Amran Tembus Skor 91, Tertinggi di Kabinet: 3 Guru Besar Bedah Mesin Kerja Sang Menteri Pertanian

“Tidak ada kebijakan yang sempurna, tentu masih ada catatan yang perlu diperbaiki, tetapi apa yang dicapai Pak Amran merupakan indikasi kuat bahwa beliau adalah seorang pekerja dengan orientasi yang sangat baik kepada kepentingan dan kemanfaatan masyarakat,” kata Sukri.

Karena itulah, Sukri menyebut pencapaian tersebut sebagai bentuk apresiasi yang kuat sekaligus tanggung jawab baru agar Kementerian Pertanian tidak berhenti pada capaian yang sudah diperoleh.

“Selamat kepada Dr. Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian Republik Indonesia, karena ini adalah sebuah pengakuan ilmiah yang menunjukkan bahwa kinerja yang beliau lakukan betul-betul memberikan dampak dan manfaat yang baik bagi masyarakat,” ujarnya.

Nurliah Nurdin: Dari Swasembada Beras Menuju Negara dengan Tata Kelola Pangan Modern

Guru Besar Politik Pemerintahan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Jakarta, Prof. Dr. Nurliah Nurdin, M.A. Foto: Ilustrasi

Nada apresiasi datang pula dari Guru Besar Politik Pemerintahan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Jakarta, Prof. Dr. Nurliah Nurdin, M.A., yang dihubungi, membaca keberhasilan Amran melalui perspektif yang lebih luas, yakni kemampuan negara menghubungkan data, kebijakan, implementasi, koordinasi, pengawasan, dan hasil akhir.

BACA JUGA:  Mentan Amran: Pangan Aman 324 Hari ke Depan, Produksi Beras 2,6–5,7 Juta Ton per Bulan

Menurut Nurliah, skor 91 menjadi penting karena IndexPolitica tidak hanya membaca kebijakan dari apa yang diumumkan pemerintah, tetapi memberikan perhatian besar terhadap outcome, efektivitas implementasi, dampak, inovasi, serta koordinasi pemerintahan.

“Sebagai akademisi, saya melihat kinerja Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terutama dari perspektif tata kelola pemerintahan, yakni kemampuan pemerintah mengintegrasikan data, kebijakan, implementasi, koordinasi, dan pengendalian sehingga menghasilkan outcome yang terukur,” kata Nurliah.

Di balik argumentasi tersebut terdapat angka produksi yang besar, karena data resmi BPS menunjukkan produksi padi Indonesia sepanjang 2025 mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling, meningkat 13,29 persen dari 2024, sementara produksi beras untuk konsumsi penduduk mencapai 34,69 juta ton, naik sekitar 4,07 juta ton.

Bagi Nurliah, capaian itu membuktikan kuatnya basis produksi pangan Indonesia, tetapi keberhasilan beras justru harus menjadi pintu masuk menuju pekerjaan yang jauh lebih kompleks.

“Ketahanan pangan Indonesia tidak boleh direduksi menjadi swasembada beras,” tegas Nurliah.

BACA JUGA:  Mentan Amran/KaBapanas Tegaskan Jelang Ramadhan–Idul Fitri 2026 Tak Ada Alasan Harga Pangan Naik

Ia mendorong agar energi kebijakan yang berhasil mengangkat produksi beras diperluas menuju jagung, kedelai, gula, hortikultura, protein hewani dan pangan lokal, sembari memperkuat produktivitas, kualitas, efisiensi, daya saing, serta kemampuan menghadapi perubahan iklim.

Dengan cara itu, menurut Nurliah, warisan kebijakan Amran kelak tidak semata-mata dinilai dari berapa juta ton beras yang diproduksi Indonesia, tetapi dari kemampuan membangun arsitektur pangan nasional yang tidak rapuh ketika menghadapi perubahan iklim, gejolak perdagangan internasional atau gangguan rantai pasok.

“Legacy Amran bukan hanya swasembada beras, tetapi terbangunnya sistem pemerintahan pangan yang mandiri, beragam, adaptif, dan berkelanjutan,” kata Nurliah.

Mursalim Nohong: Pertanian Bukan Hanya Urusan Sawah, tetapi Mesin Ekonomi

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (FEB Unhas), Prof. Dr. Mursalim Nohong, S.E., M.Si., CWM. Foto: Istimewa.

Dari perspektif ekonomi, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (FEB Unhas), Prof. Dr. Mursalim Nohong, S.E., M.Si., CWM., membawa pembacaan skor 91 itu dari sawah menuju ruang yang lebih luas: pertumbuhan ekonomi, daya beli petani, perdagangan, investasi dan penciptaan nilai tambah.

BACA JUGA:  Kementan Percepat Cetak Sawah 2.000 Hektare di Papua Pegunungan, Perkuat Fondasi Swasembada Pangan

Saat dihubungi,

Mursalim menilai sektor pertanian mempunyai posisi strategis karena menyediakan kebutuhan pangan sekaligus menggerakkan ekonomi nasional dan kehidupan masyarakat perdesaan.

“Tidak ada kebijakan yang sempurna, tentu masih ada catatan yang perlu diperbaiki, tetapi apa yang dicapai Pak Amran merupakan indikasi kuat bahwa beliau adalah seorang pekerja dengan orientasi yang sangat baik kepada kepentingan dan kemanfaatan masyarakat,” kata Sukri.

Karena itulah, Sukri menyebut pencapaian tersebut sebagai bentuk apresiasi yang kuat sekaligus tanggung jawab baru agar Kementerian Pertanian tidak berhenti pada capaian yang sudah diperoleh.

“Selamat kepada Dr. Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian Republik Indonesia, karena ini adalah sebuah pengakuan ilmiah yang menunjukkan bahwa kinerja yang beliau lakukan betul-betul memberikan dampak dan manfaat yang baik bagi masyarakat,” ujarnya.

Nurliah Nurdin: Dari Swasembada Beras Menuju Negara dengan Tata Kelola Pangan Modern

Guru Besar Politik Pemerintahan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Jakarta, Prof. Dr. Nurliah Nurdin, M.A. Foto: Ilustrasi

Nada apresiasi datang pula dari Guru Besar Politik Pemerintahan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Jakarta, Prof. Dr. Nurliah Nurdin, M.A., yang dihubungi, membaca keberhasilan Amran melalui perspektif yang lebih luas, yakni kemampuan negara menghubungkan data, kebijakan, implementasi, koordinasi, pengawasan, dan hasil akhir.

BACA JUGA:  Mentan Amran: Pangan Aman 324 Hari ke Depan, Produksi Beras 2,6–5,7 Juta Ton per Bulan

Menurut Nurliah, skor 91 menjadi penting karena IndexPolitica tidak hanya membaca kebijakan dari apa yang diumumkan pemerintah, tetapi memberikan perhatian besar terhadap outcome, efektivitas implementasi, dampak, inovasi, serta koordinasi pemerintahan.

“Sebagai akademisi, saya melihat kinerja Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terutama dari perspektif tata kelola pemerintahan, yakni kemampuan pemerintah mengintegrasikan data, kebijakan, implementasi, koordinasi, dan pengendalian sehingga menghasilkan outcome yang terukur,” kata Nurliah.

Di balik argumentasi tersebut terdapat angka produksi yang besar, karena data resmi BPS menunjukkan produksi padi Indonesia sepanjang 2025 mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling, meningkat 13,29 persen dari 2024, sementara produksi beras untuk konsumsi penduduk mencapai 34,69 juta ton, naik sekitar 4,07 juta ton.

Bagi Nurliah, capaian itu membuktikan kuatnya basis produksi pangan Indonesia, tetapi keberhasilan beras justru harus menjadi pintu masuk menuju pekerjaan yang jauh lebih kompleks.

“Ketahanan pangan Indonesia tidak boleh direduksi menjadi swasembada beras,” tegas Nurliah.

BACA JUGA:  Warga Banjir Barombong Ucap Terima Kasih atas Bantuan Ketua IKA Unhas Andi Amran Sulaiman

Ia mendorong agar energi kebijakan yang berhasil mengangkat produksi beras diperluas menuju jagung, kedelai, gula, hortikultura, protein hewani dan pangan lokal, sembari memperkuat produktivitas, kualitas, efisiensi, daya saing, serta kemampuan menghadapi perubahan iklim.

Dengan cara itu, menurut Nurliah, warisan kebijakan Amran kelak tidak semata-mata dinilai dari berapa juta ton beras yang diproduksi Indonesia, tetapi dari kemampuan membangun arsitektur pangan nasional yang tidak rapuh ketika menghadapi perubahan iklim, gejolak perdagangan internasional atau gangguan rantai pasok.

“Legacy Amran bukan hanya swasembada beras, tetapi terbangunnya sistem pemerintahan pangan yang mandiri, beragam, adaptif, dan berkelanjutan,” kata Nurliah.

Mursalim Nohong: Pertanian Bukan Hanya Urusan Sawah, tetapi Mesin Ekonomi

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (FEB Unhas), Prof. Dr. Mursalim Nohong, S.E., M.Si., CWM. Foto: Istimewa.

Dari perspektif ekonomi, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (FEB Unhas), Prof. Dr. Mursalim Nohong, S.E., M.Si., CWM., membawa pembacaan skor 91 itu dari sawah menuju ruang yang lebih luas: pertumbuhan ekonomi, daya beli petani, perdagangan, investasi dan penciptaan nilai tambah.

BACA JUGA:  Kejar Swasembada Gula Dua Tahun, Mentan Amran Pacu Produksi Nasional Tembus 3 Juta Ton

Saat dihubungi,

Mursalim menilai sektor pertanian mempunyai posisi strategis karena menyediakan kebutuhan pangan sekaligus menggerakkan ekonomi nasional dan kehidupan masyarakat perdesaan.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru