Samarkand Jadi Destinasi Umrah, Prof Rahim Yunus: Ini Jalan Baru Islam Kosmopolitan

SulawesiPos.com – Pemerintah Indonesia dan Uzbekistan menjajaki pembukaan penerbangan langsung untuk mengembangkan wisata religi dan memperkuat hubungan kedua negara dengan menempatkan Samarkand sebagai salah satu calon destinasi tambahan perjalanan jemaah umrah Indonesia.

Sebuah langkah yang menurut Guru Besar Sejarah dan Peradaban Islam UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Abd. Rahim Yunus, M.A. dapat membuka kembali hubungan intelektual dua kawasan peradaban Muslim sekaligus menghasilkan manfaat ekonomi, pendidikan, budaya, sosial, teknologi, dan diplomasi bagi kedua bangsa.

Rencana tersebut dibahas Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf bersama Gubernur Samarkand Adiz Boboev di Samarkand, Uzbekistan, Sabtu (5/9/2026), sebagai bagian dari upaya memperluas konektivitas dan pertukaran wisatawan kedua negara.

Beberapa media yang mempublikasikan perkembangan tersebut pada 7 September 2026, melaporkan bahwa pemerintah melihat hubungan Indonesia–Uzbekistan memiliki akar sejarah panjang yang dapat diterjemahkan menjadi kerja sama konkret melalui wisata religi dan konektivitas udara.

“Kita ingin menguatkan kembali hubungan yang sudah terbentuk sejak lama,” kata Irfan dalam keterangannya.

BACA JUGA:  Masjid Tua Katangka: Jejak Sejarah dan Perpaduan Budaya di Peninggalan Kerajaan Gowa

Gagasan tersebut memperoleh perhatian khusus Prof. Abd. Rahim Yunus ketika dihubungi jurnalis SulawesiPos.com, Selasa (8/9/2026), karena kerja sama itu menurutnya tidak boleh dipahami sebatas memindahkan wisatawan dari Indonesia ke Uzbekistan atau sebaliknya, tetapi sebagai perjumpaan kembali dua masyarakat Muslim yang memiliki kekayaan sejarah dan tradisi keilmuan besar.

Guru Besar UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Abd. Rahim Yunus, M.A

“Saya kira ini adalah program yang sangat bagus, karena ini akan membawa Islam menjadi kosmopolitan, Islam yang modern dan lebih maju,” kata Prof. Rahim.

Menurut mantan Pelaksana Tugas Ketua MUI Sulawesi Selatan tersebut, wisata religi dapat menjadi pintu masuk menuju hubungan yang jauh lebih luas karena perjalanan manusia hampir selalu diikuti pertukaran pengetahuan, barang, bahasa, pengalaman, jaringan ekonomi, dan kebudayaan.

“Kerja sama ini akan memberikan dampak positif dan keuntungan besar bagi kedua negara Islam ini, meliputi ekonomi, politik, budaya, sosial, bahkan pertahanan dan keamanan, karena kedua bangsa akan saling mengenal dan mempelajari apa yang terdapat di negara masing-masing,” ujarnya.

BACA JUGA:  Wisata Religi di Makassar: Masjid Ikonik yang Bisa Dikunjungi Saat Bulan Puasa

Dari Wisata Religi Menuju Pertukaran Peradaban

Analisis Prof. Rahim menemukan relevansi historisnya pada posisi Samarkand yang selama berabad-abad menjadi salah satu simpul besar pertemuan manusia, perdagangan, pengetahuan, dan kebudayaan di Jalur Sutra.

UNESCO menetapkan Samarkand–Crossroad of Cultures sebagai Situs Warisan Dunia pada 2001 karena kota berusia lebih dari 2.500 tahun itu merupakan persimpangan kebudayaan dunia yang berkembang sangat penting terutama pada zaman Timurid abad ke-14 hingga ke-15.

Samarkand–Crossroad of Cultures

Warisan kota tersebut mencakup Registan, Masjid Bibi-Khanum, kompleks Shakhi-Zinda, Gur-Emir hingga Observatorium Ulugh Beg, sementara pengaruh arsitektur Timurid menyebar luas dan ikut memengaruhi perkembangan arsitektur Safawi di Persia serta Mughal di anak benua India.

Samarkand dengan demikian menawarkan sesuatu yang lebih luas daripada wisata ziarah karena kota itu memungkinkan wisatawan Muslim mempelajari bagaimana agama, ilmu pengetahuan, seni, astronomi, arsitektur, perdagangan dan kehidupan perkotaan pernah berkembang secara bersamaan dalam sebuah pusat peradaban.

Prof. Rahim menilai dimensi pendidikan seperti inilah yang seharusnya menjadi jiwa kerja sama wisata religi Indonesia–Uzbekistan sehingga wisatawan tidak hanya datang, berfoto dan pulang, tetapi memperoleh pemahaman sejarah mengenai bagaimana ilmu pengetahuan berkembang melalui perjumpaan lintas bangsa.

BACA JUGA:  Kolombia Puncaki Grup K Piala Dunia 2026 Usai Tekuk Debutan Uzbekistan 3-1

SulawesiPos.com – Pemerintah Indonesia dan Uzbekistan menjajaki pembukaan penerbangan langsung untuk mengembangkan wisata religi dan memperkuat hubungan kedua negara dengan menempatkan Samarkand sebagai salah satu calon destinasi tambahan perjalanan jemaah umrah Indonesia.

Sebuah langkah yang menurut Guru Besar Sejarah dan Peradaban Islam UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Abd. Rahim Yunus, M.A. dapat membuka kembali hubungan intelektual dua kawasan peradaban Muslim sekaligus menghasilkan manfaat ekonomi, pendidikan, budaya, sosial, teknologi, dan diplomasi bagi kedua bangsa.

Rencana tersebut dibahas Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf bersama Gubernur Samarkand Adiz Boboev di Samarkand, Uzbekistan, Sabtu (5/9/2026), sebagai bagian dari upaya memperluas konektivitas dan pertukaran wisatawan kedua negara.

Beberapa media yang mempublikasikan perkembangan tersebut pada 7 September 2026, melaporkan bahwa pemerintah melihat hubungan Indonesia–Uzbekistan memiliki akar sejarah panjang yang dapat diterjemahkan menjadi kerja sama konkret melalui wisata religi dan konektivitas udara.

“Kita ingin menguatkan kembali hubungan yang sudah terbentuk sejak lama,” kata Irfan dalam keterangannya.

BACA JUGA:  Membumikan Nilai 400 Tahun Syekh Yusuf, Kaum Muda Sulsel Diajak Kedepankan Meritokrasi dan Spiritualitas Politik

Gagasan tersebut memperoleh perhatian khusus Prof. Abd. Rahim Yunus ketika dihubungi jurnalis SulawesiPos.com, Selasa (8/9/2026), karena kerja sama itu menurutnya tidak boleh dipahami sebatas memindahkan wisatawan dari Indonesia ke Uzbekistan atau sebaliknya, tetapi sebagai perjumpaan kembali dua masyarakat Muslim yang memiliki kekayaan sejarah dan tradisi keilmuan besar.

Guru Besar UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Abd. Rahim Yunus, M.A

“Saya kira ini adalah program yang sangat bagus, karena ini akan membawa Islam menjadi kosmopolitan, Islam yang modern dan lebih maju,” kata Prof. Rahim.

Menurut mantan Pelaksana Tugas Ketua MUI Sulawesi Selatan tersebut, wisata religi dapat menjadi pintu masuk menuju hubungan yang jauh lebih luas karena perjalanan manusia hampir selalu diikuti pertukaran pengetahuan, barang, bahasa, pengalaman, jaringan ekonomi, dan kebudayaan.

“Kerja sama ini akan memberikan dampak positif dan keuntungan besar bagi kedua negara Islam ini, meliputi ekonomi, politik, budaya, sosial, bahkan pertahanan dan keamanan, karena kedua bangsa akan saling mengenal dan mempelajari apa yang terdapat di negara masing-masing,” ujarnya.

BACA JUGA:  Prof Munawir: Andi Amran Sulaiman, Ketegasan yang Berakar, Kepedulian yang Berbuah

Dari Wisata Religi Menuju Pertukaran Peradaban

Analisis Prof. Rahim menemukan relevansi historisnya pada posisi Samarkand yang selama berabad-abad menjadi salah satu simpul besar pertemuan manusia, perdagangan, pengetahuan, dan kebudayaan di Jalur Sutra.

UNESCO menetapkan Samarkand–Crossroad of Cultures sebagai Situs Warisan Dunia pada 2001 karena kota berusia lebih dari 2.500 tahun itu merupakan persimpangan kebudayaan dunia yang berkembang sangat penting terutama pada zaman Timurid abad ke-14 hingga ke-15.

Samarkand–Crossroad of Cultures

Warisan kota tersebut mencakup Registan, Masjid Bibi-Khanum, kompleks Shakhi-Zinda, Gur-Emir hingga Observatorium Ulugh Beg, sementara pengaruh arsitektur Timurid menyebar luas dan ikut memengaruhi perkembangan arsitektur Safawi di Persia serta Mughal di anak benua India.

Samarkand dengan demikian menawarkan sesuatu yang lebih luas daripada wisata ziarah karena kota itu memungkinkan wisatawan Muslim mempelajari bagaimana agama, ilmu pengetahuan, seni, astronomi, arsitektur, perdagangan dan kehidupan perkotaan pernah berkembang secara bersamaan dalam sebuah pusat peradaban.

Prof. Rahim menilai dimensi pendidikan seperti inilah yang seharusnya menjadi jiwa kerja sama wisata religi Indonesia–Uzbekistan sehingga wisatawan tidak hanya datang, berfoto dan pulang, tetapi memperoleh pemahaman sejarah mengenai bagaimana ilmu pengetahuan berkembang melalui perjumpaan lintas bangsa.

BACA JUGA:  Kolombia Puncaki Grup K Piala Dunia 2026 Usai Tekuk Debutan Uzbekistan 3-1

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru