemuan kepala negara.

Reuters pada 16 September 2026 melaporkan tiga hari pertemuan bilateral dan multilateral menghasilkan lebih dari 70 perjanjian serta nota kesepahaman yang mencakup energi, pertambangan, infrastruktur, teknologi dan investasi.

Lee mengatakan, perubahan ekonomi global membuat keamanan, energi, teknologi, pasar dan rantai pasok semakin saling berkaitan, sehingga kerja sama Korea dengan Asia Tengah tidak lagi dapat dipandang semata-mata sebagai perdagangan konvensional.

“Semangat Jalur Sutra Asia Tengah, yang menghubungkan manusia, teknologi dan kebudayaan antara Timur dan Barat, kini lebih dibutuhkan daripada sebelumnya,” kata Lee sebagaimana dikutip The Korea Times, Kamis (16/9/2026).

Ilham: Korea Membaca Perubahan Peta Geopolitik

Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Dr. Ilham, S.S., M.Hum., menilai kebijakan terbaru Seoul memperluas hubungan dengan Asia Tengah menunjukkan kemampuan Korea Selatan membaca perubahan geopolitik dan geoekonomi dunia.

Dr. Ilham menilai Jalur Sutra Baru memperkuat posisi strategis Korea Selatan di Asia Tengah, Kamis (17:9:2026)
Dr. Ilham menilai Jalur Sutra Baru memperkuat posisi strategis Korea Selatan di Asia Tengah, Kamis (17/9/2026).

Ilham, yang selama ini memiliki hubungan akademik dengan sejumlah universitas di Korea Selatan, khususnya Dongguk University, menyampaikan analisis tersebut ketika dihubungi jurnalis SulawesiPos.com, Jumat (18/9/2026).

“Kebijakan Korea Selatan mengembangkan kerja sama dengan negara-negara Asia Tengah merupakan langkah strategis geopolitik di tengah perubahan tatanan internasional,” kata Ilham.

Menurut dia, konflik berkepanjangan di berbagai kawasan, perubahan aliansi, serta ketidakpastian ekonomi membuat negara industri seperti Korea Selatan berkepentingan membangun jalur kerja sama baru yang tidak sepenuhnya bergantung pada pusat-pusat geopolitik tradisional.

Ia menilai langkah Seoul juga dapat dibaca sebagai upaya memperluas alternatif rantai pasok strategis di tengah besarnya posisi China dalam rantai pasok industri global, tetapi diversifikasi tersebut tidak serta-merta berarti Korea Selatan melepaskan hubungan ekonominya dengan Beijing.

“Ketika perhatian dunia sangat besar tertuju ke Timur Tengah, Korea Selatan justru membuka kerja sama strategis dengan kawasan yang potensinya masih dapat dikembangkan lebih jauh,” ujarnya.

BACA JUGA:  Delegasi FK Unhas Ikuti KOADMEX 2026 di Korea Selatan, Buka Peluang Kolaborasi Kedokteran Global

Menurut Ilham, keuntungan yang dicari tidak terbatas pada politik dan ekonomi, tetapi meliputi teknologi, energi, konektivitas serta kemungkinan kerja sama strategis lain dalam jangka panjang.

Ia bahkan melihat terdapat kemungkinan hubungan ekonomi yang semakin dalam pada masa depan berkembang ke sektor industri pertahanan, meskipun KTT Seoul saat ini terutama berfokus pada mineral, energi, industri, teknologi dan rantai pasok.

“Dalam jangka panjang, hubungan ini berpotensi berkembang hingga kerja sama industri pertahanan strategis,” kata Ilham.

Mineral Kritis Menjadi Fondasi Industri Masa Depan

Mineral kritis memang menjadi salah satu agenda utama KTT karena Korea Selatan membutuhkan pasokan bahan strategis untuk industri berteknologi tinggi, sementara negara-negara Asia Tengah mempunyai sumber daya mineral dan energi yang besar.

Lee menegaskan, Korea Selatan ingin bergerak melampaui perdagangan bahan mentah dengan membangun kerja sama sepanjang rantai nilai mineral kritis, dari eksplorasi dan pemurnian hingga material bernilai tinggi dan manufaktur produk akhir.

Ilham menilai karakter tersebut membuat Asia Tengah sangat relevan bagi transformasi industri Korea Selatan.

“Critical minerals merupakan pasokan utama bagi pengembangan teknologi tinggi masa depan, termasuk baterai, semikonduktor, kendaraan listrik, elektronik dan teknologi pertahanan,” katanya.

Menurut Ilham, kekayaan energi Asia Tengah juga membuka peluang menggeser pola hubungan dari sekadar impor sumber daya menjadi kemitraan energi, investasi dan industrialisasi yang lebih terintegrasi.

Kazakhstan, misalnya, memperkuat hubungan dengan Korea Selatan melalui dokumen kerja sama energi nuklir damai, minyak mentah, mineral kritis serta sains dan teknologi, dengan 13 dokumen kerja sama dipertukarkan dalam rangkaian pertemuan bilateral.

Korea Selatan pada saat yang sama berupaya mengembangkan pusat logam langka di Asia Tengah untuk mendukung penelitian bersama dan pengembangan sumber daya manusia.

Suriyati: Mahasiswa Asia Tengah Mengenal Teknologi Korea

Dimensi lain dari ekspansi Korea Selatan ke Asia Tengah terlihat melalui hubungan antarmasyarakat dan pengalaman generasi muda Asia Tengah yang menempuh pendidikan di Korea Selatan.

Suriyati menyebut Asia Tengah sebagai pasar strategis bagi produk dan teknologi maju Korea Selatan (Dok. Pribadi saat Suriyati (kanan) di Korea Selatan)
Suriyati menyebut Asia Tengah sebagai pasar strategis bagi produk dan teknologi maju Korea Selatan, Kamis (17/9/2026). (Dok. Pribadi saat Suriyati (kanan) di Korea Selatan)

Suriyati, S.Li., S.T., warga Sulawesi Selatan yang pernah bekerja di perusahaan Samsung di Korea Selatan, mengatakan dirinya menyaksikan keberadaan mahasiswa dari berbagai negara Asia Tengah selama berada di negara tersebut.

Suriyati menyampaikan kesaksiannya ketika dihubungi jurnalis SulawesiPos.com, Kamis (17/9/2026).

Menurut Suriyati, banyak mahasiswa Asia Tengah yang belajar di Korea Selatan telah mengenal secara langsung lingkungan teknologi, pendidikan dan produk industri Korea, sehingga pengalaman tersebut berpotensi memperkuat penerimaan produk Korea ketika mereka kembali ke negaranya.

BACA JUGA:  Kim Go Eun Raih Daesang Blue Dragon Series Awards 2026, Puncaki Kemenangan You and Everything Else

“Asia Tengah menjadi pasar strategis bagi produk dan teknologi buatan Korea Selatan,” ujar Suriyati.

Pengamatan tersebut sejalan dengan keinginan Seoul memperluas hubungan ekonomi dari pola lama perdagangan mobil, suku cadang dan sumber daya alam menuju barang konsumsi, bioteknologi, teknologi digital serta industri baru.

Ilham juga melihat Asia Tengah sebagai pasar potensial bagi perusahaan Korea Selatan dalam sektor otomotif, konstruksi, telekomunikasi, kesehatan, AI, infrastruktur, dan elektronik.

Namun, menurut dia, kepentingan pasar hanyalah satu lapisan dari strategi yang lebih besar karena posisi Asia Tengah berada pada koridor yang menghubungkan Asia Timur dengan Rusia, Iran, Timur Tengah dan Eropa.

“Asia Tengah memiliki posisi strategis dalam jalur perdagangan dan logistik Eurasia yang terus mencari bentuk dan pola paling menguntungkan,” katanya.

Bukan Sekadar Ekonomi, tetapi Diplomasi Eurasia

Menurut Ilham, Seoul sedang menawarkan dirinya sebagai mitra alternatif bagi negara-negara Asia Tengah ketika kawasan tersebut berhadapan dengan perubahan geopolitik akibat perang Rusia–Ukraina, kompetisi kekuatan besar dan restrukturisasi rantai pasok dunia.

Analisis itu sejalan dengan pandangan Kim Sang-cheol dari Institute of Central Asian Studies, Hankuk University of Foreign Studies, yang mengatakan Asia Tengah kini mendapat perhatian bukan hanya dari Korea Selatan, tetapi juga dari China, Jepang, Eropa, dan kekuatan eksternal lainnya.

“Korea Selatan melihat kawasan ini sebagai kesempatan membangun kerangka ekonomi strategis yang saling menguntungkan dan berjangka panjang,” ujar Ilham.

KTT Seoul kemudian melembagakan pertemuan Korea–Asia Tengah setiap dua tahun, dengan Kazakhstan dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan berikutnya pada 2028.

Ilham menambahkan bahwa diplomasi Eurasia juga memiliki dimensi politik lebih luas karena Korea Selatan membutuhkan jaringan komunikasi internasional untuk mendukung berbagai kepentingannya, termasuk stabilitas dan diplomasi di Semenanjung Korea.

Sung Jin Moon: Awal Kerja Sama Timur–Barat Asia

Budayawan dan cendekiawan Korea Selatan Dr. Sung Jin Moon menyambut positif pembukaan babak baru hubungan Korea Selatan dengan lima negara Asia Tengah ketika dihubungi jurnalis SulawesiPos.com, Kamis (17/9/2026).

Menurut Sung Jin Moon, pemerintah Korea Selatan seharusnya telah lebih awal membangun hubungan strategis yang lebih dalam dengan kawasan tersebut karena kerja sama lintas Asia dapat memberikan manfaat ekonomi, politik dan kebudayaan bagi kedua pihak.

“Langkah yang bagus dari pemerintah Korea. Seharusnya mereka sudah melakukannya lebih awal,” kata Sung Jin Moon.

Ia melihat KTT Seoul sebagai langkah awal menuju hubungan Asia yang lebih terintegrasi, dengan negara-negara Asia Timur dan kawasan di sebelah baratnya memperbesar ruang kerja sama berdasarkan kepentingan bersama.

BACA JUGA:  Megawati Hangestri Hadapi Lee So-young di Debut Hillstate Lawan IBK Altos

“Ini merupakan langkah awal yang baik menuju era pan-Asia,” ujarnya.

Menurut Sung Jin Moon, peningkatan interaksi ekonomi dan kebudayaan lintas Eurasia juga berpotensi mengurangi dominasi satu kekuatan eksternal dalam hubungan antarnegara Asia; ia secara khusus berpendapat bahwa proses tersebut dapat mempercepat melemahnya hegemoni Amerika Serikat, sebuah pandangan geopolitik yang merupakan penilaiannya sendiri dan bukan kesimpulan KTT Seoul.

Ia juga berharap peningkatan hubungan dengan kawasan yang memiliki sejarah panjang peradaban Islam dapat memberikan lebih banyak kesempatan bagi masyarakat Korea Selatan untuk memahami Islam dan peradaban Islam melalui interaksi langsung dengan masyarakat Eurasia.

“Asia Timur dan Asia Barat dapat memperoleh manfaat dari kerja sama,” kata Sung Jin Moon.

K-Silk Road, Sejarah Lama dengan Wajah Baru

Ilham menilai gagasan K-Silk Road tidak semata-mata berbicara mengenai keuntungan ekonomi, melainkan memperlihatkan usaha Korea Selatan membangun kehadiran yang lebih nyata dalam hubungan antarnegara dan antarmasyarakat Eurasia.

Menurut dia, Korea Selatan juga tidak harus dipandang sepenuhnya sebagai “pendatang baru” karena hubungan Semenanjung Korea dengan jaringan Eurasia dapat ditelusuri melalui sejarah pertukaran dan konektivitas lintas Jalur Sutra.

“Hubungan itu secara historis dapat ditelusuri hingga masa kerajaan kuno Korea seperti Goguryeo dan Silla dengan dunia Asia Tengah, termasuk kawasan yang sekarang berada di sekitar Samarkand,” kata Ilham.

Konteks historis tersebut memberi lapisan kebudayaan pada strategi ekonomi kontemporer Seoul, meskipun hubungan politik dan ekonomi modern Korea Selatan–Asia Tengah tentu berkembang dalam struktur negara dan kepentingan yang sangat berbeda dari jaringan Jalur Sutra kuno.

Deklarasi Seoul sendiri membingkai hubungan masa depan tidak hanya melalui mineral dan energi, tetapi juga AI, transformasi digital, ilmu pengetahuan, teknologi serta hubungan antarmasyarakat, sementara pertemuan tingkat pemimpin akan menjadi mekanisme permanen untuk mengawal implementasinya.

Dari perspektif tersebut, “Jalur Sutra Baru” Korea Selatan bukan lagi jalur yang membawa sutra, rempah dan kafilah, melainkan jaringan Eurasia yang digerakkan oleh mineral kritis, energi, semikonduktor, AI, investasi, pendidikan dan teknologi tinggi.

Bagi Korea Selatan, Asia Tengah menawarkan sumber daya, pasar dan diversifikasi konektivitas; bagi negara-negara Asia Tengah, teknologi dan investasi Korea menawarkan peluang untuk memperbesar nilai tambah sumber daya serta mempercepat industrialisasi, sehingga keberhasilan “Jalur Sutra Baru” tersebut pada akhirnya akan ditentukan oleh sejauh mana lebih dari 70 kesepakatan dan nota kesepahaman dari Seoul dapat berubah menjadi proyek nyata. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru