SulawesiPos.com – Media lokal diminta tidak lagi mengandalkan APBD sebagai penopang utama bisnis di tengah ancaman efisiensi anggaran pemerintah daerah, setelah perubahan perilaku pembaca, tekanan distribusi digital, dan kenaikan biaya operasional membuat model lama makin rapuh. Hal ini menjadi salah satu poin penting dalam diskusi Local Media Summit di Hotel Mercure Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu, 12 Agustus 2026.
Peringatan itu muncul ketika Pemimpin Redaksi Suara.com, Suwarjono, mendorong pengelola media daerah untuk bergerak cepat membangun strategi baru lewat kolaborasi, diversifikasi pendapatan, pemanfaatan platform digital, dan penguatan identitas konten lokal agar ruang redaksi tetap hidup di tengah badai efisiensi.
Di depan pengelola media lokal, Suwarjono menggambarkan tekanan industri yang kian berat dan menyebut kolaborasi antarorganisasi media sebagai langkah yang tak lagi bisa ditunda.
“Tantangan ke depan itu akan sangat berat. Makanya semua organisasi media yang sedang menghadapi isu sama yang berat ini kita ajak kolaborasi,” kata Suwarjono.
Ia menilai perubahan ekosistem tidak datang sepotong-sepotong karena teknologi, pembaca, platform distribusi, dan bentuk konten bergeser dalam waktu yang nyaris bersamaan.
Saat lanskap berubah secepat itu, ruang redaksi menurut dia tidak bisa lagi bertahan dengan pola kerja dan model bisnis yang lama.
“Perubahan saat ini cepat sekali. Pembaca, platform, teknologi, dan kontennya juga berubah. Kita mau tidak mau all out, membuat sisi kita juga harus berubah,” ujarnya.
Di tengah arus perubahan itu, Suwarjono menegaskan jurnalisme tetap harus dijaga, meski beban membiayai produksi berita kini terasa jauh lebih mahal.
Ia menggambarkan situasi ketika pendapatan yang dulu bisa menopang operasional redaksi kini tak lagi cukup untuk menutup ongkos produksi.
“Dulu jurnalisme menghidupi dan membiayai redaksi atau operasional. Sekarang mahal. Tidak bisa lagi menutupi biaya produksi, sementara pendapatan tidak mencukupi, sehingga jurnalisme hari ini kita yang membiayai,” jelasnya.
Saat APBD Tak Lagi Aman
Titik paling rawan bagi media lokal, menurut Suwarjono, terletak pada ketergantungan tinggi terhadap belanja pemerintah daerah yang di sejumlah wilayah masih mencapai 90 persen.
Ketergantungan itu membuat banyak media lokal rentan ketika pemerintah mulai memangkas anggaran publikasi karena kebijakan efisiensi.
Ia meminta pengelola media daerah berhenti menganggap APBD sebagai sumber pemasukan yang selalu tersedia dari tahun ke tahun.
“Jadi siap-siap saja mungkin beberapa daerah tak ada anggaran untuk media lagi. Tahun ini sudah kecil dan tahun depan kemungkinan tidak ada lagi,” tegasnya.
Tekanan di website juga ikut berubah karena trafik media besar tertekan perubahan algoritma, sementara media sosial justru tumbuh cepat di kalangan pembaca muda.
Gen Z, menurut dia, kini lebih akrab menyerap informasi dari Instagram dan TikTok ketimbang masuk langsung ke situs berita.
Alih-alih memusuhi platform, media lokal diminta memakainya sebagai alat distribusi, akuisisi audiens, dan pembangunan komunitas pembaca.
Suwarjono juga mendorong tiap media memiliki setidaknya tiga sampai empat sumber pendapatan dari lini berbeda agar bisnis tidak goyah saat satu keran pemasukan seret.
Di tengah persaingan dengan media nasional dan arus konten media sosial, ia melihat keunggulan media lokal justru ada pada kedekatan dengan tokoh, komunitas, isu, dan budaya setempat.
Ia menyoroti kebiasaan banyak media daerah yang masih mengejar topik seragam, sehingga persaingan berhenti pada adu cepat dan banyaknya jumlah unggahan.
“Misalnya di Makassar ada 50 media, tapi 80 persen kontennya sama. Makanya tidak naik-naik, kecuali kontennya jelas berbeda dengan konten umum. Nah, media nasional sulit menang di isu lokal yang mendalam, tokoh dan budaya lokal. Jadi media lokal harus menjadi official storyteller of the region,” papar Suwarjono.
AI, Niche, dan Audiens yang Lebih Jelas
Dorongan berubah itu dirasakan langsung peserta forum, termasuk pengelola portal Info Sulawesi, Toto Sudarmongi, yang melihat pemanfaatan kecerdasan buatan sebagai alat bantu kerja redaksi yang makin relevan.
Bagi Toto, materi tentang penggunaan AI, terutama NotebookLM, memberi gambaran konkret bahwa pengolahan informasi bisa dibuat lebih efisien tanpa menanggalkan prinsip jurnalisme.
“Melalui Local Media Summit, saya semakin memahami bagaimana memodifikasi dan mengembangkan berita dengan bantuan teknologi, terutama NotebookLM. Tampilannya lebih menarik, fiturnya lengkap, dan menurut saya sangat mudah diaplikasikan dalam pekerjaan sehari-hari di redaksi,” ungkap Toto.
Ia juga melihat penguasaan teknologi dan pemahaman atas karakter audiens membuka peluang kolaborasi yang lebih luas, termasuk dengan pemerintah daerah, melalui pengelolaan konten yang lebih spesifik dan berbasis komunitas.
Pandangan serupa datang dari pengelola Info Kota Makassar, Ibnu Munsir, yang menilai pertumbuhan media digital tak lagi cukup ditopang produksi konten massal.
Ia menyebut diskusi di Makassar itu menegaskan pentingnya mengenali pembaca secara lebih spesifik agar konten yang dibangun tidak sekadar ramai, tetapi juga punya peluang bisnis.
“Dari diskusi ini saya belajar bahwa penting menentukan sasaran audiens. Kalau kita tahu siapa pembacanya, kita bisa membuat konten yang lebih tepat dan punya peluang lebih besar untuk berkembang secara bisnis,” katanya.

