Oleh: Risal Suaib, Anggota Bawaslu Kota Makassar
Peralihan metode konversi suara dalam sistem pemilu proporsional bukan sekadar persoalan teknis matematika di atas kertas plano. Lebih dari itu, perubahan tersebut membentuk psikologi bertarung para kontestan politik hingga ke akar rumput.
Di luar perbedaan mendasar pada mekanisme alokasi kursi antara penggunaan bilangan pembagi ganjil (1, 3, 5, 7, dst.) dalam metode divisor rata-rata tertinggi Sainte-Laguë versus pengenaan Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) pada metode largest remainder Kuota Hare, terdapat pergeseran peta kalkulasi yang secara langsung mengubah perilaku partai politik di lapangan.
Dalam era metode Kuota Hare yang terakhir dipakai pada Pemilu 2014, partai politik memiliki batas target yang terukur: “harga” satu kursi ditentukan secara pasti oleh nilai BPP (total suara sah dibagi jumlah kursi).
Partai politik tahu persis angka psikologis yang harus dicapai untuk mengamankan kursi pertama. Kepastian batas ini memberi ruang bagi partai untuk mengukur keterjangkauan target.
Sebaliknya, metode Sainte-Laguë bekerja dengan logika kompetisi relatif tanpa batasan harga pasti di awal. Suara partai akan terus dibagi dengan angka ganjil secara bertahap dan diadu langsung dengan hasil pembagian partai lain.
Dalam sistem ini, sebuah partai tidak pernah benar-benar tahu di angka berapa persisnya satu kursi aman diraih, karena “ambang batas” itu selalu bergerak menyesuaikan seberapa agresif perolehan suara kompetitor.
Ketiadaan gambaran target angka yang pasti dalam metode Sainte-Laguë memicu konsekuensi elektoral yang masif:
Pertama. Pencegahan Kerapuhan Posisi. Partai tidak bisa cepat merasa puas hanya karena sudah mengantongi modal suara tertentu, sebab pembagi ganjil pada urutan berikutnya (seperti pembagi 3 atau 5) akan dengan cepat menyusutkan nilai bobot suara mereka di putaran perebutan kursi selanjutnya.
Kedua. Keharusan Mobilisasi Maksimal. Kondisi ketidakpastian ini memaksa mesin partai dan para caleg untuk bekerja jauh lebih keras menyisir setiap kantong pemilih hingga detik-detik terakhir.
Setiap satu suara menjadi sangat berharga untuk menjaga nilai rata-rata pembagian tetap unggul.
Namun, dorongan untuk memobilisasi massa secara maksimal dalam ruang kompetisi tanpa batas pasti ini menyimpan celah kerawanan. Ketika tekanan lapangan meningkat dan keterukuran target mengabur, wacana pragmatis sering kali mengambil alih.
Jika politik uang dipahami sebagai instrumen instan untuk menggerakkan pemilih menuju TPS, maka skema pertarungan dalam metode Sainte-Laguë yang menuntut akumulasi suara tanpa batas aman secara tidak langsung memperbesar insentif terjadinya praktik tersebut.
Pada akhirnya, perubahan metode konversi suara tidak hanya mengubah cara kita menghitung pemenang pemilu.
Lebih dari itu, ia menentukan seberapa berat tarikan napas para politisi di lapangan, sekaligus menguji sejauh mana integritas proses demokrasi bertahan di tengah kompetisi angka yang dinamis.

