Samarkand Jadi Destinasi Umrah, Prof Rahim Yunus: Ini Jalan Baru Islam Kosmopolitan

Uzbekistan juga telah secara khusus membidik pasar Asia Tenggara melalui program “Umrah Plus dan Ziyorat Tourism”, termasuk kegiatan promosi di Jakarta pada 22–23 Juni 2026 yang dirancang untuk membangun kemitraan bisnis serta mempromosikan warisan spiritual Uzbekistan kepada pasar Indonesia.

Karena itu, penerbangan langsung apabila kelak terealisasi berpotensi menghasilkan efek berganda yang jauh melampaui penjualan tiket pesawat karena konektivitas dapat mempercepat arus wisatawan, investasi, perdagangan, pendidikan dan hubungan antarmasyarakat.

Teknologi dan Digitalisasi Warisan Islam

Prof. Rahim juga melihat peluang kerja sama dapat diperluas ke bidang teknologi, terutama digitalisasi manuskrip, dokumentasi situs sejarah, pengembangan museum digital, basis data hadis, pemetaan arkeologi dan teknologi konservasi bangunan bersejarah.

Perguruan tinggi Indonesia dapat bekerja sama dengan lembaga penelitian Uzbekistan untuk melakukan digitalisasi naskah Islam, pertukaran data sejarah dan pengembangan penelitian multidisipliner yang mempertemukan sejarah dengan arkeologi, filologi, teknologi informasi, arsitektur dan konservasi.

Teknologi juga dapat digunakan untuk membangun pengalaman wisata pendidikan melalui virtual museum, rekonstruksi tiga dimensi situs bersejarah, aplikasi pemandu multibahasa, arsip digital dan sistem informasi geografis yang memungkinkan generasi muda mempelajari sejarah secara interaktif.

BACA JUGA:  Masjid Tua Katangka, Saksi Awal Islam di Gowa yang Masih Berdiri Kokoh

Namun, peningkatan wisata harus tetap memperhatikan konservasi karena UNESCO pada 2025 kembali meminta Uzbekistan menjaga nilai universal Samarkand di tengah pembangunan kota, proyek infrastruktur dan meningkatnya fasilitas pariwisata.

Dengan demikian, keuntungan ekonomi dari wisata tidak seharusnya mengorbankan warisan sejarah, melainkan justru menyediakan sumber daya untuk melindungi situs tersebut bagi generasi mendatang.

Indonesia Juga Memiliki “Laboratorium” Peradaban Islam

Prof. Rahim menegaskan pertukaran tersebut harus berlangsung dua arah karena masyarakat Uzbekistan juga dapat mempelajari bagaimana Islam berkembang secara khas di kepulauan Nusantara.

“Sebaliknya, pihak Uzbekistan dapat mengenal peninggalan budaya Wali Songo dan tempat-tempat pusat pendidikan serta pengajaran Islam yang tersebar di Nusantara,” katanya.

Indonesia menawarkan pengalaman sejarah berbeda dengan Asia Tengah karena perkembangan Islam Nusantara berlangsung melalui jaringan perdagangan Samudra Hindia, kerajaan-kerajaan Islam, ulama, pesantren, tasawuf, sastra dan proses interaksi panjang dengan kebudayaan lokal.

Karena itu, wisatawan dan akademisi Uzbekistan dapat mengunjungi situs Wali Songo di Jawa, kerajaan Islam di Aceh dan kawasan lain, pusat manuskrip, pesantren tradisional hingga universitas Islam untuk mempelajari bentuk lain perkembangan masyarakat Muslim.

BACA JUGA:  Gol Menit ke-6 Bawa Portugal Unggul, Ronaldo Ukir Sejarah di Piala Dunia 2026
Detail Samarkand–Crossroad of Cultures

Pertukaran tersebut sekaligus memungkinkan ilmuwan kedua negara membandingkan bagaimana Islam berkembang dalam lingkungan Asia Tengah yang berada pada jaringan Jalur Sutra daratan dengan Islam Nusantara yang bertumbuh melalui jaringan maritim Asia.

Perbandingan semacam itu berpotensi menghasilkan penelitian baru mengenai transmisi ilmu, jaringan ulama, manuskrip, perdagangan, tasawuf, pendidikan dan pembentukan masyarakat Muslim lintas kawasan.

Diplomasi Islam Kosmopolitan

Dampak sosial dari kerja sama tersebut menurut Prof. Rahim bahkan dapat lebih panjang daripada keuntungan ekonomi karena perjumpaan langsung membuat masyarakat kedua negara mengenal kehidupan, tradisi dan kebudayaan satu sama lain tanpa bergantung pada stereotip.

“Sebagai warga negara sekaligus guru besar dalam bidang sejarah dan peradaban Islam, tentu saya sangat gembira dan penuh haru mengetahui kerja sama ini akan dibina,” katanya.

Istilah Islam kosmopolitan yang digunakan Prof. Rahim menjadi penting karena sejarah Samarkand sendiri menunjukkan bahwa kemajuan peradaban lahir ketika manusia, ilmu dan kebudayaan dapat bergerak melintasi batas geografis.

BACA JUGA:  Kongo Vs Uzbekistan 3-1, Yoane Wissa Bawa Les Leopards Melaju ke 32 Besar

Islam dalam perspektif tersebut tidak ditempatkan sebagai kebudayaan yang tertutup, melainkan sebagai peradaban yang pernah berkembang melalui penerjemahan ilmu, perdagangan internasional, astronomi, kedokteran, matematika, arsitektur, sastra dan dialog lintas masyarakat.

Uzbekistan juga telah secara khusus membidik pasar Asia Tenggara melalui program “Umrah Plus dan Ziyorat Tourism”, termasuk kegiatan promosi di Jakarta pada 22–23 Juni 2026 yang dirancang untuk membangun kemitraan bisnis serta mempromosikan warisan spiritual Uzbekistan kepada pasar Indonesia.

Karena itu, penerbangan langsung apabila kelak terealisasi berpotensi menghasilkan efek berganda yang jauh melampaui penjualan tiket pesawat karena konektivitas dapat mempercepat arus wisatawan, investasi, perdagangan, pendidikan dan hubungan antarmasyarakat.

Teknologi dan Digitalisasi Warisan Islam

Prof. Rahim juga melihat peluang kerja sama dapat diperluas ke bidang teknologi, terutama digitalisasi manuskrip, dokumentasi situs sejarah, pengembangan museum digital, basis data hadis, pemetaan arkeologi dan teknologi konservasi bangunan bersejarah.

Perguruan tinggi Indonesia dapat bekerja sama dengan lembaga penelitian Uzbekistan untuk melakukan digitalisasi naskah Islam, pertukaran data sejarah dan pengembangan penelitian multidisipliner yang mempertemukan sejarah dengan arkeologi, filologi, teknologi informasi, arsitektur dan konservasi.

Teknologi juga dapat digunakan untuk membangun pengalaman wisata pendidikan melalui virtual museum, rekonstruksi tiga dimensi situs bersejarah, aplikasi pemandu multibahasa, arsip digital dan sistem informasi geografis yang memungkinkan generasi muda mempelajari sejarah secara interaktif.

BACA JUGA:  Prof Munawir: Andi Amran Sulaiman, Ketegasan yang Berakar, Kepedulian yang Berbuah

Namun, peningkatan wisata harus tetap memperhatikan konservasi karena UNESCO pada 2025 kembali meminta Uzbekistan menjaga nilai universal Samarkand di tengah pembangunan kota, proyek infrastruktur dan meningkatnya fasilitas pariwisata.

Dengan demikian, keuntungan ekonomi dari wisata tidak seharusnya mengorbankan warisan sejarah, melainkan justru menyediakan sumber daya untuk melindungi situs tersebut bagi generasi mendatang.

Indonesia Juga Memiliki “Laboratorium” Peradaban Islam

Prof. Rahim menegaskan pertukaran tersebut harus berlangsung dua arah karena masyarakat Uzbekistan juga dapat mempelajari bagaimana Islam berkembang secara khas di kepulauan Nusantara.

“Sebaliknya, pihak Uzbekistan dapat mengenal peninggalan budaya Wali Songo dan tempat-tempat pusat pendidikan serta pengajaran Islam yang tersebar di Nusantara,” katanya.

Indonesia menawarkan pengalaman sejarah berbeda dengan Asia Tengah karena perkembangan Islam Nusantara berlangsung melalui jaringan perdagangan Samudra Hindia, kerajaan-kerajaan Islam, ulama, pesantren, tasawuf, sastra dan proses interaksi panjang dengan kebudayaan lokal.

Karena itu, wisatawan dan akademisi Uzbekistan dapat mengunjungi situs Wali Songo di Jawa, kerajaan Islam di Aceh dan kawasan lain, pusat manuskrip, pesantren tradisional hingga universitas Islam untuk mempelajari bentuk lain perkembangan masyarakat Muslim.

BACA JUGA:  Menelusuri Jejak Islam di Tanah Luwu lewat Masjid Jami Tua Palopo
Detail Samarkand–Crossroad of Cultures

Pertukaran tersebut sekaligus memungkinkan ilmuwan kedua negara membandingkan bagaimana Islam berkembang dalam lingkungan Asia Tengah yang berada pada jaringan Jalur Sutra daratan dengan Islam Nusantara yang bertumbuh melalui jaringan maritim Asia.

Perbandingan semacam itu berpotensi menghasilkan penelitian baru mengenai transmisi ilmu, jaringan ulama, manuskrip, perdagangan, tasawuf, pendidikan dan pembentukan masyarakat Muslim lintas kawasan.

Diplomasi Islam Kosmopolitan

Dampak sosial dari kerja sama tersebut menurut Prof. Rahim bahkan dapat lebih panjang daripada keuntungan ekonomi karena perjumpaan langsung membuat masyarakat kedua negara mengenal kehidupan, tradisi dan kebudayaan satu sama lain tanpa bergantung pada stereotip.

“Sebagai warga negara sekaligus guru besar dalam bidang sejarah dan peradaban Islam, tentu saya sangat gembira dan penuh haru mengetahui kerja sama ini akan dibina,” katanya.

Istilah Islam kosmopolitan yang digunakan Prof. Rahim menjadi penting karena sejarah Samarkand sendiri menunjukkan bahwa kemajuan peradaban lahir ketika manusia, ilmu dan kebudayaan dapat bergerak melintasi batas geografis.

BACA JUGA:  Membumikan Nilai 400 Tahun Syekh Yusuf, Kaum Muda Sulsel Diajak Kedepankan Meritokrasi dan Spiritualitas Politik

Islam dalam perspektif tersebut tidak ditempatkan sebagai kebudayaan yang tertutup, melainkan sebagai peradaban yang pernah berkembang melalui penerjemahan ilmu, perdagangan internasional, astronomi, kedokteran, matematika, arsitektur, sastra dan dialog lintas masyarakat.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru