Di Makassar, jejak penghormatan terhadapnya juga hadir melalui sejumlah patung. Sosok Sultan Hasanuddin dapat ditemukan dalam bentuk monumen di Benteng Rotterdam, kawasan Pantai Losari, Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, serta di sekitar kompleks pemakamannya di Gowa.

Sebagai catatan, wajah yang terlihat pada patung-patung tersebut bukan hasil dokumentasi visual asli. Tidak terdapat gambar atau lukisan asli Sultan Hasanuddin yang masih tersisa, sehingga wajah pada patung merupakan hasil interpretasi atau karya seni.
Sementara itu, Jalan Sultan Hasanuddin membawa namanya ke tengah aktivitas kota.
Ruas sepanjang sekitar 1 kilometer tersebut mengarah menuju kawasan Pantai Losari dan berakhir di sekitar Taman Macan.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan mencatat Taman Macan berada di Jalan Sultan Hasanuddin dan menyimpan monumen yang berkaitan dengan perjuangan pemuda Makassar melawan kolonial Belanda.
Monumen tersebut didirikan pada 1985 dan memuat nama tokoh serta wilayah gerakan Laskar Harimau Indonesia.
Di ruas yang sama, Gelael menjadi salah satu penanda aktivitas perdagangan modern.
Gelael Supermarket tercatat beralamat di Jalan Sultan Hasanuddin No. 16 Makassar, yang ada sejak 1970.
Ada pula jejak visual dari masa lalu kawasan tersebut. Sebuah unggahan akun Instagram @perfectlifeid yang disebut dalam bahan dokumentasi menunjukkan seorang pria berpose dengan latar Gelael Supermarket dan Kentucky Fried Chicken.

Unggahan itu menyebut foto tersebut diambil pada 1985. Informasi ini menjadi salah satu gambaran kawasan Jalan Sultan Hasanuddin telah menjadi bagian dari aktivitas perkotaan Makassar sejak beberapa dekade lalu.

