Euforia itu tidak bertahan lama karena harga saham kemudian turun hingga sekitar US$116, atau hampir 50 persen di bawah posisi tertingginya dan sekitar 14 persen lebih rendah daripada harga IPO.
Saham SpaceX sebenarnya menguat lebih dari sembilan persen menjelang pengumuman kinerja kuartalan, tetapi kembali jatuh setelah investor membaca besarnya kebutuhan modal perusahaan.
Tekanan tambahan dapat muncul ketika masa penguncian saham berakhir dan orang dalam perusahaan memperoleh kesempatan menjual kepemilikannya ke pasar.
Masuknya SpaceX ke indeks Nasdaq 100 memang membuka peluang sahamnya dibeli oleh dana pensiun dan produk investasi pasif, tetapi peningkatan pasokan saham tetap berpotensi memperbesar volatilitas harga.
Kekayaan Musk dan Ujian Profitabilitas
Pergerakan saham SpaceX berpengaruh langsung terhadap kekayaan Elon Musk karena ia diperkirakan menguasai sekitar 40 persen saham perusahaan.
Forbes mencatat kekayaan Musk sempat mencapai US$1,45 triliun setelah IPO sebelum menyusut menjadi sekitar US$725,9 miliar ketika saham SpaceX dan Tesla sama-sama melemah.
Perubahan itu menunjukkan bahwa nilai kekayaan berbasis saham tidak sama dengan uang tunai karena dapat naik atau turun secara drastis mengikuti persepsi pasar.
Dari sudut pandang ekonomi inovasi, kerugian SpaceX belum otomatis menunjukkan kegagalan karena perusahaan teknologi berintensitas modal memang memerlukan investasi besar sebelum mencapai skala produksi yang menguntungkan.
Namun, pertumbuhan pendapatan hanya akan bermakna apabila Starlink mampu mempertahankan pelanggan, pengembangan Starship menghasilkan kemajuan teknis, dan investasi kecerdasan buatan menciptakan keuntungan nyata.
Laporan perdana ini akhirnya memperlihatkan dua wajah SpaceX sekaligus, yakni perusahaan teknologi dengan pertumbuhan luar biasa dan kerajaan bisnis berbiaya sangat mahal yang masih harus membuktikan bahwa ambisi menaklukkan ruang angkasa serta kecerdasan buatan dapat menghasilkan laba. (Ali)

