Konsep tersebut bahkan memiliki relevansi dengan sejarah Jalur Sutra karena UNESCO mencatat para pedagang yang melewati Samarkand tidak hanya membawa komoditas, tetapi juga menjadi bagian dari pertukaran pengetahuan, gagasan, kebudayaan, agama dan bahasa.
Karena itu, wisata religi modern dapat dikembangkan menjadi semacam “Jalur Sutra Pengetahuan” yang mempertemukan perguruan tinggi, pesantren, pusat penelitian, museum, pengelola manuskrip, sejarawan, mahasiswa dan masyarakat kedua negara.
Imam Bukhari, Jembatan Emosional Indonesia–Uzbekistan
Salah satu daya tarik terkuat Uzbekistan bagi Muslim Indonesia, menurut Prof. Rahim, adalah hubungan negeri tersebut dengan Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari, ulama besar hadis yang karya monumentalnya, Al-Jami’ al-Sahih atau Sahih al-Bukhari, dipelajari selama berabad-abad di berbagai pusat pendidikan Islam.
“Dari segi keilmuan sejarah dan peradaban, kerja sama ini akan memperkaya khazanah keilmuan Indonesia karena Muslim Indonesia akan semakin dekat dengan salah satu tokoh penulis hadis sahih dalam tradisi Islam, yaitu Imam Bukhari, yang makamnya berada di Samarkand, Uzbekistan,” kata Prof. Rahim.
Imam Bukhari International Scientific Research Center pada 28 Agustus 2026 bahkan menyebut warisan Imam al-Bukhari sebagai jembatan spiritual Indonesia–Uzbekistan, sekaligus mencatat adanya peluang kerja sama dengan lembaga pendidikan tinggi Indonesia dalam kajian hadis, penelitian manuskrip, pertukaran akademik dan penelitian bersama.
Bagi Prof. Rahim, potensi tersebut membuat perjalanan ke Uzbekistan dapat dikembangkan menjadi wisata religi berbasis ilmu pengetahuan, misalnya melalui kunjungan akademik mahasiswa sejarah Islam, studi hadis, arkeologi, arsitektur, filologi dan bahasa ke pusat-pusat penelitian serta situs sejarah.

Jejak intelektual Uzbekistan juga tidak berhenti pada Imam al-Bukhari karena kawasan tersebut berhubungan dengan Imam al-Maturidi dalam tradisi teologi Sunni, Imam al-Tirmidzi dalam ilmu hadis, Bahauddin Naqsyaband dalam tasawuf, serta Ulugh Beg dalam astronomi dan matematika.
Artinya, paket perjalanan Samarkand–Bukhara–Termez berpotensi berubah menjadi “ruang kuliah terbuka” mengenai sejarah peradaban Islam apabila perjalanan dirancang dengan kurikulum, pemandu ilmiah dan kolaborasi lembaga pendidikan.
Bung Karno dan Memori Makam Imam Bukhari
Hubungan emosional Indonesia dengan situs Imam al-Bukhari semakin kuat karena adanya kisah historis mengenai Presiden Soekarno yang berkunjung ke kawasan tersebut pada masa Uni Soviet.
Sejumlah kesaksian yang dihimpun MPR RI menyebut kondisi makam Imam al-Bukhari menjelang kunjungan Soekarno pada 1956 kurang terawat, lalu pemerintah Soviet membersihkan dan membenahi kawasan tersebut menjelang kedatangannya.
Namun, sumber ANTARA yang mengulas kisah itu sebelumnya mengingatkan bahwa tidak terdapat sumber sejarah resmi yang sepenuhnya mengonfirmasi seluruh versi populer mengenai peran Soekarno, meskipun cerita tentang jasanya tetap hidup kuat dalam ingatan masyarakat Samarkand.
Sumber terbaru dari Imam Bukhari International Scientific Research Center sendiri mencatat kunjungan Soekarno ke Samarkand pada 1956 dan menyatakan kunjungan tersebut berkontribusi meningkatkan perhatian pemerintah terhadap situs suci Imam al-Bukhari.
Jejak tersebut bahkan mendorong Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin pada 2023 mengusulkan pembangunan Soekarno Memorial Library di dekat makam Imam al-Bukhari sebagai pengingat hubungan sejarah kedua bangsa.

Bagi Prof. Rahim, hubungan historis itu merupakan modal diplomasi budaya yang sangat bernilai karena menunjukkan bahwa persahabatan Indonesia–Uzbekistan tidak hanya dibangun oleh kepentingan ekonomi kontemporer, tetapi juga memiliki lapisan memori keagamaan dan sejarah.
Ekonomi Bergerak, UMKM, hingga Industri Halal Berpeluang Tumbuh
Keuntungan wisata religi, menurut Prof. Rahim, akan terasa paling langsung pada sektor ekonomi karena setiap peningkatan perjalanan manusia menciptakan kebutuhan transportasi, hotel, restoran halal, pemandu wisata, pusat oleh-oleh, kerajinan, pembayaran digital, dan berbagai layanan pendukung.
Dampaknya juga dapat menjalar kepada UMKM karena wisatawan Indonesia yang datang ke Uzbekistan akan menjadi pasar bagi produk lokal, sementara wisatawan Uzbekistan di Indonesia berpotensi menggerakkan hotel, transportasi, kuliner halal, ekonomi kreatif dan sentra kerajinan di berbagai daerah.
Peluang tersebut memperoleh fondasi ekonomi yang semakin nyata setelah Indonesia dan Uzbekistan pada Juni 2026 sepakat mendorong percepatan pembahasan perdagangan bebas dan pembentukan Joint Working Group on Trade and Investment Cooperation, dengan bidang prioritas antara lain perdagangan buah-buahan, petrokimia, UMKM dan pariwisata.

