“Dia bicara dengan lantang, dengan berani, dengan jujur, dengan polos, dan dengan data,” ujarnya.
Semuel juga mengaku tidak pernah menyuruh anaknya untuk bertanya atau mengkritik soal harga beras di hadapan pejabat negara.
Menurut dia, keberanian itu muncul spontan dari diri Adriano sendiri. Ia menyebut putranya memang punya kebiasaan memikirkan problem sosial dan mencari jalan keluarnya lewat diskusi, membaca, dan belajar mandiri.
“Saya dan istri (Ady Irma Rtebana) tidak pernah suruh dia omong begitu. Makanya saya heran,” kata Semuel.
Respons cepat setelah dialog dengan Mentan
Hal yang membuat Semuel semakin terharu adalah respons cepat yang ia lihat setelah dialog tersebut. Menurut dia, masalah yang disampaikan Adriano tidak berhenti sebagai percakapan di forum kampus. Ada tindak lanjut yang langsung terasa di lapangan.
“Pertama saya berterima kasih kepada Menteri, karena dia langsung merespons. Saat itu juga dia langsung eksekusi,” ujar Semuel.
Ia menuturkan, sekitar satu jam setelah respons itu, penjualan beras murah mulai terlihat di lapangan, salah satunya di Desa Lembur Barat. Semuel menyebut harga beras kemasan lima kilogram yang sebelumnya Rp65.000 turun menjadi Rp57.000.
Perubahan itu, menurut dia, menjadi bukti bahwa keluhan warga Alor tentang mahalnya beras benar-benar didengar.
Dalam dialog sebelumnya, Mentan Andi Amran Sulaiman juga memerintahkan pengiriman beras ke Alor dan meminta harga beras dijaga di level Rp12.500 per kilogram sesuai arahan pemerintah.
Semuel berharap langkah tersebut tidak berhenti pada satu momentum, tetapi berlanjut hingga wilayah terpencil yang selama ini belum selalu menikmati distribusi pangan secara merata.
Di tengah perhatian publik yang kini tertuju kepada Adriano, Semuel justru memberi pesan sederhana kepada putranya: jangan berubah karena viral. “Intinya itu jangan sombong, dan ingat berdoa,” katanya.

