Media Lokal Diminta Lepas dari APBD di Tengah Efisiensi

Alih-alih memusuhi platform, media lokal diminta memakainya sebagai alat distribusi, akuisisi audiens, dan pembangunan komunitas pembaca.

Suwarjono juga mendorong tiap media memiliki setidaknya tiga sampai empat sumber pendapatan dari lini berbeda agar bisnis tidak goyah saat satu keran pemasukan seret.

Di tengah persaingan dengan media nasional dan arus konten media sosial, ia melihat keunggulan media lokal justru ada pada kedekatan dengan tokoh, komunitas, isu, dan budaya setempat.

Ia menyoroti kebiasaan banyak media daerah yang masih mengejar topik seragam, sehingga persaingan berhenti pada adu cepat dan banyaknya jumlah unggahan.

“Misalnya di Makassar ada 50 media, tapi 80 persen kontennya sama. Makanya tidak naik-naik, kecuali kontennya jelas berbeda dengan konten umum. Nah, media nasional sulit menang di isu lokal yang mendalam, tokoh dan budaya lokal. Jadi media lokal harus menjadi official storyteller of the region,” papar Suwarjono.

AI, Niche, dan Audiens yang Lebih Jelas

Dorongan berubah itu dirasakan langsung peserta forum, termasuk pengelola portal Info Sulawesi, Toto Sudarmongi, yang melihat pemanfaatan kecerdasan buatan sebagai alat bantu kerja redaksi yang makin relevan.

BACA JUGA:  Pria di Makassar Ditangkap usai Diduga Perkosa Pacar di Hotel, Rekaman Dikirim ke Orang Tua Korban

Bagi Toto, materi tentang penggunaan AI, terutama NotebookLM, memberi gambaran konkret bahwa pengolahan informasi bisa dibuat lebih efisien tanpa menanggalkan prinsip jurnalisme.

“Melalui Local Media Summit, saya semakin memahami bagaimana memodifikasi dan mengembangkan berita dengan bantuan teknologi, terutama NotebookLM. Tampilannya lebih menarik, fiturnya lengkap, dan menurut saya sangat mudah diaplikasikan dalam pekerjaan sehari-hari di redaksi,” ungkap Toto.

Ia juga melihat penguasaan teknologi dan pemahaman atas karakter audiens membuka peluang kolaborasi yang lebih luas, termasuk dengan pemerintah daerah, melalui pengelolaan konten yang lebih spesifik dan berbasis komunitas.

Pandangan serupa datang dari pengelola Info Kota Makassar, Ibnu Munsir, yang menilai pertumbuhan media digital tak lagi cukup ditopang produksi konten massal.

Ia menyebut diskusi di Makassar itu menegaskan pentingnya mengenali pembaca secara lebih spesifik agar konten yang dibangun tidak sekadar ramai, tetapi juga punya peluang bisnis.

“Dari diskusi ini saya belajar bahwa penting menentukan sasaran audiens. Kalau kita tahu siapa pembacanya, kita bisa membuat konten yang lebih tepat dan punya peluang lebih besar untuk berkembang secara bisnis,” katanya.

BACA JUGA:  PSM Makassar Uji Stefan Baltic, Luka Bulatovic Makin Dekat Gabung Juku Eja

Alih-alih memusuhi platform, media lokal diminta memakainya sebagai alat distribusi, akuisisi audiens, dan pembangunan komunitas pembaca.

Suwarjono juga mendorong tiap media memiliki setidaknya tiga sampai empat sumber pendapatan dari lini berbeda agar bisnis tidak goyah saat satu keran pemasukan seret.

Di tengah persaingan dengan media nasional dan arus konten media sosial, ia melihat keunggulan media lokal justru ada pada kedekatan dengan tokoh, komunitas, isu, dan budaya setempat.

Ia menyoroti kebiasaan banyak media daerah yang masih mengejar topik seragam, sehingga persaingan berhenti pada adu cepat dan banyaknya jumlah unggahan.

“Misalnya di Makassar ada 50 media, tapi 80 persen kontennya sama. Makanya tidak naik-naik, kecuali kontennya jelas berbeda dengan konten umum. Nah, media nasional sulit menang di isu lokal yang mendalam, tokoh dan budaya lokal. Jadi media lokal harus menjadi official storyteller of the region,” papar Suwarjono.

AI, Niche, dan Audiens yang Lebih Jelas

Dorongan berubah itu dirasakan langsung peserta forum, termasuk pengelola portal Info Sulawesi, Toto Sudarmongi, yang melihat pemanfaatan kecerdasan buatan sebagai alat bantu kerja redaksi yang makin relevan.

BACA JUGA:  Pohon Tumbang Timpa Mobil Warga di Jalan Veteran Makassar

Bagi Toto, materi tentang penggunaan AI, terutama NotebookLM, memberi gambaran konkret bahwa pengolahan informasi bisa dibuat lebih efisien tanpa menanggalkan prinsip jurnalisme.

“Melalui Local Media Summit, saya semakin memahami bagaimana memodifikasi dan mengembangkan berita dengan bantuan teknologi, terutama NotebookLM. Tampilannya lebih menarik, fiturnya lengkap, dan menurut saya sangat mudah diaplikasikan dalam pekerjaan sehari-hari di redaksi,” ungkap Toto.

Ia juga melihat penguasaan teknologi dan pemahaman atas karakter audiens membuka peluang kolaborasi yang lebih luas, termasuk dengan pemerintah daerah, melalui pengelolaan konten yang lebih spesifik dan berbasis komunitas.

Pandangan serupa datang dari pengelola Info Kota Makassar, Ibnu Munsir, yang menilai pertumbuhan media digital tak lagi cukup ditopang produksi konten massal.

Ia menyebut diskusi di Makassar itu menegaskan pentingnya mengenali pembaca secara lebih spesifik agar konten yang dibangun tidak sekadar ramai, tetapi juga punya peluang bisnis.

“Dari diskusi ini saya belajar bahwa penting menentukan sasaran audiens. Kalau kita tahu siapa pembacanya, kita bisa membuat konten yang lebih tepat dan punya peluang lebih besar untuk berkembang secara bisnis,” katanya.

BACA JUGA:  Sengketa Lahan Rp18 Miliar Hambat Tribun Selatan Stadion Sudiang

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru