SulawesiPos.com – Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar mengungkapkan Makassar mencapai suhu tertinggi 36 derajat sampai Minggu (6/9/2026).
Ketua Tim Bidang Meteorologi di BBMKG Wilayah IV Makassar, Rizky Yudha mengatakan per 30 Agustus 2026, suhu yang tercatat di Stasiun Hasanuddin Makassar mencapai 36 derafat.
“Tapi yang perlu diperhatikan adalah saat suhunya tinggi, kemudian ditambah dengan kelembapan udara yang rendah, angin yang bertiup, itu akan terasa lebih panas di tubuh manusia dibandingkan saat anginnya kencang,” kata Yudha kepada SulawesiPos.com, Jumat (4/9/2026).
Suhu terpanas di Makassar, kata Yudha, mengalami puncak sekitar di bulan Agustus hingga September karena kondisi curah hujan pada periode tersebut.
“Khususnya di Sulawesi Selatan bagian barat itu hampir berpotensi tidak turun hujan sama sekali, seperti itu,” kata dia.
Yudha mengatakan, kondisi suhu panas serta angin kencang ini akan sangat mempermudah terjadinya kebakaran di Kota Makassar.
“Jadi memang saat terjadi kebakaran, baik itu kebakaran rumah atau pun lahan dan hutan, itu akan sangat mudah sekali menyebar dikarenakan kondisi cuaca yang cerah, kemudian anginnya kencang, dan suhunya tinggi,” ungkapnya.
194 Kebakaran Sepanjang 2026 hingga Agustus
Dinas Pemadam Kebakaran Makassar mencatat 194 insiden kebakaran sepanjang 2026 hingga Agustus yang menewaskan 28 orang, melukai 14 orang lainnya, berdampak pada 1.645 jiwa, dan menyebabkan kerugian material lebih dari Rp11 miliar di Kota Makassar.
Data itu menunjukkan jumlah kasus memang turun 25 persen dibanding tahun lalu, tetapi dua bulan terakhir justru menjadi periode paling rawan kebakaran di kota tersebut.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Makassar, Fadli Wellang, menyebut puncak kebakaran pada 2026 terjadi pada Juli dengan 47 kasus dan Agustus dengan 44 kasus.
“Meskipun terjadi penurunan dari puncak tahun 2023 dan angka tahun lalu, jumlah insiden pada 2026 masih tergolong tinggi. Yang paling memprihatinkan, puncak kebakaran terjadi pada Juli (47 kasus) dan Agustus (44 kasus). Dua bulan yang biasanya bersamaan dengan musim kemarau di wilayah Sulawesi Selatan,” urai Fadli Wellang.
Kebakaran di Bonto Lanra Awal September
Kebakaran terjadi saat pemadaman listrik bergilir melanda Kota Makassar, Kamis (3/9/2026) malam.
Api yang diduga berasal dari lilin yang digunakan sebagai penerangan saat listrik padam membakar tiga rumah di Jalan Bonto Lanra Lorong 1, Kelurahan Banta-Bantaeng, Kecamatan Rappocini.
Kebakaran tersebut terjadi sekitar pukul 20.45 Wita.
“Informasi sementara dari penghuni kamar yang lain, penyebabnya lilin yang dinyalakan saat mati lampu,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar, M Fadli Tahar.
Adapun pemadaman bergilir ini dilakukan oleh PLN sebagai bentuk pemeliharaan di tengah kekeringan yang terjadi.

