Lingkungan pendidikan politik tersebut membentuk Hasanuddin menjadi pemimpin yang tidak hanya mengandalkan kekuatan militer.
Hasanuddin Menolak Monopoli VOC
Pada masa Sultan Hasanuddin berkuasa, Gowa berada dalam posisi strategis sebagai salah satu kekuatan maritim dan pusat perdagangan di kawasan timur Nusantara.
Posisi tersebut membuat Makassar menjadi wilayah penting bagi VOC. Perusahaan dagang Belanda itu berusaha mengendalikan perdagangan rempah-rempah dengan sistem monopoli.
Bagi Gowa, kebijakan tersebut bertentangan dengan prinsip perdagangan bebas yang selama ini menjadi bagian penting dari kekuatan ekonominya.
Sultan Hasanuddin menolak tuntutan VOC. Pemerintah Kabupaten Gowa mencatat bahwa pada masa pemerintahannya, kebebasan berdagang di laut lepas tetap menjadi garis kebijakan Gowa, sementara tekanan VOC terus meningkat.
Penolakan itu kemudian berkembang menjadi konflik terbuka.
VOC menyerang Makassar pada 1660, tetapi belum berhasil sepenuhnya menundukkan Gowa.
Beberapa tahun kemudian, konflik kembali membesar. Pada 1667, pasukan VOC di bawah pimpinan Cornelis Speelman datang bersama sekutu-sekutunya untuk menghadapi Gowa.
Perang tersebut membuat posisi kerajaan semakin terdesak. Setelah rangkaian pertempuran, Sultan Hasanuddin akhirnya menandatangani Perjanjian Bungaya pada 18 November 1667.

Perjanjian itu sangat merugikan Gowa dan memberikan keuntungan besar kepada VOC.
Namun, perjanjian tersebut tidak serta-merta mengakhiri perlawanan. Gowa kembali mengangkat senjata setelah melihat sejumlah ketentuan perjanjian merugikan kerajaan.
Pertempuran berlanjut hingga kekuatan VOC dan sekutunya berhasil menguasai Benteng Somba Opu pada 24 Juni 1669.

Perang Makassar akhirnya mengubah peta kekuasaan di Sulawesi Selatan. Perjanjian Bungaya menjadi penanda kekalahan Gowa dalam perang melawan VOC dan sekutunya, sekaligus membawa perubahan besar terhadap posisi politik Kerajaan Gowa.
Sultan Hasanuddin kemudian wafat pada 12 Juni 1670, dalam usia 39 tahun.

